Siapkah anak masuk daycare?

Suatu saat daycare kedatangan tamu yang berusia 3 tahun 7 bulan. Seorang anak perempuan yang cantik. Ketika wawancara awal, ia ingin sekali di daycare karena memang pada saat itu banyak teman. Wawancara kedua di hari berikutnya, ia mulai menampakkan ke engganannya untuk masuk. Hanya mau ditemani oleh ayahnya. Kebetulan memang ayahnya yang mengantar. Dan ditemani berkenalan, bermain sebentar dan duduk. Tapi selalu sebentar sebentar kembali ke ayahnya, seperti orang yang takut ditinggalkan. Anak yang merasa tidak nyaman.

Akhirnya sang ayah bercerita tentang anaknya. Yang memang sangat dekat dengannya. Sehari hari bersama dia. Dan kali ini sang ayah mendapatkan pekerjaan yang pantas dan kebetulan harus setiap hari masuk. Maka si anak cantik itu yang kita sebut namanya ‘Cantik’ harus mau tidak mau dititipkan ke daycare. Karena menurut pertimbangan orangtua, sang anak sudah seharusnya ada disana.

Cantik baru saja mendapat adik beberapa bulan yang lalu. Karena kedua orangtuanya bekerja maka adiknya juga harus dititipkan di rumah nenek, sementara cantik di titipkan di daycare mengingat usianya dan keterbatasan neneknya mengasuh. Begitulah.

Akhirnya cantika dititipkan di daycare keesokan harinya. Hari pertama, ia meronta ronta dan menangis karena langsung ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya. Setelah dibujuk baru ia mau tenang kembali. Siang hari ia tidak mau makan bahkan tidak mau tidur siang. serba tidak mau. Tibalah saat mandi sore, cantik masih menangis meminta untuk dijemput ayahnya. Dan ia mau menunggu ketika diberi tahu alasannya.

Ayahnya datang ia tiba tiba menangis kembali. akhirnya kami mengobrol pendek. Sepertinya sang anak belum siap untuk di daycare. Tapi menurut penuturan sang ayah, cantik ini sudah pernah masuk sekolah usia dini sebelumnya. Namun memang sulit beradaptasi dengan teman – temannya.

Anak anak yang kurang nyaman berada di daycare itu biasanya dnegan banyak sebab  misalnya :

  1. Kurang nyaman atau belum terbiasa di tempat baru
  2. Belum waktunya bersosialisasi dengan banyak teman
  3. Belum bisa meninggalkan zona nyaman dirumah
  4. Merasa ditinggalkan atau di abaikan

Kurang nyaman atau belum terbiasa itu karena merasa yang dilakukan itu sebuah keharusan. Jadi sebenarnya anak nggak mau untuk pergi, tapi terpaksa harus pergi meningglakan zona nyamannya dirumah. Atau karena orangtua harus bekerja jadi anak mau nggak mau harus mau ditinggalkan. Hal itu bisa jadi lupa dibicarakan dengan anak, atau dinegosiasikan dengan anak. Sehingga saat itu yang terjadi adalah anak anak memberontak. Dengan caranya seperti kanak kanak. Menangis.

yang ke dua karena belum waktunya bersosialiasi. Setiap anak emmeiliki rentang usia untuk bersosialisasi yang berbeda beda satu sama lain. Tergantung pada lingkungannya. Nah si Cantik ini mungkin baru sebatas berosialisasi baru dengan keluarga. Jarang bermain dengan teman sebaya. atau mungkin pernah bermain bersama, namun pas kesenth ngambek sehingga banyak teman kesulitan mendekati dia.

Yang ketiga belum bisa meninggalkan zona nyaman di rumah, yaitu zona kedekatan dengan orangtua dan kenyamanan semua ada dirumah.

Berikutnya merasa diabaikan, lebih ke arah kecemburuan kepada sang adik yang selalu ada disisi orangtua. Karena ketika si cantik ditinggalkan dalam keadaan ibu meaish membawa adik. Jadi si cantik merasa orangtua tidak menyayanginya. sehingga si cantik menangis sepanjang hari di daycare, tidak mau dibujuk atau bahkan diajak bicara. Karena memang dirumah tidak ada komunikasi tentang ini sebelumnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s