0

Drama Queen…

Sepintas terdengarnya memang lucu. Tapi itu yang terjadi pada anak anak ketika mereka merasa tidak nyaman. Dan jangan salah, drama queen ini memang selalu dilakukan dan akan terus dilakukan ketika mereka menginginkan sesuatu. Bahkan dalam keadaan sangat nyaman sekalipun.

Lho koq bisa?

Ya bisa aja. Anak anak yang biasanya selalu dituruti ketika meminta sesuatu dan jarang ditolak, akan melakukan hal seperti itu. pertama untuk mendapatkan perhatian dari orangtua dan lingkungan, dan yang berikutnya adalah karena terbiasa terpenuhi semua keinginan. Anak anak seperti itu akan menangis bertambah keras ketika orang disekelilingnya tidak mau mengabulkan permintaannya.

 

 

Advertisements
0

Anak adalah subject dan Bukan object ego orangtua

mari renungkan ini,

jika aku menginginkan anakku mengerti banyak hal, maka aku akan berlatih bersamanya untuk belajar mendengarkan dan memahami persoalan..
jika aku menginginkan ia mempercayaiku, berarti aku harus mulai melatih diriku untuk berbicara dengan maksud yang benar dan baik agar anakku memahaminya..
jika aku menginginkan anakku percaya diri, berarti aku harus melatih diriku mengatakan yang benar dan memujinya dengan tulus jika ia bisa melakukan sesuatu dengan baik, benar dan cara yang benar..
jika aku menginginkan anakku menjadi dirinya sendiri, berarti aku harus menahan egoku untuk mencampuri urusannya, kecuali jika ia meminta advis dan dukunganku..
membiarkan mereka tumbuh dengan benar itu butuh perjuangan dan juga kekuatan untuk menekan ego sebagai orang dewasa yang merasa tahu banyak hal..

Di daycare begitu banyak cerita yang bisa dibagi tentang orangtua maupun anak anak yang dititipkan. Ada orangtua yang sangat care terhadap anaknya dan mempercayakan pada daycare pengasuhan dan pendidikan dasarnya (karena dititipkan dari bayi) dan ada juga orangtua yang sekedar menitipkan karena tidak mau kegiatannya terganggu oleh kehadiran anak anaknya.

Kali ini aku akan bercerita tentang Harry, anak laki laki usia nyaris 2 tahun. Orangtuanya sudah pernah ingin mencoba trial di daycareku beberapa waktu lalu. Namun aku tolak. Karena daycare penuh. Dan setelah 4 bulanan, mungkin aku sudah melupakannya, orangtua kembali menghubungi untuk trial.

Akhirnya anak di trial hari itu. Pagi pagi, anak itu datang bersama ayahnya. Dan sang ayah bercerita. Umumnya orangtua, akan mengatakan bahwa anaknya begini dan begitu. Pernah dititipkan di beberapa daycare yang lain dan tidak cocok. Dengan berbagai alasan. Dari mulai daycarenya yang gurunya minim, samapai guru tak berpengalaman. Dari anaknya yang mudah beradaptasi namun tidak terpegang dengan baik.

Ketika di trial, aku selalu menyampaikan berulang kepada setiap orangtua yang akan menitipkan anaknya. Bahwa anak itu bukan barang. Jadi tidak sembarang titip, tapi daycare adalah tempat penitipan sekaligus mitra orangtua untuk pengasuhan anaknya.

Cerita berlanjut. Dan begitu ditinggal oleh papanya, seperti umumnya anak anak yang ditinggal di tempat baru, maka ia akan menghadapi sendiri semuanya. Mulai beradaptasi. Mulai menangis dengan keras, membanting semua yang dipegang. Termasuk botol susunya. Aku menunggu dan juga mengamati apa saja yang ingin dia lakukan. Mulai berguling. Dan menunjukkan siapa dirinya. Dan akhirnya tertidur karena kelelahan.

