0

Fokus Pengembangan Sesuai Usia Anak

Taman Penitipan Anak Little White Rabbits  memiliki beberapa fokus pengembangan pendidikan pada masing-masing tingkat usia anak. Sebagai gambarannya adalah :

  1. Usia 0 – 12 bulan, fokus stimulasi pada hampir seluruh aspek perkembangan, utamanya fisik, bahasa, kognitif, dan prilaku. Dalam usia ini focus pengembangannya adalah kemampuan fisiknya, terutama pada pematangan organ-organ pancainderanya. Aspek bahasa anak usia ini masih pada pengembangan perbendaharaan kata dan penggunaan kata sederhana, memperkenalkan kata dengan benda secara bertahap. Dalam aspek kognitif usia ini hanya sebatas mengembangkan logika sederhana anak. Aspek prilaku pada usia ini hanya mengenalkan pada prilaku yang diterima lingkungan dan yang tidak bisa diterima lingkungan yang ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari., seperti ucapan terimakasih, salam, maaf, minta tolong.
  2. Usia 1 – 3 tahun, fokus utama stimulasi pada usia ini adalah pengembangan prilaku dan  pengembangan motorik berupa keterampilan-keterampilan akademik ( corat-coret, gerakan memukul, lompat, lari, memegang barang, menggambar) dan kehidupan praktis (mandi, berpakaian, menyapu lantai, ngepel, mencuci, memakai sepatu-sandal). Menginjak usia 3 tahun anak sudah dapat mengembangkan fantasinya, pendidik dapat menstimulasinya dengan kegiatan bermain peran. Anak usia ini juga harus sudah mulai dilatih untuk mengatasi frustasinya melalui berbagai aktivitas yang ada dalam program kegiatan.
  3. Usia 4 – 6 tahun, adalah usia anak yang berada di prasekolah, yaitu Play Group/Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (TK). Sehingga program stimulant disesuaikan kurikulum/program KB dan TK.

Bagi anak anak yang mengikuti kegiatan Half Day Care, misalnya karena pulang dari sekolah tidak ada yang dirumah, rumah kosong atau karena orang tua kebetulan bepergian kegiatan bisa dilakukan bersama sama dengan yang lainnya.

 

