0

TV dan Pengaruhnya Terhadap Anak anak

Sarah bukan nama sebenarnya usianya baru 4 tahun, sering tiba tiba berteriak teriak ‘tolong aku…aku diikat oleh orang itu, orang itu penjahatnya’ sambil memperagakan seperti orang yang diikat, dan orang yang ingin minta tolong. Kemudian ia berlari lari keliling ruangan, ‘awas ada pocong’ teriaknya. Dan banyak lagi lainnya. Darimanakah anak anak seusia sarah mendapatkan hal hal itu ?  ketika ia ditanya ia hanya menjawab, aku nonton di TV kayak gitu kemarin katanya.

Sudah sering dibahas, bahkan sering dijadikan seminar parenting bahwa TV sebenarnya ‘tidak baik’ untuk anak-anak. Bahkan kadang pembahasan tentang ketidak-baikan TV itu dilakukan di layar/studio TV, tapi sampai sejauh manakah ketidak baikan itu?
Ada beberapa hal yang menjadi ketidak baikan acara TV terhadap anak anak yaitu :
Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Banyak acara televisi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif. Apapun yang diiklankan di TV selalu diminta dan diminati anak anak. Seperti makanan ringan, susu, mainan, sepatu dll.

Berpengaruh terhadap sikap dan psikologi anak
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. Selain itu, tayangan tayangan lain berpengaruh terhadap psikologi anak seperti sinetron-sinetron yang tidak mendidik dan penuh dengan dialog celaan, adegan kekerasan yang sangat mempengaruhi perkembangan psikologi pada anak.

Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi yang simpel, mudah ditirukan, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. Dan selalu terpengaruh acara yang dibawakan.

Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak. Membuat anak tidak fokus pada suatu hal yang menuntut konsentrasi yang tinggi.
Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, kurang sosialisasi mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif dan pasif.

Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV maka kegiatan fisik yang biasa kita lakukan berolahraga misalnya tidak pernah kita lakukan atau smeakin jarang dilakukan. Menonton acara TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton acara TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung mempengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Sehingga anak terbiasa menjalani pola makan yang tidak sehat.

Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.

Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial, moral dan etika.

Beberapa penelitian menyarankan agar anak anak tidak terpapar TV sebelum usia 2 tahun. The American Academy of Pediatric merekomendasikan hanya anak usia 2 tahun ke atas yang boleh menonton TV, dan hanya boleh menonton maksimal 2 jam sehari Tidak ada salahnya rekomendasi dan fakta-fakta di atas menjadi perhatian kita semua, khususnya yang punya anak kecil. Menurut saya pribadi,  yang terpenting: Jangan biarkan anak nonton TV sebelum dia berumur 2 tahun, dan jangan biarkan mereka menonton TV lebih dari 2 jam sehari.. Kalau bukan kita orangtuanya,  yang melindungi anak-anak dari pengaruh buruk TV, siapa lagi?

Advertisements
0

Toleransi ala Orion

Setiap pagi, aku, anak anakku Orion dan Luna selalu berangkat dari rumah kami dibelakang kompleks untuk pergi ke tempat kerja saya, sebuah rumah taman penitipan anak. Pukul 6 pagi berangkat dari rumah dan sampai kira kira 15 menit lamanya.  Orion beberapa hari lagi berusia 5 tahun, saat ini ia masih duduk di TK A sekolah alam bogor. Orion sangat kritis, setelah dibacakan buku pasti akan ia praktekkan apapun yang dibacakan padanya. seperti misalnya ; tentang hemat energi. Ketika ada orang menyalakan lampu dan lupa mematikannya dia akan mengingatkan. Kita harus hemat energi bu. katanya.

Kemarin seperti biasa sepulang sekolah, Orion dibacakan buku cerita tentang bertoleransi ; artinya menurutnya adalah menjaga dan memberi kesempatan adik atau tidak memaksa adik untuk selalu ikut permainannya. Misalnya orion main mobilan, adik main boneka. adik nggak harus ikut main mobilan walaupun sudah diajak sama orion.

Begitulah, jadi Orion belajar untuk tidak memaksakan kehendak pada adiknya untuk apapun, ia akan bertanya ; adik mau ikut main denganku ? kita mau main talking english misalnya. begitu adik menggeleng dan bilang enggak Orion main sendiri dan adik main sendiri juga. Saling bertoleransi itulah yang selalu dijaga dari kecil oleh saya supaya kelak ketika sudah besar ia bisa bergaul dengan siapa saja tanpa batas karena bisa bertoleransi.

