0

Dampak kekerasan pada anak dan solusinya

Andi bukan nama sebenarnya usia 3 tahun, dikenalkan pada saya beberapa waktu lalu. Orangtuanya, ayah bekerja di sebuah BUMN dijakarta dan bundanya adalah seorang psikolog di sebuah perusahaan swasta yang bertempat di jakarta juga. Mereka berangkat bekerja dari subuh supaya tidak terkena macet ditol. Dan kembali ke rumah setelah pukul 7 malam. Andi adalah anak tunggal sementara ini. Ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya pada assisten rumah tangga. Sejak kecil ia ditemani assisten rumah tangga yang beberapa kali juga berganti. Pertama dikenalkan, yang terlihat adalah; Anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Selalu bermain dan fokus satu hal. Tidak pernah beranjak dari tempatnya duduk. Disapa pun ia hanya menatap sekilas lalu menunduk dengan gaya asyik bermain mainan ditangannya. Ketika diminta bergeser ia hanya beringsut sedikit dan tidak mengubah pola duduknya dari awal.

Obrolan dengan kedua orangtuanya mengalir dengan lancar. Ayah bundanya adalah orang yang terbuka. Mereka memberikan keterangan bahwa anaknya tidak pernah lagi terbuka kepada mereka. Bercerita apa saja. Bahkan cenderung menjadi ketakutan ketika bertemu orang asing atau kerumunan orang. Padahal masih menurut cerita kedua orangtuanya, dulunya ia adalah anak yang ceria, selalu aktif dan berlarian kesana kemari. Membongkar mobilan, berbicara dan cerewet. Tiba tiba saja semua hilang hanya dalam waktu beberapa bulan saja sejak ada pengasuh baru dirumah mereka. Diakhir cerita, kedua orangtua tidak sengaja memergoki anaknya menjadi peminta minta bersama pengasuhnya dijalan dekat mall tidak jauh dari kompleks perumahannya. Hari itu juga sang pengasuh dipanggil dan dikeluarkan. Lalu bagaimana dengan sang anak..?

Sang anak diantar ke tempat saya dan bundanya bercerita panjang. Singkatnya, sang bunda setuju anaknya di daycare  sementara saya mengobservasinya. Hari pertama, anak hanya diam saja. Hanya duduk dan memainkan mobil mobilan kecil. Posisi duduknya simpoh saja. Bila ditanya diam, disentuhpun mengelak. Tidak mau menjawab apapun. ketika diajak bergeser, ia hanya bergeser beberapa jengkal saja dengan posisi duduk yang tidak berubah. Ketika dimandikan menangis ia diam saja. hari itu berlalu dengan beberapa pertanyaan dalam hati saya. setelah mandi saya memperhatikan kulitnya yang kusam, hitam tidak seperti dasar kulitnya anak anak.

Esoknya ia diantar pagi, ketika ayah yang mengantar pergi, ia meangis sebentar lalu tenang kembali. Siang ia tetap bermain seperti hari kemarin. memainkan mobilnya dan akhirnya berbicara sedikit. Ada beberapa hal yang kami ketahui, ia sering diajak ajalan jalan. Entah kemana. Siang itu tiba tiba ia mau buang air besar, dibawa ke toilet, ia puup dengan kotoran yang keras dan mungkin kesakitan. Ia menangis sekeras kerasnya. Saya gendong dan meenangkannya. setelah beberapa lama ia kelelahan karena menangis. Dan tertidur. Agak lama. Saya merasa ia pernah mengalami kekerasan yang tiada tara. Kekerasan baik verbal maupun non verbal sang anak menjadi trauma baik fisik maupun mental.

Kekerasan pada anak memang akan menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan. Inilah trauma jangka panjang pada anak anak korban kekerasan yang sedapat mungkin bisa dicegah.

