TV dan Pengaruhnya Terhadap Anak anak

Sarah bukan nama sebenarnya usianya baru 4 tahun, sering tiba tiba berteriak teriak ‘tolong aku…aku diikat oleh orang itu, orang itu penjahatnya’ sambil memperagakan seperti orang yang diikat, dan orang yang ingin minta tolong. Kemudian ia berlari lari keliling ruangan, ‘awas ada pocong’ teriaknya. Dan banyak lagi lainnya. Darimanakah anak anak seusia sarah mendapatkan hal hal itu ?  ketika ia ditanya ia hanya menjawab, aku nonton di TV kayak gitu kemarin katanya.

Sudah sering dibahas, bahkan sering dijadikan seminar parenting bahwa TV sebenarnya ‘tidak baik’ untuk anak-anak. Bahkan kadang pembahasan tentang ketidak-baikan TV itu dilakukan di layar/studio TV, tapi sampai sejauh manakah ketidak baikan itu?
Ada beberapa hal yang menjadi ketidak baikan acara TV terhadap anak anak yaitu :
Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Banyak acara televisi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif. Apapun yang diiklankan di TV selalu diminta dan diminati anak anak. Seperti makanan ringan, susu, mainan, sepatu dll.

Berpengaruh terhadap sikap dan psikologi anak
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. Selain itu, tayangan tayangan lain berpengaruh terhadap psikologi anak seperti sinetron-sinetron yang tidak mendidik dan penuh dengan dialog celaan, adegan kekerasan yang sangat mempengaruhi perkembangan psikologi pada anak.

Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi yang simpel, mudah ditirukan, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. Dan selalu terpengaruh acara yang dibawakan.

Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak. Membuat anak tidak fokus pada suatu hal yang menuntut konsentrasi yang tinggi.
Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, kurang sosialisasi mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif dan pasif.

Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV maka kegiatan fisik yang biasa kita lakukan berolahraga misalnya tidak pernah kita lakukan atau smeakin jarang dilakukan. Menonton acara TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton acara TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung mempengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Sehingga anak terbiasa menjalani pola makan yang tidak sehat.

Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.

Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial, moral dan etika.

Beberapa penelitian menyarankan agar anak anak tidak terpapar TV sebelum usia 2 tahun. The American Academy of Pediatric merekomendasikan hanya anak usia 2 tahun ke atas yang boleh menonton TV, dan hanya boleh menonton maksimal 2 jam sehari Tidak ada salahnya rekomendasi dan fakta-fakta di atas menjadi perhatian kita semua, khususnya yang punya anak kecil. Menurut saya pribadi,  yang terpenting: Jangan biarkan anak nonton TV sebelum dia berumur 2 tahun, dan jangan biarkan mereka menonton TV lebih dari 2 jam sehari.. Kalau bukan kita orangtuanya,  yang melindungi anak-anak dari pengaruh buruk TV, siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s