Toleransi memang harus diajarkan sejak dini, sejak anak anak. Mengajarkan toleransi tidak harus dengan cara yang berat. Cukup dengan kejadian sehari hari dan bacaan bacaan baik sesuai usia anak.

 

 

0

Anak anak yang Lapar Perhatian

Ayah dan Ibu, pernahkah kita melihat anak anak yang selalu diam ketika ditanya. Selalu menggeleng ketika disapa, tidak mau apa apa. Atau yang lebih ekstrim, jahil kepada teman lain atau istilahnya nakal berat selalu usil dan bergerak semaunya ?  Pada saat itulah anak mengirimkan sinyal yang harus kita tangkap. Karena bisa jadi itu adalah sinyal bahwa anak sedang lapar perhatian. Kelaparan adalah kata yang umum menggambarkan kekurangan dan kebutuhan manusia akan sesuatu. Demikian juga anak anak, lapar perhatian adalah ketika anak anak dengan tingkah lakunya atau bahkan dengan kediamannya membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Beberapa anak anak tertentu memang mampu mengungkapkan keinginannya, dan ada juga yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Sehingga cara satu satunya adalah dengan menunjukkan lewat tingkah laku. Atau juga dengan kediaman dan kebisuan untuk menunjukkan bahwa ia membutuhkan perhatian lebih dari orangtuanya.

Bagaimanakah menghadapi anak anak yang lapar perhatian ini ?

Kebanyakan orangtua yang datang kepada saya, bingung dengan anaknya yang tadinya cerewet jadi tiba tiba emoh bicara. Atau anaknya yang selalu kreatif membuat banyak hal tiba tiba terdiam dan sering menyendiri duduk di pojok ruangan tanpa melakukan apapun. Bahkan ada anak anak yang tidak mau melakukan apa apa namun begitu bertemu orangtuanya menangis tidak mau ditinggal.

Pertama tama yang harus dilakukan orangtua adalah ;

  1. Introspeksi diri sendiri terlebih dahulu, apakah anak anak sudah disapa hari ini, diberikan pelukan atau bahkan hanya sekedar mencium pipinya ketika berangkat kerja sebagai bentuk perhatian.
  2. Apakah orang sekeliling ; seperti assiten rumah tangga, atau mungkin anak ditinggal dengan kakek neneknya sudah memperhatikan anak dengan seksama. hal itu bisa dilihat dari tingkah laku anak ketika bertemu dengan kita orangtuanya. Anak akan bercerita tanpa disuruh tentang apa yang dilaluinya hari ini. Bahkan dalam igauan malam sekalipun.
  3. Biasakanlah memeluk anak sebelum ditinggal bekerja dan katakan bahwa kita akan pergi untuk bekerja, lalu peluk kembali ketika kembali dari bekerja. Katakan bahwa kita sudah kembali dan ada disisinya.
  4. Tanyakanlah pada anak hal hal yang dia sukai hari ini, maka cerita yang lain akan mengalir tanpa diminta. Bahkan hal hal yang tidak menyenangkan pun akan mengalir.
  5. Sikapi cerita anak dengan memposisikan diri kita sebagai anak anak. Lalu pahami.
  6. Mencari solusi untuk menuntaskan kelaparan perhatian nya dengan memberikan perhatian pada hasil observasi ke anak diatas. Untuk usia balita ; Misalnya dengan memangku dan saling bercerita kegiatan hari ini, untuk anak yang lebih kecil biasanya dengan memberikan pelukan kepada anak sambil mengatakan bahwa kita berterimakasih atas kebaikannya bercerita hari ini. Dan meminta maaf karena kita tidak punya waktu untuk menemaninya sepanjang waktu karena bekerja.
  7. Yang terakhir, pastikan kita tetap memantau anak anak kita. Misalnya dengan sesekali menelpone ke rumah. Berbicara sekedar “say hello” ke anak untuk menunjukkan perhatian kita kepadanya.

Ayah dan Ibu, perhatian, walau sedikit akan membantu anak dalam perkembangannya. Ia akan menjadi anak yang mandiri atau menjadi anak yang pemalu justru dengan perhatian dan dengan kasih sayang yang sudah kita berikan.

