Toilet Training ala Luna

Luna anakku, tanggal 17 Juli 2016 lalu usianya tepat 3 tahun. Mengingat Luna, itu juga mengingatkan toilet training yang pernah dijalani. Karena Luna satu satunya anak perempuan di rumah dan pasti berbeda perlakuan juga dalam memberikan toilet training. Kedua kakaknya laki laki sepertinya mudah sekali memberikan toilet training kepada mereka. Yang pada dasarnya toilet training adalah hal yang bisa dan biasa dilakukan.

Kenapa membahas toilet training? iya, karena beberapa waktu lalu setiap anak yang dititipkan hampir pasti dititip pesan oleh orangtuanya agar anaknya  di toilet training sekalian. Karena kesibukan dan mereka juga nggak sempat mengajari toilet training dirumah.

Masa transisi dari popok ke toilet memang adalah lompatan besar buat balita. Tak terkecuali Luna anakku. Juga merupakan perubahan psikologis yang signifikan pada balita, menandai kemerdekaan baru dan pergeseran hubungan dengan aku ibunya. Toilet training membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran tidak seperti hal yang lainnya. Dan balitaku si  Luna nunanune panggilan sayang untuknya aku yakin pasti bisa melaluinya.

  1. Memastikan balita dan orangtua siap menjalani program toilet training. Umumnya balita bisa diajak toilet training pada usia di atas 18 bulan. Hal itu ditandai dengan kesiapan emosi, fisik, psikologis dan bisa komunikasi di rentang usia rata rata antaranya sekitar 2-3 tahun walaupun setiap balita perkembangannya bisa berbeda beda. Tanda-tanda kesiapan anak untuk toilet training antara lain, dapat duduk tegak, bisa kering dalam 2-3 jam, dapat membuka-memakai celana, bisa memahami instruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya. Sementara orangtua juga harus siap untuk menyediakan waktu lebih untuk berbincang dan menyemangati balita bertoilet training.
  2. Membiasakan untuk pipis dan BAB di kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia pipis dan buang air besar (BAB) pada tempatnya ditoilet atau potty chair. Biarkan ia memilih agar ia suka menggunakannya.  Perlihatkan ketika Anda membuang dan mem-flush atau menyiram kotorannya dari popok di kloset. Ajaklah anak anda ketika anda menggunakan toilet supaya ia makin paham perlunya toilet. Ceritakan secara sederhana cara pipis dan bab serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng tentang pispot, dan belikan ia celana dalam seperti layaknya anak sudah besar.
  3. Mengatur jadwal. Mengatur jadwal ke kamar mandi, berhubungan dengan pengaturan asupan cairan dan makanan ke tubuh balita.perhatikanlah dan amati jadwal siklus pipis dan buang air besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 7 pagi dan pipis 2 atau 3 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat.
  4. Konsisten. Pastikan pula pengasuh anak mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang sudah  diterapkan sehingga tidak terjadi kebingungan. Berikan penjelasan dan informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis balita. Konsisten membimbing balita akan membuat para balita cepat mengerti dan memahami serta semakin terampil memakai toilet.
  5. Menggunakan cara yang seru. Kembangkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda bisa membuat papan untuk menempelkan sticker bintang jika balita anda berhasil memakai pispot/kloset dengan benar. Supaya ia lebih bersemangat dan gembira melakukan toilet training.
  6. Memberikan pujian. Berikan pujian bila ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar. Jadikan hal toilet training sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi sesuatu, misal mengompol. Hindarilah untuk menghukumnya, katakan saja Anda tidak suka. Karena jika menghukumnya dengan menampakkan wajah marah dan kecewa anda hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.
  7. Komitmen, telaten, dan sabar. Tips yang terakhir ini khusus untuk para ibu dan pengasuh yang terlibat di dalam kegiatan toilet training. Toilet training adalah belajar disiplin. Maka, kita yang mengajarkannya pun harus disiplin. Begitu kita mantap inilah saatnya mengajarkan anak toilet training, maka semenjak itu jangan pernah terputus, selalu telaten, dan rutin setiap waktu. Karena, toilet training ini kita mengajarkan anak disiplin dengan pembiasaan. Begitu terbiasa, dia akan bisa. pernah suatu waktu, Luna udah terbiasa pipis di toilet. Nah karena sedang berjalan jalan di mall. Keliling, jadi lupa menanyakan rutinitas itu. Maka jadilah ia pipis dicelana. Hadeuh rasanya malu banget dan kesal. Karena nggak bawa celana ganti. untunglah di mall jadi bisa langsung beli celana. Gara-gara kelupaan jadi harus dibiasakan lagi, tidak sesulit dari awal sih, tapi menjengkelkan juga karena sudah merusak kebiasaan yang sudah mulai di usahakan nya. Kalau tidak salah, waktu toilet training sedang berjalan 1 bulanan. Setelah itu ya normal. Sekarang, setiap mau pipis atau bab Luna selalu bilang bahkan sudah belajar sendiri untuk membuka celana dan membersihkan diri.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s