0

Keterampilan berpakaian untuk balita, kenali tahapannya yyuukk…

Cakap menggunakan pakaian sendiri merupakan keterampilan anak yang sudah tentu tidak didapatkan begitu saja dengan mudah. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui lebih dulu.

Salah satu hal yang paling sering dicoba anak adalah dengan belajar berpakaian sendiri. Banyak tahapan serta proses yang perlu dikuasai anak hingga ia bisa memakai baju sendiri secara sempurna.

Keterampilan berpakaian dapat memakan waktu beberapa tahun untuk mencapai kesempurnaan, dari sekitar usia 18 bulan hingga 5 tahun. Memakai dan melepas pakaian merupakan bagian dari keahlian ini.  Berikut tahapan anak dapat berpakaian sendiri, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.
Tahapan keterampilan berpakaian

  • Mulai usia 8 bulan, sebenarnya anak sudah mulai memperlihatkan keterampilan dasar dimana ia mulai menarik lepas kaus kakinya, bermain dengan tali, kancing, dan perekat velcro yang ada di pakaian.
  • Pada usia menjelang 1 tahun, anak memperlihatkan minat untuk melepaskan topi, hiasan rambut, melepas sepatu dan kaus kaki. Ia juga mulai bekerja sama saat dipakaikan pakaian seperti memasukkan lengannya ke lubang lengan, atau bahkan meluruskan kaki saat dipakaikan celana.
  • Mendekati usia 2 tahun, anak sudah mampu membuka sendiri sepatunya, kaus kaki, bahkan mencoba memakai pakaian sendiri (meskipun seringkali belum berhasil), mencoba untuk memasukkan kaki ke dalam satu lubang celana, memakai kaus secara terbalik. Ia juga membantu saat dipakaikan pakaian, memasukkan lengan ke lubang ataupun mengangkat kaki saat dipakaikan kaus kaki.
  • Pada usia 2 tahun, anak mulai bisa membuka kancing dan resleting yang berukuran besar. Biasanya ia juga sudah mampu melepas sendiri pakaiannya. Saat ia belajar membuka pakaian, ia juga akan mulai belajar memakai pakaian juga. Namun ia membutuhkan waktu lebih lama sebelum bisa memakai T-shirt sendiri yang membutuhkan keterampilan untuk menarik baju melalui kepalanya.
  • Pada usia 3 tahun, anak lebih terampil dalam memasang dan melepas kancing, kancing jepret berukuran besar, dan resleting. Kemampuan ini akan terus berlanjut dan disempurnakan hingga usia balita yang tentunya seiring dengan perkembangan motoriknya (motorik kasar dan motorik halus) maupun perkembangan kognitifnya. Sehingga orangtua tidak harus panik ketika anak belum bisa berpakaian secara sempurna pada usia batita, yang penting lebih mengenalkan dan melatih anak dasar-dasar keterampilan berpakaian.

Model baju vs tingkat kesulitan

Agar anak mudah belajar berpakaian sendiri, hal yang perlu dilakukan adalah mengajar anak dengan aktivitas yang setara dengan perkembangan motoriknya. Jenis serta model pakaian tertentu tentunya sangat berpengaruh pada tingkat kesulitan belajar.

Pakaian dengan kancing dan resleting yang besar akan memudahkan jari-jari kecilnya untuk memegang. Resleting dari bahan plastik dan mudah untuk dinaikkan serta diturunkan akan membuatnya lebih mudah berlatih tanpa rasa frustrasi. Ukuran pakaian yang agak longgar juga membuat anak tidak kesulitan membuka atau memakainya. Celana dengan karet di pinggang membuat lebih mudah ditarik oleh anak.

Mengajarkan gerakannya

Ajarkan secara bertahap gerakan-gerakan yang diperlukan. Misalnya saat membuka kancing, jari mana yang harus digunakan anak, ke arah mana anak harus menarik lepas.

Orangtua dapat mengajar anak memakai celana dengan bagian pinggang yang elastis berbahan karet dalam posisi duduk (anak sulit menjaga keseimbangan saat berdiri). Ajak anak untuk memasukkan satu per satu kakinya ke lubang yang tepat sebatas lutut, lalu minta anak berdiri dan ajari ia untuk menarik bagian pinggang ke atas. Mulailah dari meminta anak membuka resleting yang sudah dikaitkan terlebih dahulu oleh orangtua, perlahan anak akan mulai membuka dan menutup sendiri.

Untuk mengenakan kaus kaki, bantu anak membuka dengan kedua tangannya ataupun mendorong turun kaus kaki tersebut ke arah bagian ujung jari, baru memasukkan kakinya.

Kaus kaki dengan beberapa warna berbeda di bagian ujung jari dan tumit akan membuat anak lebih mengenal posisi.

Demikian juga ketika memakai celana, anak diminta duduk untuk memudahkannya memasukkan kaki ke lubang celananya. Misalnya, katakan, “Ayo masukan kaki kananmu ke lubang sebelah kanan dan kaki kirimu di lubang sebelah kiri”.

Anak juga dapat diajar untuk memakai sepatu dengan memasukkan kaki satu per satu, lalu merekatkan perekat velcro yang ada. Hindari sepatu yang menggunakan tali untuk diikat.
Harus sabar

Beberapa hal yang sering terjadi seperti salah memakai sepatu kanan di kaki kiri, membuka berulang kali kaus kaki, memasang kancing di lubang yang salah, membuka tutup resleting jaket atau tas orangtua, memakai pakaian terbalik, dan banyak ketidaksempurnaan lainnya adalah hal-hal yang pastinya terjadi dan menguji kesabaran orangtua. Ingatlah bahwa hal ini merupakan proses belajar yang normal dan wajar untuk dilalui anak. Namun, saat ia berhasil melakukannya, pasti anak akan merasa bangga dan terus menumbuhkan keinginan belajarnya.
Belajar melipat pakaian

Belajar melipat pakaian juga merupakan aktivitas untuk melatih perkembangan motorik anak. Selain itu, anak batita biasanya juga sangat senang saat ia bisa ‘membantu’ orangtuanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Walau begitu, melipat pakaian dan meletakkannya ke dalam lemari merupakan aktivitas yang membutuhkan koordinasi dan tahap perilaku motorik yang lebih kompleks, sehingga mungkin terlalu sulit untuk dilakukan anak batita.

Orang tua juga dapat melatih anak untuk aktivitas sederhana lainnya. Misalnya, meletakkan pakaian kotor di keranjang yang sudah disediakan, membantu mengambil cucian yang sudah kering dari jemuran ataupun mesin cuci (dengan pengawasan orangtua).

Bantulah dan ajari anak anak untuk memisahkan jenis dan warna pakaian yang sudah dicuci dan dikeringkan. Misalnya, kaus kaki, celana dan baju, berwarna dan tidak dst. Anak juga dapat diminta untuk melipat kain kecil terlebih dahulu, misalnya yang hanya membutuhkan satu kali lipatan. Baru kemudian meningkat dengan melipat saputangan atau lap yang bersih. Si kecil mungkin tidak dapat melipat dengan sempurna, tapi ia akan senang mencoba.

Meskipun seringkali justru memperlama penyelesaian pekerjaan, namun dengan sedikit kesabaran, aktivitas ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dan juga melatih anak untuk melakukan kebiasaan baik yang akan bermanfaat untuknya. Selalu ingat, saat anak masih kecil dan suka membantu, itu merupakan kesempatan yang baik untuk mengajarkan tanggung jawab kepada mereka.