5

Anak memanipulasi Orangtua? kenapa tidak..?

Seringkali kita merasa jengkel jika anak anak sudah mulai bicara bohong atau tidak sesuai kenyataan. Misalnya ; ketika anak itu diberi tahu dan dia marah. Kemudian dia mengatakan kepada orang lain bahwa orang yang menasehatinya itu sedang memarahinya. Atau berlaku galak. Yang akhirnya kita harus beradu argumen dengan orangtuanya atau dengan orang lain yang sudah mendengarkan anak itu dan menelan mentah mentah keterangannya.

Pernahkah mendapatinya hal sama seperti cerita diatas ..?  anak memanipulasi..? memang bisa..?

Anak belajar memanipulasi sejak ia berusia 6 bulan atau setelah ia mampu memahami orang lain dengan terbatas. Manipulasinya pun juga terbatas. Hanya menangis untuk menolak atau menerima sesuatu. Dan itu akan terus meningkat seiring usianya ketika kita tidak bijak dalam mengatasinya. Semakin melaju usianya, maka kemapuan memanipulasinya juga semakin canggih, semakin kreatif tergantung orangtuanya.

Apakah orangtua menyadari, jika terkadang anak anak suka berusaha memanipulasi kita orangtuanya agar akhirnya mau memenuhi keinginannya? Ada saja caranya yang membuat kita mengalah dalam upaya negosiasi mereka agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Atau membuat kita menjadi ilfeel dengan pasangan kita, atau orang orang lain disekitar kita..?

Taktik manipulasi seperti ini tentu saja bisa menghambat pendidikan karakter yang sedang diberikan oleh kita. Ya, anak memang bisa sepintar itu hingga bisa memanipulasi orangtua, tanpa dia sadar bahwa usahanya itu bisa merugikan dirinya sendiri di kelak kemudian hari.

Apa saja taktik manipulasi oleh anak yang perlu kita waspadai ini?

1. Merengek

Anak-anak memang kadang begitu cerdas untuk bisa mengerti, bahwa orangtuanya merasa tak nyaman, risih atau malu saat mereka merengek, apalagi di depan orang banyak atau di tempat umum. Dan, saat kita bujuk atau alihkan perhatiannya, bisa jadi berakhir dengan dua kemungkinan. Si anak akan teralihkan perhatiannya dengan sukses, atau malah makin menjadi rengekannya. Dan, akhirnya, tantrum.

2. Menjilat

Jika merengek berefek perasaan tak nyaman pada orangtua, menjilat akan membuat orangtua justru merasa senang, dan kemudian mengabulkan apa saja yang diminta   dan percaya saja perkataan si anak.

Coba perhatikan situasi berikut.

anak berkata pada anda, “pa, tadi mama marah sama aku deh, aku nggak boleh ini dan itu. padahal kan sama papa boleh ya..? papa memang yang terbaik. beda sama mama’ dan akhirnya, papa akan bertanya ‘ gitu ya..?’ dan besoknya si papa akan bertanya pada mama dan mama akan menjelaskan, namun karena sudah terbawa perkataan dari si anak diatas, maka papa jadi marah ketika mama menjelaskan duduk perkaranya.

Perilaku seperti ini bisa jadi merupakan perilaku yang dicontohnya dari apa yang kita lakukan. Barangkali selama ini, kita tidak satu kata dan berseberangan ketika membicarakan tentang anak. Para ahli menyatakan, taktik memanipulasi yang satu ini lebih sulit diatasi karena akan timbul rasa tidak nyaman pada orangtua.

3. Mencari belas kasihan

“ayah bukan ayahku. ayah kan cuma sayang sama Adik!”

Apakah pernah mendengar perkataan seperti itu dari anak-anak?

Itulah taktik manipulasi yang diharapkan bisa menimbulkan rasa kasihan dan rasa bersalah pada kita, orangtuanya. Taktik ini dilakukan anak agar orangtuanya jadi nggak tahan dan akhirnya mau menuruti keinginannya. Anak berperilaku seolah-olah dialah “korban” dari “kekejaman” orangtua, padahal sebenarnya dia tahu banget kalau orangtuanya sangat menyayangi dia sehingga, tentunya, nggak ingin dia terluka perasaannya.