 

1

Anak dan Harga Dirinya

Pernahkah kita memperhatikan anak anak kita, tingkahlakunya dan gaya bicara serta bahasa tubuhnya ketika berhadapan dengan kita..? semua yang kita lihat kasat mata itu adalah cara anak anak merasakan dan menyatakan dirinya yang berkaitan dengan konsep diri dan keyakinan yang dimiliki tentang dirinya sendiri. Kemampuan anak untuk merasakan dan menyatakan dirinya, mengungkapkannya dengan berbagai reaksi itulah yang disebut dengan harga diri.

Harga diri dan konsep diri sangatlah berbeda. walaupun keduanya sering tercampur aduk. Konsep diri adalah sebuah teori dimana ada rangkaian gagasan yang ada didalam diri seorang anak tentang dirinya sendiri. Konsep diri ini seringkali didefinisikan bahwa seorang anak dapat mengatakan keyakinan dirinya walaupun keyakinannya mungkin tidak berhubungan dengan perilakunya. Seorang anak memiliki keyakinan tentang dirinya mengenai perilaku yang dilakukannya dengan baik atau tidak. Selain itu, ia memiliki prioritas tentang sesuatu, yang disukai dan tidak disukainya, perannya yang berhubungan dengan orang lain, serta tolok ukur yang diikutinya. Ia mungkin percaya bahwa ia adalah anak yang ramah dan supel,  kendati sesungguhnya ia tidak mempunyai banyak teman. Ia mungkin merasa suka dengan musik namun menolak untuk bergabung dengan teman teman dalam grup musik yang memiliki kesukaan yang sama.

Konsep diri dan harga diri saling berhubungan. Artinya perasaan anak tentang kepuasan pribadi dirinya akan lebih diperbesar apabila ;

  1. Anak berhasil mengungkapkan konsep dirinya dalam hal prestasi, misalnya ketika seorang anak memandang dirinya sebagai seorang atlet yang handal dan berhasil mencetak skor buat teamnya
  2. Anak mengikuti tolok ukur pribadi yang berkaitan dengan konsep dirinya. Misalnya :  apabila anak menghargai keterampilan akademik menerima nilai tertinggi untuk test matematika.
  3. Anak memiliki konsep diri yang disetujui oleh orang lain misalnya anak percaya bahwa ia pandai berpidato, dan ia mendapat pujian karena hal itu.

Mari kita lihat perbedaan anak yang berharga diri tinggi dan berharga diri rendah.

Anak yang berharga diri tinggi akan :

  1. merasa bangga akan prestasinya ;
  2. bertindak mandiri ;
  3. mudah memikul tanggung jawab;
  4. mempunyai manajemen frustasi dan mentoleransinya dengan baik;
  5. menerima tantangan baru dengan baik;
  6. merasa mampu mempengaruhi orang lain;
  7. menunjukkan beragam emosi dan perasaan yang luas;

sementara  Anak yang berharga diri rendah akan

  1. menghindari situasi yang menurutnya tidak menguntungkan dan membuatnya cemas.
  2. melecehkan bakatnya sendiri;
  3. merasa orang lain tidak menghargainya
  4. menyalahkan orang lain untuk kelemahannya sendiri
  5. mudah dipengaruhi orang lain;
  6. menjadi defensif dan mudah frustrasi
  7. merasa tidak berdaya
  8. menunjukkan rangkaian emosi dan perasaan yang sempit

harga diri bersifat naik turun. Apabila anak mempunyai harga diri tinggi atau rendah, umumnya merka menunjukkan karakterristik tersebut, tetapi semua anak akan emnunjukkan karakteristik demikian pada suatu saat. Pola perilaku mereka perlu diamati daripada difokuskan pada setiap karakteristik yang ada..

Kita sebagai orang tua memang diharapkan mampu membuat anak kita menjadi anak yang percaya diri. Hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan waktu, mendengarkan apa yang ingin anak katakan, menghargai mereka atas apa yang dikatakannya. Dan tetap memberikan support pada anak. Karena bagaimanapun juga anak anak tetaplah anak anak. Dan mereka berpikir dengan cara mereka sebagai anak anak..