Anak anak begitu rapuh. Ia tidak bisa begitu saja seperti orang dewasa. Yang begitu pindah kerja langsung bisa beradaptasi dengan tempat baru. Anak anak berbeda sekali. Ia masih harus beradaptasi dengan tempat baru dengan lebih lama, karena meman kemampuannya belum seperti orang dewasa. Tampaknya itulah yang terjadi dengan Harry di hari ini.

 

0

Kemandirian anak usia 1-3 tahun

Anak anak berusia 1 – 3 tahun adalah anak anak yang suka bereksplorasi, lekas sekali mengelola informasi dan menelan mentah mentah apa yang didengar maupun yang dicontoh dari orang lain. Anak anak ini adalah anak dalam taraf golden age yaitu usia emas pertumbuhan. Biasanya anak anak seusia ini masih mudah untuk diberitahu atau diberikan stimulasi.

Di usia ini, anak anak dengan golden age ini pun sebenarnya dikategorikan sebagai anak anak yang mandiri. Artinya ; seharusnya sudah bisa melakukan aktifitas sendiri. Bermain, bersosialisasi dan juga bergerak. Orangtua pada masa ini bisa meletakkan pondasi terukur untuk pertumbuhan anak anak sesuai usianya untuk masa yang akan datang. Misalnya mengajarkan kemandirian, membiarkan untuk berpikir kritis, untuk bergerak aktif dan tidak menakut nakut dengan sesuatu yang diluar jangkauan pemikiran anak.

Kemandirian anak usia ini ditandai dengan :

  1. tidak menangis ketika ditinggalkan oleh orangtuanya bekerja
  2. bisa melakukan komunikasi dengan baik dan lancar terhadap anggota keluarga
  3. berani berbicara baik dengan bahasa isyarat maupun dengan bahasa verbal kepada orang lain
  4. mau melakukan aktifitas dan mencoba aktifitas baru dengan gembira
  5. mau melakukan atau belajar toilet training sesuai usianya.
0

Siapkah anak masuk daycare ? bagian (2)

Masih melanjutkan tulisan yang lalu

Anak anak umumnya senang berada di tempat baru. Bertemu teman baru dan bertemu hal baru. Namun untuk anak anak tertentu dan yang berkebutuhan khusus, perlakuan bisa jadi mau tidak mau harus berbeda.

Beberapa kasus di daycare, anak anak yang menangis dan tantrum di hari pertama biasanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman. Atau terbiasa untuk selalu bersama dan diperlakukan dengan ‘manja’ seperti orangtua pada umumnya. Orangtua lupa mengajarkan kemandirian pada anak dirumah.

Yang harus disadari orangtua, bahwa di daycare anak anak akan sepanjang hari disana. Bermain, belajar, beristirahat bahkan juga membersihkan diri disana. Dan ada kemungkinan anak akan terpapar hal hal dan pergaulan dengan anak anak didaycare. Terlepas itu hal baik dan buruk. Anak anak adalah penerima contoh dan peng adop contoh yang sangat baik dalam sebuah komunitas.

Sehingga jauh jauh hari sebelum anak dimasukkan ke daycare, orangtua diharuskan menimbang kembali keputusannya memasukkan anaknya ke daycare. Karena pada dasarnya daycare hanyalah mitra orangtua untuk memberikan pengasuhan sementara ketika anak anak tidak berada dalam pengawasan orangtua.

Jadi yang harus diingat oleh orangtua ketika anak anak akan dititipkan ke daycare adalah;

  1. kesiapan orangtua melepas anaknya
  2. kesiapan anak meninggalkan kenyamanan sementara
  3. kesiapan anak untuk tinggal lebih lama dengan nyaman di suatu tempat.

Mengapa begitu ? ketika orangtua tidak siap, artinya setengah hati melepaskan anak anaknya, maka anak anak akan merasa tidak nyaman dan merasa gelisah. Anak anak harus diberikan pemahaman sebelum ke daycare, bahwa ayah dan ibu tidak berada didekatnya untuk waktu waktu tertentu. Sehingga anak harus berada di daycare. Pemahaman itu harus disampaikan ke anak agar anak menyadari dan tidak merasa ditinggalkan atau dibohongi oleh orangtuanya ketika sang anak berada di daycare.

begitulah.. siap atau tidak siap, orangtua juga harus andil dalam kesiapan anaknya ketika harus masuk ke daycare.