4. Marah

Marah dan ngambek sebenarnya adalah sangat wajar. Ini adalah perilaku yang paling banyak muncul pada anak jika orangtua tak mau menuruti keinginannya. Anak-anak balita akan mengalami temper tantrum, berguling-guling, menangis hebat, berteriak, bahkan mungkin menyakiti dirinya sendiri.

Tak jarang akhirnya orangtua menyerah, karena usahanya untuk menenangkan si anak tak membuahkan hasil. Apalagi kalau ini dilakukan si anak di tempat umum ya. Kebanyakan dari kita, biasanya akan merasa malu, dan anak tahu banget lho, kalau kita nggak suka.

5. Mengancam

“Aku nggak mau makan, kalau nggak beliin aku mainan!”

Pernah diancam seperti itu oleh anak-anak ? Jika pernah, lebih baik lihat kembali apakah ancaman tersebut merupakan manipulasi karena pengaruh orang lain? Atau mungkin karena dia sering melihatnya di televisi? Ataukah, dia benar-benar tak bahagia?

Jika dia baik-baik saja di sekolah, juga kondisi keluarga aman dan nyaman, berarti itu hanya taktik manipulasinya saja. Orangtua bisa mengabaikannya, atau membicarakan hal ini dengannya.

6. Taktik Fisik

Ada anak yang menyerang dan mengintimidasi orangtua secara fisik jika keinginannya tak terpenuhi. Cara ini bisa kita anggap wajar jika dilakukan oleh anak yang belum mempunyai keterampilan menyampaikan keinginan lewat komunikasi langsung. Namun, akan lain persoalan jika yang melakukannya adalah anak-anak yang sudah memiliki kemampuan berbahasa. Jika sekali saja dia mendapatkan apa yang dia mau dengan cara ini, maka pasti lain kali akan dicobanya lagi. Hati-hatilah! Jika hal ini menjadi parah di suatu hari, ada baiknya Orangtua minta bantuan juga pada orang yang ahli.

Semua taktik manipulasi di atas dilakukan oleh anak-anak agar orangtuanya luluh dan membiarkan anak berperilaku semau mereka.

Apalagi cara-cara yang dapat anak lakukan untuk berusaha memanipulasi orang tua? Tentu masih banyak lagi. Yang perlu Anda lakukan adalah menanggapinya dengan sebijaksana dan selembut mungkin. Pahami anak-anak Anda. Jelaskan dengan penuh kasih mengapa terkadang peraturan yang Anda berikan terkesan terlalu mengekang dan membatasi kebebasan mereka, tetapi semua itu hanya demi kebaikan mereka. Ingatlah bahwa Anda pernah muda dulu dan Anda pernah melakukan hal serupa kepada orang tua Anda sendiri. Ingatlah untuk selalu menjadi orang tua yang tegas namun penuh kasih, maka anak-anak Anda akan sangat bersyukur telah memiliki orang tua seperti Anda

Tapi tak perlu khawatir, karena ilmu parenting sekarang sudah berkembang dan sudah banyak ahli memberikan teknik-teknik jitu agar bisa membantu orangtua untuk mengatasi perilaku-perilaku buruk pada anak yang mungkin timbul. Orangtua bisa mengajaknya ngobrol, memberinya pengertian, atau, jika sudah kenal, orangtua bisa menggunakan teknik timeout untuk anak-anak yang berusia 5 tahun ke atas.

Yang pasti, memang harus sabar jika ingin mengubah kebiasaan atau perilaku buruk anak ini. Nggak bisa cuma dilakukan sekali, kemudian pada hari berikutnya mereka sudah hilang kebiasaan buruknya. Orangtua harus siap untuk menegurnya berulang kali, mengajaknya berbicara setiap saat.

#parenting #mendidik_anak #pola_asuh #anak_memanipulasi #anak_anak

 

Advertisements
0

Drama Queen…

Sepintas terdengarnya memang lucu. Tapi itu yang terjadi pada anak anak ketika mereka merasa tidak nyaman. Dan jangan salah, drama queen ini memang selalu dilakukan dan akan terus dilakukan ketika mereka menginginkan sesuatu. Bahkan dalam keadaan sangat nyaman sekalipun.

Lho koq bisa?

Ya bisa aja. Anak anak yang biasanya selalu dituruti ketika meminta sesuatu dan jarang ditolak, akan melakukan hal seperti itu. pertama untuk mendapatkan perhatian dari orangtua dan lingkungan, dan yang berikutnya adalah karena terbiasa terpenuhi semua keinginan. Anak anak seperti itu akan menangis bertambah keras ketika orang disekelilingnya tidak mau mengabulkan permintaannya.