Advertisements
0

Penyebab Anak Mogok Sekolah

Bila si kecil tiba-tiba mogok pergi sekolah, jangan dulu marah. Bisa jadi dia punya alasan tertentu. Nah, kenali 9 alasan yang biasa menjadi penyebab si kecil malas pergi sekolah.
1. SAKIT
Ini merupakan penyebab yang paling sering. Bila biasanya dia sangat bahagia pergi ke sekolah, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dia rewel dan inginnya selalu digendong atau menjadi tergantung pada orang tua. Bisa jadi karena dia sedang tak enak badan. Biarkan saja untuk sementara anak tak masuk sekolah. Begitu tuibuhnya sudah mulai enakan, perasaan si kecil pasti juga akan membaik dan ia pun akan kembali bersemangat masuk sekolah
2. TAKUT PADA PENGGANGGU
Rasa takut pada temannya yang “jahat” umumnya terjadi pada anak yang sensitif. Anak seperti ini biasanya menjadi korban dari anak yang lebih dominan dan “kuat” di sekolahnya. Akibatnya, orang tua pun seringkali dibuat bertanya-tanya kenapa anaknya jadi ketakutan seperti itu. Terlebih bila anak jarang menceritakan pengalamannya yang terjadi di sekolah.
Coba bicaralah pada gurunya. Guru biasanya lebih mengatahui latar belakang kenapa anak didiknya tiba-tiba jadi agresif dan “nakal,” atau ketakutan. Bisa jadi, mereka punya masalah di keluarganya, entah karena kekacauan perkawinan orangtuanya atau kelahiran adik baru. Anak seringkali tidak mampu mengatasi hal-hal demikian, sehingga sebagai pelampiasannya dia melakukan pemukulan dan agresivitas di sekolahnya.
Anda sebaiknya juga membesarkan hati si kecil bahwa musuh yang kelihatan besar pun tidak sekuat yang diperlihatkannya. Selain itu, yang perlu dilakukan juga adalah mencoba mengatasi ketakutan dan kekhawatiran si kecil. Dengan demikian, ketakutannya akan mereda. Minta pula bantuan guru untuk mengatasi “pengganggu” dengan cara yang bijak.
3. PUTUSNYA PERSAHABATAN
Anak-anak biasanya akan merasa lebih baik jika berada dalam satu grup dengan teman-temannya. Mereka akan bermain, duduk dan makan siang bersama-sama, melakukan banyak hal bersama. Jadi, tak heran jika dalam banyak hal, mereka kelihatan tak bisa dipisahkan. Namun, “persahabatan” mereka ini tak selamanya langgeng. Ada kalanya, ada satu anak yang harus keluar dari grup tersebut. Si kecil yang ‘tersingkir” ini biasanya akan duduk sendirian di pojok, sementara teman-teman lainnya melakukan permainan lainnya tanpa mengikutsertakan dirinya. Tentu ini akan menyakitkan hati si kecil. Tak heran bila ia akhirnya tak lagi bersemangat pergi ke sekolah.
Sebagai orang tua, ada baiknya meminta bantuan guru di sekolah untuk membujuk si kecil agar mau kembali bersekolah. Gurulah yang bisa menjembatani kembali persahabatan si kecil dengan teman-teman sepermainannya kembali.
4. TAK MAU LEPAS DARI IBU
Ini persoalan klasik yang sering terjadi dan kerap terjadi pada ibu yang tinggal di rumah ataupun bekerja di rumah. Lain halnya jika si ibu secara teratur pergi bekerja, si kecil akan segera menyadari bahwa permohonannya agar si ibu berada di rumah tidak berhasil. Jika si ibu di rumah, dia seringkali kalah dalam melawan “kemauan” anaknya ini. Si ibu tidak berhasil meyakinkan si kecil bahwa pergi ke sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan. Si kecil tetap saja ingin selalu bersama ibunya.
Hanya konsistensilah yang dapat mengatasi hal ini. Jangan biarkan diri Anda dimanipulasi oleh si kecil, entah cuma sekali maupun untuk selanjutnya. Si kecil akan melakukan “strategi” baru begitu Anda membawanya kembali ke sekolah setelah beberapa hari “bolos.” Sebelum Anda merasa menjadi ibu yang kejam gara-gara si kecil selalu menangis begitu Anda tinggal pergi, Anda bisa minta bantuan suami atau kerabat untuk mengantar anak ke sekolah.
5. KEDATANGAN ADIK BAYI