0

Siapkah anak masuk daycare?

Suatu saat daycare kedatangan tamu yang berusia 3 tahun 7 bulan. Seorang anak perempuan yang cantik. Ketika wawancara awal, ia ingin sekali di daycare karena memang pada saat itu banyak teman. Wawancara kedua di hari berikutnya, ia mulai menampakkan ke engganannya untuk masuk. Hanya mau ditemani oleh ayahnya. Kebetulan memang ayahnya yang mengantar. Dan ditemani berkenalan, bermain sebentar dan duduk. Tapi selalu sebentar sebentar kembali ke ayahnya, seperti orang yang takut ditinggalkan. Anak yang merasa tidak nyaman.

Akhirnya sang ayah bercerita tentang anaknya. Yang memang sangat dekat dengannya. Sehari hari bersama dia. Dan kali ini sang ayah mendapatkan pekerjaan yang pantas dan kebetulan harus setiap hari masuk. Maka si anak cantik itu yang kita sebut namanya ‘Cantik’ harus mau tidak mau dititipkan ke daycare. Karena menurut pertimbangan orangtua, sang anak sudah seharusnya ada disana.

Cantik baru saja mendapat adik beberapa bulan yang lalu. Karena kedua orangtuanya bekerja maka adiknya juga harus dititipkan di rumah nenek, sementara cantik di titipkan di daycare mengingat usianya dan keterbatasan neneknya mengasuh. Begitulah.

Akhirnya cantika dititipkan di daycare keesokan harinya. Hari pertama, ia meronta ronta dan menangis karena langsung ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya. Setelah dibujuk baru ia mau tenang kembali. Siang hari ia tidak mau makan bahkan tidak mau tidur siang. serba tidak mau. Tibalah saat mandi sore, cantik masih menangis meminta untuk dijemput ayahnya. Dan ia mau menunggu ketika diberi tahu alasannya.

Ayahnya datang ia tiba tiba menangis kembali. akhirnya kami mengobrol pendek. Sepertinya sang anak belum siap untuk di daycare. Tapi menurut penuturan sang ayah, cantik ini sudah pernah masuk sekolah usia dini sebelumnya. Namun memang sulit beradaptasi dengan teman – temannya.

Anak anak yang kurang nyaman berada di daycare itu biasanya dnegan banyak sebabĀ  misalnya :

  1. Kurang nyaman atau belum terbiasa di tempat baru
  2. Belum waktunya bersosialisasi dengan banyak teman
  3. Belum bisa meninggalkan zona nyaman dirumah
  4. Merasa ditinggalkan atau di abaikan

Kurang nyaman atau belum terbiasa itu karena merasa yang dilakukan itu sebuah keharusan. Jadi sebenarnya anak nggak mau untuk pergi, tapi terpaksa harus pergi meningglakan zona nyamannya dirumah. Atau karena orangtua harus bekerja jadi anak mau nggak mau harus mau ditinggalkan. Hal itu bisa jadi lupa dibicarakan dengan anak, atau dinegosiasikan dengan anak. Sehingga saat itu yang terjadi adalah anak anak memberontak. Dengan caranya seperti kanak kanak. Menangis.

yang ke dua karena belum waktunya bersosialiasi. Setiap anak emmeiliki rentang usia untuk bersosialisasi yang berbeda beda satu sama lain. Tergantung pada lingkungannya. Nah si Cantik ini mungkin baru sebatas berosialisasi baru dengan keluarga. Jarang bermain dengan teman sebaya. atau mungkin pernah bermain bersama, namun pas kesenth ngambek sehingga banyak teman kesulitan mendekati dia.

Yang ketiga belum bisa meninggalkan zona nyaman di rumah, yaitu zona kedekatan dengan orangtua dan kenyamanan semua ada dirumah.