 

 

0

Anak adalah subject dan Bukan object ego orangtua

mari renungkan ini,

jika aku menginginkan anakku mengerti banyak hal, maka aku akan berlatih bersamanya untuk belajar mendengarkan dan memahami persoalan..
jika aku menginginkan ia mempercayaiku, berarti aku harus mulai melatih diriku untuk berbicara dengan maksud yang benar dan baik agar anakku memahaminya..
jika aku menginginkan anakku percaya diri, berarti aku harus melatih diriku mengatakan yang benar dan memujinya dengan tulus jika ia bisa melakukan sesuatu dengan baik, benar dan cara yang benar..
jika aku menginginkan anakku menjadi dirinya sendiri, berarti aku harus menahan egoku untuk mencampuri urusannya, kecuali jika ia meminta advis dan dukunganku..
membiarkan mereka tumbuh dengan benar itu butuh perjuangan dan juga kekuatan untuk menekan ego sebagai orang dewasa yang merasa tahu banyak hal..

Di daycare begitu banyak cerita yang bisa dibagi tentang orangtua maupun anak anak yang dititipkan. Ada orangtua yang sangat care terhadap anaknya dan mempercayakan pada daycare pengasuhan dan pendidikan dasarnya (karena dititipkan dari bayi) dan ada juga orangtua yang sekedar menitipkan karena tidak mau kegiatannya terganggu oleh kehadiran anak anaknya.

Kali ini aku akan bercerita tentang Harry, anak laki laki usia nyaris 2 tahun. Orangtuanya sudah pernah ingin mencoba trial di daycareku beberapa waktu lalu. Namun aku tolak. Karena daycare penuh. Dan setelah 4 bulanan, mungkin aku sudah melupakannya, orangtua kembali menghubungi untuk trial.

Akhirnya anak di trial hari itu. Pagi pagi, anak itu datang bersama ayahnya. Dan sang ayah bercerita. Umumnya orangtua, akan mengatakan bahwa anaknya begini dan begitu. Pernah dititipkan di beberapa daycare yang lain dan tidak cocok. Dengan berbagai alasan. Dari mulai daycarenya yang gurunya minim, samapai guru tak berpengalaman. Dari anaknya yang mudah beradaptasi namun tidak terpegang dengan baik.

Ketika di trial, aku selalu menyampaikan berulang kepada setiap orangtua yang akan menitipkan anaknya. Bahwa anak itu bukan barang. Jadi tidak sembarang titip, tapi daycare adalah tempat penitipan sekaligus mitra orangtua untuk pengasuhan anaknya.

Cerita berlanjut. Dan begitu ditinggal oleh papanya, seperti umumnya anak anak yang ditinggal di tempat baru, maka ia akan menghadapi sendiri semuanya. Mulai beradaptasi. Mulai menangis dengan keras, membanting semua yang dipegang. Termasuk botol susunya. Aku menunggu dan juga mengamati apa saja yang ingin dia lakukan. Mulai berguling. Dan menunjukkan siapa dirinya. Dan akhirnya tertidur karena kelelahan.

Anak anak begitu rapuh. Ia tidak bisa begitu saja seperti orang dewasa. Yang begitu pindah kerja langsung bisa beradaptasi dengan tempat baru. Anak anak berbeda sekali. Ia masih harus beradaptasi dengan tempat baru dengan lebih lama, karena meman kemampuannya belum seperti orang dewasa. Tampaknya itulah yang terjadi dengan Harry di hari ini.

 

0

Kemandirian anak usia 1-3 tahun

Anak anak berusia 1 – 3 tahun adalah anak anak yang suka bereksplorasi, lekas sekali mengelola informasi dan menelan mentah mentah apa yang didengar maupun yang dicontoh dari orang lain. Anak anak ini adalah anak dalam taraf golden age yaitu usia emas pertumbuhan. Biasanya anak anak seusia ini masih mudah untuk diberitahu atau diberikan stimulasi.