Kala si adik datang, biasanya si kakak mendadak jadi berubah perangai, termasuk malas sekolah. Pasalnya, di rumah sedang ada adik baru yang selalu mendapat perhatian orang-orang serumah. Akhirnya, ia pun merasa dirinya dilupakan.
Coba beritahu gurunya. Guru bisa membantu meminta si kecil menceritakan pengalamannya tentang kedatangan si adik baru. Juga menceritakan apa saja yang telah dilakukan si kakak pada adik barunya. Sebagai kakak, dia akan merasa bangga mendapat perhatian dari banyak teman dan orang-orang di sekelilingnya atas peristiwa datangnya adik baru tersebut. Cara ini biasanya sangat berhasil dalam beberapa kasus. Anak jadi bangga dan bersemangat pergi sekolah, tempat dimana ia merasa menjadi “seseorang”.
6. MASIH TERLALU MUDA
Walau si ibu dan guru tahu akan kesulitan yang bakal terjadi jika memasukkan anak terlalu muda ke sekolah, tapi kadang ada “kebutuhan” mendesak yang membuat anak harus masuk sekolah. Akibatnya, anak seperti “ditekan” harus menghadapi “masalah”. Anak-anak yang telalu muda masuk sekolah biasanya akan menjadikan gurunya sebagai pengganti ibunya. Tak heran bila ia menginginkan selalu dipangku oleh “ibu pengganti” ini dan selalu mengikuti ke mana pun si “ibu” ini pergi. Dia juga menuntut perhatian penuh dari gurunya. Akibat lain, ia masih takut dan akhirnya ogah pergi ke sekolah.
Jika memungkinkan dan pihak sekolah juga setuju, jangan memasukkan anak di awal tahun ajaran pada saat anak-anak lain juga baru masuk. Pada waktu itu, perhatian guru pasti akan berkurang pada anak kita. Masukkan anak ke sekolah setelah anak-anak lain sudah “mandiri” dan guru punya banyak waktu sebagai “ibu” bagi anak kita yang masih sangat tergantung ini.
7. TAK SUKA IBU GURU
Bagaimanapun, kecocokan tidaklah dapat dipaksakan. Bisa saja si kecil tak merasa cocok dengan gurunya, atau sebaliknya, sang gurulah yang merasa tak cocok pada buah hati kita. Tentu saja, guru tak bakal menunjukkan sikapnya. Dia pasti akan membuat pendekatan dengan si kecil dan melakukan hal-hal yang pantas dan semestinya. Toh, bagaimanapun anak tak bisa dibohongi. Dia pasti akan merasakan “ketidaksukaan” gurunya, akibatnya dia pun menolak pendekatan dari gurunya dan malas ke sekolah.
Anda bisa mengatasinya dengan meminta pihak sekolah memasukkannya ke kelas lain. Jika ini tak memungkinkan, saatnya Anda harus mencarikan anak sekolah lain.
8. MERASA TAK MAMPU
Entah karena gugup melakukan sesuatu atau karena kapasitas mentalnya yang belum cukup berkembang untuk menerima pembelajaran yang disodorkan padanya, anak akhirnya butuh waktu lebih lama dalam menangkap apa-apa yang diberikan guru. Akibatnya, bias-bisa ia menolak semua tugas yang diberikan padanya dan ujung-ujungnya menolak pergi ke sekolah juga.
Cobalah minta bantuan guru. Seorang guru yang mengetahui dengan persis apa yang terjadi (atau seorang guru yang bertindak sebagai seorang ibu), akan berusaha mengatasi situasi ini sampai anak mampu menerima pembelajaran yang diberikan padanya. Banyak cara yang bsia dilakukan agar anak merasa senang dan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukan tugas-tugas lainnya.
9. BOSAN SEKOLAH
Rasa bosan pada anak bisa terjadi karena banyak sebab, salah satunya karena tak ada yang menarik di sekolah. Sekolah juga turut berperan. Anak tidak cukup diberi pengalaman yang menarik. Misalnya, keterampilan menempel dan menggunting hanya dilakukan dengan kertas dan gunting, tanpa lem hanya karena pihak sekolah takut kotor. Permainan yang dilakukan juga hanya itu-itu saja. Bisa dibayangkan jika anak pun lama-lama akan bosan.
Orang tua sebaiknya teliti dalam mencarikan sekolah buat si kecil. Jangan terkecoh oleh program yang ditulis dalam brosur semata. Lebih baik lihat dengan mata sendiri bagaimana program yang mereka laksanakan. Tak ada salahnya meminta waktu agar anak bias mencoba selamam beberapa hari sekolah di tempat tersebut. Sekolah yang baik harus banyak melakukan permainan yang menyenangkan.