0

Keajaiban Musik Untuk Perkembangan Keterampilan Berbahasa pada Anak

Bukan tingginya tingkat kecerdasan atau daya cipta atau keduanya yang menciptakan seorang jenius. Cinta, Cinta dan Cintalah yang melahirkan orang yang berjiwa jenius –Wolfgang Amadeus Mozart–

Musik disebut ajaib karena kemampuannya dalam hal menempa sambung rasa antara hati setiap manusia melalui irama, suara dan nada. Dan sama ajaibnya dengan kemampuan itu, yaitu setelah sambung rasa terjalin dengan mapan, maka kecenderungannya adalah mengantar bayi ke tingkat pengetahuan dan kemampuan berekspresi yang baru. Keterbiasaan dengan suara orangtua, irama, intonansi dan variasi variasi nadanya yang memikat menjadikan proses mendengarkan sesuatu yang menyenangkan. Dengan kata lain, cinta, kasih sayang menciptakan suatu arena untuk saling memberikan perhatian, yang pada gilirannya memungkinkan pembelajaran yang lebih bak dan dikuasainya sebuah keterampilan oleh anak.

Sebelum seorang bayi atau anak anak mampu memahami makna setiap patah kata, ia telah tertarik dan terkesan dengan irama dan melodi yang masuk ke telinganya, kualitas musik, dan suara suara bicara orang disekitarnya. Sesungguhnya pusat bahasa dan pusat musik didlam otak terpisah tetapi bersebelahan, dan perkembangan masing – masing terjadi hampir secara paralel. Bahkan para ilmuwan percaya bahwa mungkin saja inilah mengapa mendengarkan musik ikut merangsang keterampilan berbahasa, dan mengapa praktik berbahasa mendorong seseorang mendengar secara aktif yang pada gilirannya perlu untuk menciptakan dan memainkan musik. Dan dalam kasus manapun, kepekaan musikal yang dibawa oleh bayi sejak lahir membuatnya memusatkan perhatian terhadap pola – pola musikal dan pola pola bicara ketika orangtuanya bernyanyi.

Orangtua biasanya melihat betapa mendalamnya perhatian bayi atau anak anak mereka ketika seseorang memegang dan mengajak mereka bicara, atau ketika mendengarkan alat musik. Reaksi bayi ketika melihat seseorang bernyanyi bisa membantu kita untuk melihat hubungan langsung antara musik dan perkembangan keterampilan berbahasa pada bayi dan anak anak. Dr. Beth Bolton dari Esther Boyer College of Music, Temple University di Philadelphia, bercerita tentang reaksi reaksi bayi di kelas musik ketika guru bernyanyi langsung kepada tiap bayi, begitu guru mendekat, maka sebagian bayi terus menatap langsung ke arah si penyanyi (hampir selalu dengan mulut ternganga) dan berusaha menjalin kontak mata yang sangat mendalam dan sangat bermakna bagi mereka. Sebagian lagi berpaling ke arah orangtua mereka (menunjukkan reaksi emosional) yang lain bereaksi dengan perubahan ekspresi wajah. dan yang lain bereaksi dengan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah atau mulut si penyanyi. Semua ini adalah khas pada anak anak yang menyrap bahasa dan berinteraksi dengan orang dewasa dalam hidup mereka. Dengan kata lain, lewat bernyanyi kepada bayi kita, sebenarnya secara tidak langsung kita mengajari bayi dan anak anak kita mendengarkan dan berbicara.

Jadi ayah dan ibu, biasakanlah memperdengarkan musik kepada bayi dan anak anak. berikan musik yang sesuai dengan perkembangannya. Atau jika sempt menyanyilah untuk bayi dan anak anak  kita. Agar keterampilan berbahasanya meningkat dan bayi atau anak terbiasa mendengarkan.

 

0

Hubungan Antara Anak dan Orangtua

Pada dasarnya tidak ada anak yang sama di dunia ini. Hanya karena beberapa anak tumbuh dalam keluarga yang sama bukanlah jaminan bahwa mereka akan berperilaku serupa. Tidak ada pengalaman pribadi yang sama dengan orang lain, maka orang orang disebut sebagi pribadi yang unik dan berkarakter berbeda. Inilah yang menjadi dasar dari individualitas kita. Begitupun ketika mereka dilahirkan tanpa mengetahui bagaimana cara bereaksi yang sesuai dengan harapan orang tuanya. Hal itu harus dipelajari dan diajarkan kepadanya oleh orangtuanya,  yang belum tentu merupakan pakar juga di bidang parenting ini.

Beberapa sistem yang amat penting dalam kehidupan anak adalah lingkungan keluarga dan lingkungan sekolahnya. Keluarga, orangtua dan teman teman sekitarnya merupakan kesatuan hubungan yang bisa membuat dan menciptakan karakter anak. Hubungan antara orangtua dan anak anaknya yang terkadang pasang surut membuat  keyakinan bahwa pada dasarnya orangtua pasti menginginkan yang terbaik buat anak anaknya.