  • Agresif. Sikap ini biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Umumnya ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat orang yang dianggap bisa melindunginya itu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Peringatan : Tidak semua sikap agresif anak muncul karena telah mengalami tindak kekerasan.
  • Murung atau depresi. Kekerasan mampu membuat anak berubah drastis, seperti menjadi anak yang memiliki gangguan tidur dan makan, bahkan bisa disertai dengan penurunan berat badan. Anak juga bisa  menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Ia menjadi anak pemurung, pendiam dan terlihat kurang ekspresif.
  • Mudah menangis. Sikap ini ditunjukkan karena anak merasa tidak aman dengan lingkungannya. Karena ia kehilangan figur yang bisa melindunginya. Kemungkinan besar, anak menjadi sulit percaya dengan orang lain.
  • Melakukan tindak kekerasan pada orang lain. Semua ini anak dapat karena ia melihat bagaimana orang dewasa memperlakukannya dulu. Ia belajar dari pengalamnnya kemudian bereaksi sesuai yang ia pelajari.
  • Secara kognitif anak bisa mengalami penurunan.  Akibat dari penekanan kekerasan psikologisnya atau bila anak mengalami kekerasan fisik yang mengenai bagian kepala, hal ini malah bisa mengganggu fungsi otaknya.
Dari kasus diatas, dapat dikatakan bahwa anak-anak lebih rentan mengalami trauma, karena secara psikologis anak-anak belum siap menghadapi suatu peristiwa seperti orang dewasa. Banyak faktor yang menyebabkan trauma pada anak. Mulai dari terus menerus diejek teman sebaya, pertengkaran orangtua, mengalami kekerasan, dan sebagainya.
Trauma adalah emosi ekstrem atau gangguan stres yang timbul karena adanya kejadian yang luar biasa dan membuat anak mengalami tekanan. Sebagai orang tua, Anda juga harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak Anda, karena dampaknya dapat berbeda-beda.
Menurut beberapa pakar, trauma yang terjadi pada anak dapat lebih cepat diredam jika anak Anda adalah seseorang yang ekstrovert, ceria, dan cerdas. Namun, Anda juga tidak perlu terlalu khawatir karena trauma pada anak umumnya dapat dihilangkan dengan melakukan beberapa cara, seperti berikut ini:
1. Memberikan rasa aman dan nyaman
Cara paling mudah untuk menghilangkan trauma pada anak adalah dengan memberi anak Anda rasa aman dan nyaman. Anda dapat memeluk, memberi kehangatan untuk anak, dan terus meyakinkan anak Anda bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik-baik saja. Teruslah memberikan rasa nyaman kepada si kecil, karena dengan begitu secara perlahan trauma yang dialami anak Anda akan menghilang.
2. Dukungan orangtua
Memberikan dukungan serta motivasi kepada anak sangatlah penting untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma. Anda pun sebaiknya terus dapat menemani anak Anda selama masa penyembuhan. Salah satu caranya yaitu dengan meluangkan waktu dan terus mengajak anak Anda berkomunikasi dari hati ke hati.
3. Jangan menyalahkan anak
Saat anak Anda sedang mengalami trauma, disarankan kepada Anda untuk tidak memberikan komentar yang menyudutkan atau menyalahkan anak. Karena hal tersebut justru akan membuat trauma anak Anda semakin bertambah parah.
4. Memberi hal yang disenangi anak
Beberapa ahli menunjukkan bahwa salah satu cara untuk menghilangkan rasa trauma pada anak adalah dengan memberikan hal yang ia senangi, seperti mainan atau buku kesukaannya. Hal ini dinilai mampu memancing rasa senang anak.
5. Melakukan hipnoterapi
Hipnoterapi memang selalu diidentikkan dengan hipnotis yang membuat seseorang tidak sadarkan diri. Sikap tidak sadarkan diri itu membuat seseorang tersugesti dan mau melakukan apapun yang diperintahkan, salah satunya yaitu untuk menghilangkan trauma. Anda dapat melakukan hipnoterapi pada saat anak dalam kondisi mengantuk dan sudah akan tertidur. Berikan kata-kata positif saat memberikan sugesti pada anak dan perlu diingat bahwa jangan pernah menggunakan kata “tidak” pada saat memberikan sugesti.

 

***dari berbagai sumber