Di usia ini, anak anak dengan golden age ini pun sebenarnya dikategorikan sebagai anak anak yang mandiri. Artinya ; seharusnya sudah bisa melakukan aktifitas sendiri. Bermain, bersosialisasi dan juga bergerak. Orangtua pada masa ini bisa meletakkan pondasi terukur untuk pertumbuhan anak anak sesuai usianya untuk masa yang akan datang. Misalnya mengajarkan kemandirian, membiarkan untuk berpikir kritis, untuk bergerak aktif dan tidak menakut nakut dengan sesuatu yang diluar jangkauan pemikiran anak.

Kemandirian anak usia ini ditandai dengan :

  1. tidak menangis ketika ditinggalkan oleh orangtuanya bekerja
  2. bisa melakukan komunikasi dengan baik dan lancar terhadap anggota keluarga
  3. berani berbicara baik dengan bahasa isyarat maupun dengan bahasa verbal kepada orang lain
  4. mau melakukan aktifitas dan mencoba aktifitas baru dengan gembira
  5. mau melakukan atau belajar toilet training sesuai usianya.
0

Siapkah anak masuk daycare ? bagian (2)

Masih melanjutkan tulisan yang lalu

Anak anak umumnya senang berada di tempat baru. Bertemu teman baru dan bertemu hal baru. Namun untuk anak anak tertentu dan yang berkebutuhan khusus, perlakuan bisa jadi mau tidak mau harus berbeda.

Beberapa kasus di daycare, anak anak yang menangis dan tantrum di hari pertama biasanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman. Atau terbiasa untuk selalu bersama dan diperlakukan dengan ‘manja’ seperti orangtua pada umumnya. Orangtua lupa mengajarkan kemandirian pada anak dirumah.

Yang harus disadari orangtua, bahwa di daycare anak anak akan sepanjang hari disana. Bermain, belajar, beristirahat bahkan juga membersihkan diri disana. Dan ada kemungkinan anak akan terpapar hal hal dan pergaulan dengan anak anak didaycare. Terlepas itu hal baik dan buruk. Anak anak adalah penerima contoh dan peng adop contoh yang sangat baik dalam sebuah komunitas.

Sehingga jauh jauh hari sebelum anak dimasukkan ke daycare, orangtua diharuskan menimbang kembali keputusannya memasukkan anaknya ke daycare. Karena pada dasarnya daycare hanyalah mitra orangtua untuk memberikan pengasuhan sementara ketika anak anak tidak berada dalam pengawasan orangtua.

Jadi yang harus diingat oleh orangtua ketika anak anak akan dititipkan ke daycare adalah;

  1. kesiapan orangtua melepas anaknya
  2. kesiapan anak meninggalkan kenyamanan sementara
  3. kesiapan anak untuk tinggal lebih lama dengan nyaman di suatu tempat.

Mengapa begitu ? ketika orangtua tidak siap, artinya setengah hati melepaskan anak anaknya, maka anak anak akan merasa tidak nyaman dan merasa gelisah. Anak anak harus diberikan pemahaman sebelum ke daycare, bahwa ayah dan ibu tidak berada didekatnya untuk waktu waktu tertentu. Sehingga anak harus berada di daycare. Pemahaman itu harus disampaikan ke anak agar anak menyadari dan tidak merasa ditinggalkan atau dibohongi oleh orangtuanya ketika sang anak berada di daycare.

begitulah.. siap atau tidak siap, orangtua juga harus andil dalam kesiapan anaknya ketika harus masuk ke daycare.

0

Siapkah anak masuk daycare?

Suatu saat daycare kedatangan tamu yang berusia 3 tahun 7 bulan. Seorang anak perempuan yang cantik. Ketika wawancara awal, ia ingin sekali di daycare karena memang pada saat itu banyak teman. Wawancara kedua di hari berikutnya, ia mulai menampakkan ke engganannya untuk masuk. Hanya mau ditemani oleh ayahnya. Kebetulan memang ayahnya yang mengantar. Dan ditemani berkenalan, bermain sebentar dan duduk. Tapi selalu sebentar sebentar kembali ke ayahnya, seperti orang yang takut ditinggalkan. Anak yang merasa tidak nyaman.

Akhirnya sang ayah bercerita tentang anaknya. Yang memang sangat dekat dengannya. Sehari hari bersama dia. Dan kali ini sang ayah mendapatkan pekerjaan yang pantas dan kebetulan harus setiap hari masuk. Maka si anak cantik itu yang kita sebut namanya ‘Cantik’ harus mau tidak mau dititipkan ke daycare. Karena menurut pertimbangan orangtua, sang anak sudah seharusnya ada disana.