**sumber : tabloid NOVA

0

Taman Penitipan Anak

Banyak hal yang ingin diberikan orangtua kepada anaknya, namun terkendala waktu untuk mencari nafkah. sementara tidak bisa juga menitipkan kepada sembarang orang, karena semua memiliki jadwal dan kegiatannya sendiri sendiri. Sehingga banyak orang tua, apapun statusnya, yang berkarier atau yang hanya sebagai ibu rumah tangga, bersungguh-sungguh dalam memberikan pendidikan dasar di usia dini bagi putra-putrinya melalui TPA atau day care.

Sebagai ilustrasi ; Orang tua dapat saja mempercayakan pengasuhan anaknya pada pembantu atau nenek seperti yang telah terjadi di masyarakat selama ini.  Jika orang tua menitipkan anak pada pembantu sudah jelas yang akan terjadi hanya pengasuhan, sementara stimulasi pendidikan tidak akan tercapai karena keterbatasan pendidikan sang pembantu. Kemudian apabila  dititipkan pada nenek, maka anak akan cenderung manja dan sulit diatur karena nenek terbiasa menyediakan berbagai hal yang diminta anak agar tidak rewel.

 Orang tua juga dapat memilih baby sitter yang berpengalaman mengasuh dan mendidik anak, tetapi sudah pasti membutuhkan biaya yang sangat mahal. Baby sitter juga tidak menjamin program stimulasi pendidikan anak akan optimal karena tidak memiliki perencanaan dalam menstimulasi pendidikan anak secara sistematis. Bahkan jika anak dirawat sendiri pun program stimulasi pendidikan bagi anak yang disiapkannya bersifat sementara dan parsial. Ini semua karena orang tua sudah begitu sarat dengan pekerjaan rumah.

Day Care atau Taman Penitipan Anak merupakan solusi tepat untuk menstimulasi berbagai perkembangan yang ada pada diri anak, dari aspek fisik, psikis, hingga pembentukan perilaku. Tumbuh kembang anak dapat termonitor dengan baik jika anak berada dalam asuhan di lingkungan TPA karena program stimulasi direncanakan dan diimplementasikan secara sistematik dan terpadu. Stimulasi tumbuh kembang anak direncanakan sesuai dengan latar belakang dan usia anak agar tidak terjadi kesalahan dalam pengasuhan dan perawatan.

Ada 3 tipe yang dapat diselenggarakan oleh sebuah TPA atau Day Care, yaitu : full day care, half day care dan incidental day care.

  1. Full Day Care (Pengasuhan Penuh waktu), tipe melaksanakan layanan sepanjang hari selama ibu bekerja, rentang waktu pkl. 08.00 – 17.00. Program yang diberikan mencakup layanan pengasuhan dan stimulasi pendidikan secara bersama dan terpadu.
  2. Half Day Care (Pengasuhan Paruh Waktu), tipe layanan yang dilaksanakan selama setengah hari rentang waktu pkl. 08.00- 12.00, dengan program layanan yang sama dengan program full day care. Biasanya yan mengambil layanan ini adalah ayah ibu yang kebetulan berbenturan jam kerjanya dengan anak ketika anak pulang dari sekolah PG atau TK, atau yang akan meninggalkan rumah dan anak pada jam jam tertentu.
  3. Insidental Day Care (Pengasuhan sewaktu-waktu), layanan pengasuhan dalam hitungan jam, minimal  2 jam pengasuhan. Biasanya layanan ini diminta ketika ayah atau ibu harus bekerja atau bepergian mendadak seperti ke undangan, berkunjung ke rumah sakit, atau seminar yang tidak memperbolehkan anak anak ikut serta.

Setiap kegiatan stimulasi selalu dilakukan melalui kegiatan bermain, tidak ada pemaksaan kepada anak untuk belajar secara akademik. Semua konsep yang akan diajarkan, diberikan melalui kegiatan bermain. Kegiatan bermain efektif di TPA yang dimaksud :

  1. Main sensoris motoris, merupakan kegiatan main untuk mengembangkan kemampuan indra anak dalam menerima berbagai informasi dari luar. Kegiatan sensori-motoris adalah kegiatan yang dapat dilakukan menggunakan semua panca indra anak. Contoh kegiatan main sensori diantaranya kegiatan bermain bola,  finger painting, bermain tanah liat.
  2. Main pembangunan, terdiri dari pembangunan yang bersifat cair dan padat. Pembangunan yang bersifat cair seperti bermain air, pasir, spidol, biji-bijian. Sedangkan pembangunan yang bersifat padat, misalnya balok, lego, puzzle.
  3. Main peran, yang terdiri dari main peran makro dan mikro. Main peran makro adalah main peran dimana anak memainkan sendiri peran yang ada. Contohnya, anak berperan sebagai kelinci. Sementara main peran mikro adalah bermain peran menggunakan benda-benda untuk berperan sesuatu. Contohnya, anak memakai kaos kaki untuk dimainkan sebagai kelinci.