Keinginan orang tua tersebut terkadang membuat perlakuan kepada anaknya menjadi sesuatu yang dirasa tidak adil atau nyaman buat anak anaknya. Kunci utama agar kita menjadi orangtua yang baik adalah fokus pada anak. Baik itu kegiatan yang tujuannya untuk anak ataupun kegiatan yang dilakukan bersama anak. Kesemua hal itu diharapkan bisa memberikan rasa yang aman dan nyaman bagi anak untuk tetap dekat dengan orangtuanya. Sehingga orangtua juga bisa memantau apa saja yang terjadi pada anaknya.

 

 

2

Menjadikan Anak Kreatif

Bagi orang tua awam, biasanya anak anak yang suka bertanya banyak hal, suka usil mengutak utik barang bisa bongkar tapi nggak bisa pasang lagi dicap sebagai anak yang nakal. Apalagi ditambah dengan suka lari larian, suka panjat pohon, nggak suka duduk diam. Hhhmmm… jadi bertambah pula capnya bahwa anak jadi hiperaktif dan lainnya.
Anak yang kreatif tidak selalu mudah di urus terutama jika orang tua menyukai anak yang patuh, teratur dan luwes.
Pada dasarnya hal hal yang demikian itu adalah tanda tanda anak yang kreatif dengan keingintahuan yang besar.Menerapkan disiplin bersamaan dengan memupuk kreatifitas merupakan suatu tantangan bagi tiap orangtua dalam mendidik anaknya.
Menerapkan disiplin bersamaan dengan memupuk kreatifitas merupakan suatu tantangan bagi tiap orangtua dalam mendidik anaknya.
Untuk tetap mempertahankan kreatifitas anak dan membuatnya makin cerdas adalah dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan diri mereka.
Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk memupuk kreatifitas dan mendukungnya tanpa anak merasa dipaksa adalah sbb :

1. Mengikuti minat dan Fokus pada anak. Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya. Ketika kita fokus pada anak, ingatlah ketika kita kanak kanak dna seusia mereka. bayangkan kita menjadi mereka saat ini dan meleburlah bersama kegiatan dan kegembiraannya.
2. Membebaskan anak untuk bereksplorasi dilingkungannya. Lingkungan dan keadaan sekitar mereka, menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya misalnya sambil berjalan ditaman, ia belajar tentang serangga yang tinggal disana, kupu kupu ataupun tumbuh tumbuhan.
3. Ceritakan pengetahuan tentang dunia dan isinya. Berikan anak fasilitas, buku buku, mainan edukatif tentang tumbuhan, hewan, teknologi dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
4. Membacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar. Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minat dan keinginannya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara orangtua dan anak anaknya.
5. Untuk beberapa kali, cobalah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang bisa memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi sesuai dengan yang sudah pernah anda bacakan dan ceritakan padanya. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal. biarkan anak berpikir kritis dengan caranya. Jangan pernah mencela atau menyela jawabannya. luruskan saja jawabannya dengan cara yang benar yang tidak menyakiti dan seolah menggurui.
6. Menjadikan diri kita model yang baik. Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
7. Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan. Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
8. Memberikan kesempatan bersosialisasi dengan anak anak dan lingkungan yang lain. Misalnya tracking atau jalan jalan keluar. Tidak perlu sampai jauh dari rumah. Cukup disekitar komplek, menyapa tetangga, anak sebaya dst. Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi dan akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
9. Memberikan kecukupan kebutuhan akan nutrisi dan gizi makanannya. Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas” usia 0 – 3 tahun. Berikan konsumsi jenis makanan kelompok brain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan. serta memberikan makanan penyeimbangnya untuk tenaga seperti karbohidrat dan vitamin.
10. Menjaga kesehatan anak. Baik fisik maupun rohani. Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas. Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal. Kesehatan rohani juga bisa dipupuk dengan memberikan rasa nyaman kepada anak setiap hari.

jika berkenan, ayah dan ibu bisa berkonsultasi tentang perkembangan anak disini untuk mengetahui kegiatan kami..

silahkan kunjungi kami :
Little White Rabbits Baby Daycare
buka Senin – Jumat pukul 07.30 s.d 17.00 wwib.
Keterangan lebih lanjut hubungi :
Ety Prasetya
telepone : 0251 – 8663121, 0813 8050 9948
wa/sms : 0856 1448 473, 0878 7058 6669