Berikutnya merasa diabaikan, lebih ke arah kecemburuan kepada sang adik yang selalu ada disisi orangtua. Karena ketika si cantik ditinggalkan dalam keadaan ibu meaish membawa adik. Jadi si cantik merasa orangtua tidak menyayanginya. sehingga si cantik menangis sepanjang hari di daycare, tidak mau dibujuk atau bahkan diajak bicara. Karena memang dirumah tidak ada komunikasi tentang ini sebelumnya.

0

Kemandirian anak usia 0 – 12 bulan

Di daycare, anak anak berlatih mandiri. Tidak menangis ketika ditinggalkan dan gembira bermain. Untuk usia 0 – 12 bulan, beberapa anak awalnya akan tantrum ketika ditinggalkan, menangis keras karena sudah terbiasa menangis sebagai senjata. dan itu akan berlangsung beberapa hari tergantung kesiapan si anak untuk beradaptasi. Pada bayi menjadi lebih mudah beradaptasi jika dalam keadaan perut kenyang, merasa aman dan ada teman bermain.

Melatihkan kemandirian tidak serta merta sehari dua hari selesai, namun membutuhkan banyak proses panjang. Salah satunya adalah mensugesti anak untuk merasa nyaman ditempat baru. Memainkan mimik baik baik saja ketika meninggalkan anak. sehingga anak merasa aman. Melatihkan kemandirian ke anak anak harus dengan sabar dan tidak emosional. Karena biasanya anak aakan menangis keras, kemudian akan muntah, pura pura batuk batuk atau bahkan mengompol jika tidak menggunakan diapers.

 

0

Kemandirian seorang anak

Kemandirian seorang anak tidak bisa diukur dari usianya, namun dari banyaknya berlatih dan diberikan kesempatan oleh kedua orangtuanya dalam hal pengembangan diri. Anak anak sudah memiliki kehendak dan bisa mengembangkan dirinya sejak ia mengenal dan tahu sesuatu tentang dirinya serta lingkungannya. Lingkungan dengan orangtua yang protektif akan membuat anak tidak berkembang secara mandiri untuk mengurus dirinya sendiri.
ketika seorang anak berusaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik, maka dengan sendirinya ia mulai berpikir untuk mandiri.
membiarkan seorang anak tanpa pengawasan ketika ia berproses jelas salah, namun kita sebagai orangtua bisa melakukan pengawasan terhadap anak tanpa ia tahu sedang diawasi.
biasanya anak anak akan bertanya tentang suatu hal untuk membantu pekerjaannya. berikan jawaban yang jujur dan berikan beberapa opini atau cara untuk membantunya meluruskan alur pemikiran untuk emnyelesaikan masalahnya. maka sudah pasti ketika ia memilih kit ateetap waswas. biarkan saja, karena ada seribu jalan menuju puncak gunung. dan aanak anak akan mencoba semuanya.
proses kemandirian anak anak juga tidak sebentar, namun membutuhkan proses berulang, penugasan dan evaluasi dari orangtua untuk terus mengasah kemandiriannya.
Bisa dimulai dari menyapu, belajar makan sendiri, memisahkan pakaian kotor dan bersih, membantu membuang sampah sesuai jadwal atau bahkan membereskan mainannya sendiri setelah dipakai.Anak anak akan mematuhi aturan yang berlaku ketika orangtua mau ikut serta memberikan contohnya. Ikut melakukan kegiatan bersama, dalam artian orang tua memberi contoh dengan melakukan tugasnya sendiri. Setelah selesai ikut membantu anak dan mengarahkan anak belajar mandiri.

Sekali lagi, butuh waktu dan proses panjang untuk membuat anak anak mandiri baik secara fisik maupun emosionalnya. Butuh banyak latihan dan banyak kasus yang harus diselesaikan anak seperti bermain puzle, selalu berusaha untuk menyusun dan menempatkan diri secara tepat pada berbagai situasi yang membutuhkan kemandirian.

Begitulah..