Cantik baru saja mendapat adik beberapa bulan yang lalu. Karena kedua orangtuanya bekerja maka adiknya juga harus dititipkan di rumah nenek, sementara cantik di titipkan di daycare mengingat usianya dan keterbatasan neneknya mengasuh. Begitulah.

Akhirnya cantika dititipkan di daycare keesokan harinya. Hari pertama, ia meronta ronta dan menangis karena langsung ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya. Setelah dibujuk baru ia mau tenang kembali. Siang hari ia tidak mau makan bahkan tidak mau tidur siang. serba tidak mau. Tibalah saat mandi sore, cantik masih menangis meminta untuk dijemput ayahnya. Dan ia mau menunggu ketika diberi tahu alasannya.

Ayahnya datang ia tiba tiba menangis kembali. akhirnya kami mengobrol pendek. Sepertinya sang anak belum siap untuk di daycare. Tapi menurut penuturan sang ayah, cantik ini sudah pernah masuk sekolah usia dini sebelumnya. Namun memang sulit beradaptasi dengan teman – temannya.

Anak anak yang kurang nyaman berada di daycare itu biasanya dengan banyak sebab  misalnya :

  1. Kurang nyaman atau belum terbiasa di tempat baru
  2. Belum waktunya bersosialisasi dengan banyak teman
  3. Belum bisa meninggalkan zona nyaman dirumah
  4. Merasa ditinggalkan atau di abaikan

Kurang nyaman atau belum terbiasa itu karena merasa yang dilakukan itu sebuah keharusan. Jadi sebenarnya anak nggak mau untuk pergi, tapi terpaksa harus pergi meningglakan zona nyamannya dirumah. Atau karena orangtua harus bekerja jadi anak mau nggak mau harus mau ditinggalkan. Hal itu bisa jadi lupa dibicarakan dengan anak, atau dinegosiasikan dengan anak. Sehingga saat itu yang terjadi adalah anak anak memberontak. Dengan caranya seperti kanak kanak. Menangis.

yang ke dua karena belum waktunya bersosialiasi. Setiap anak memiliki rentang usia untuk bersosialisasi yang berbeda beda satu sama lain. Tergantung pada lingkungannya. Nah si Cantik ini mungkin baru sebatas bersosialisasi baru dengan keluarga. Jarang bermain dengan teman sebaya. atau mungkin pernah bermain bersama, namun pas kesenth ngambek sehingga banyak teman kesulitan mendekati dia.

Yang ketiga belum bisa meninggalkan zona nyaman di rumah, yaitu zona kedekatan dengan orangtua dan kenyamanan semua ada dirumah.

Berikutnya merasa diabaikan, lebih ke arah kecemburuan kepada sang adik yang selalu ada disisi orangtua. Karena ketika si cantik ditinggalkan dalam keadaan ibu masih membawa adik. Jadi si cantik merasa orangtua tidak menyayanginya. sehingga si cantik menangis sepanjang hari di daycare, tidak mau dibujuk atau bahkan diajak bicara. Karena memang dirumah tidak ada komunikasi tentang ini sebelumnya.

0

Kemandirian anak usia 0 – 12 bulan

Di daycare, anak anak berlatih mandiri. Tidak menangis ketika ditinggalkan dan gembira bermain. Untuk usia 0 – 12 bulan, beberapa anak awalnya akan tantrum ketika ditinggalkan, menangis keras karena sudah terbiasa menangis sebagai senjata. dan itu akan berlangsung beberapa hari tergantung kesiapan si anak untuk beradaptasi. Pada bayi menjadi lebih mudah beradaptasi jika dalam keadaan perut kenyang, merasa aman dan ada teman bermain.

Melatihkan kemandirian tidak serta merta sehari dua hari selesai, namun membutuhkan banyak proses panjang. Salah satunya adalah mensugesti anak untuk merasa nyaman ditempat baru. Memainkan mimik baik baik saja ketika meninggalkan anak. sehingga anak merasa aman. Melatihkan kemandirian ke anak anak harus dengan sabar dan tidak emosional. Karena biasanya anak aakan menangis keras, kemudian akan muntah, pura pura batuk batuk atau bahkan mengompol jika tidak menggunakan diapers.