Tips Parenting : Jangan Menjadikan Tangisan Anak Sebagai Senjata

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena beberapa yang sepele. Dan ternyata,  hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri sebagai orang tua / pengasuh yang terlibat dalam penanganan anak selama ditinggalkan oleh orangtua bekerja. Sikap orang tua / pengasuh yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

*************

Boy, berusia hampir 2 tahun, suka menangis menjerit-jerit ketika ia ditinggalkan oleh orangtua / pengasuhnya di daycare hari ini. ia menangis, berteriak berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan balita ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Boy begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam, akhirnya untuk meredakannya suka di gendong” ujar mbak Parti pengasuhnya. Tapi sampai berapa lama kita mneggendong anak dan membiarkannya tidak mandiri ? Dan mengelola emosinya..?

Apa yang dialami mbak Parti tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua sebaiknya merespon tangisan anak secara positif dan belajar memahami mengapa anak menangis. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Secara alami, tangisan anak bisa sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “memberi tanda” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Beberapa psikolog anak, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Boy tadi.

Diperlukan Banyak Kesabaran

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia  antara 2 – 4 tahun. Di usia tersebut keinginan anak sudah makin bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun sebagai pengingat bagi orangtua agar bersiap dan punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Menangani tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Mengajak Anak Berbicara

Setelah berusia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut beberapa psikolog anak,  ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya.

  1. Pertama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas.
  2. Lalu setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Adik ingin apa..? bilang ke ibu ya. Tidak menangis,” misalnya. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Karena pada dasarnya anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Beberapa buku psikologi anak mengajarkan bahwa anak sudah bisa diajak berkomunikasi sejak dini. Bahkan beberapa terapis telah mengajarkan kepada orangtua baru untuk mengajak anaknya bicara sejak bayi. Anak sudah bisa menangkap bahasa kita hanya organ bicaranya saja yang belum matang.

Dan ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. Misalnya, maaf adik, hari ini mama sudah mulai bekerja, jadi adik sementara bersekolah di baby daycare ya. Sampai mama kembali. Jika sesampainya di daycare anak tetap menangis maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Kemudian ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, dan orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji maka penuhilah janji tersebut.

Untuk anak yang lebih besar, metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak jalan jalan misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut. Dan beberapa hal diingatkan juga kepada orangtua selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Mengenali Makna Tangisan Anak

Beberapa anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut beberapa pakar psikologi anak, itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua sebaiknya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. Membiarkan saja anak menangis sambil guling-gulingan, karena anak juga perlu melepaskan emosinya.  Lama kelamaan akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. Kuncinya adalah orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus.

Menegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Beberapa pakar psikologi anak mengatakan; bahwa salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, ketika orangtuanya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu pujilah anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. Terimakasih sudah itdak mengangis hari ini. Terimakasih sudah berusaha menahan tangismu.

Demikian semoga bermanfaat bagi beberapa orangtua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s