0

Siapkah anak masuk daycare ? bagian (2)

Masih melanjutkan tulisan yang lalu

Anak anak umumnya senang berada di tempat baru. Bertemu teman baru dan bertemu hal baru. Namun untuk anak anak tertentu dan yang berkebutuhan khusus, perlakuan bisa jadi mau tidak mau harus berbeda.

Beberapa kasus di daycare, anak anak yang menangis dan tantrum di hari pertama biasanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman. Atau terbiasa untuk selalu bersama dan diperlakukan dengan ‘manja’ seperti orangtua pada umumnya. Orangtua lupa mengajarkan kemandirian pada anak dirumah.

Yang harus disadari orangtua, bahwa di daycare anak anak akan sepanjang hari disana. Bermain, belajar, beristirahat bahkan juga membersihkan diri disana. Dan ada kemungkinan anak akan terpapar hal hal dan pergaulan dengan anak anak didaycare. Terlepas itu hal baik dan buruk. Anak anak adalah penerima contoh dan peng adop contoh yang sangat baik dalam sebuah komunitas.

Sehingga jauh jauh hari sebelum anak dimasukkan ke daycare, orangtua diharuskan menimbang kembali keputusannya memasukkan anaknya ke daycare. Karena pada dasarnya daycare hanyalah mitra orangtua untuk memberikan pengasuhan sementara ketika anak anak tidak berada dalam pengawasan orangtua.

Jadi yang harus diingat oleh orangtua ketika anak anak akan dititipkan ke daycare adalah;

  1. kesiapan orangtua melepas anaknya
  2. kesiapan anak meninggalkan kenyamanan sementara
  3. kesiapan anak untuk tinggal lebih lama dengan nyaman di suatu tempat.

Mengapa begitu ? ketika orangtua tidak siap, artinya setengah hati melepaskan anak anaknya, maka anak anak akan merasa tidak nyaman dan merasa gelisah. Anak anak harus diberikan pemahaman sebelum ke daycare, bahwa ayah dan ibu tidak berada didekatnya untuk waktu waktu tertentu. Sehingga anak harus berada di daycare. Pemahaman itu harus disampaikan ke anak agar anak menyadari dan tidak merasa ditinggalkan atau dibohongi oleh orangtuanya ketika sang anak berada di daycare.

begitulah.. siap atau tidak siap, orangtua juga harus andil dalam kesiapan anaknya ketika harus masuk ke daycare.

Advertisements
0

Siapkah anak masuk daycare?

Suatu saat daycare kedatangan tamu yang berusia 3 tahun 7 bulan. Seorang anak perempuan yang cantik. Ketika wawancara awal, ia ingin sekali di daycare karena memang pada saat itu banyak teman. Wawancara kedua di hari berikutnya, ia mulai menampakkan ke engganannya untuk masuk. Hanya mau ditemani oleh ayahnya. Kebetulan memang ayahnya yang mengantar. Dan ditemani berkenalan, bermain sebentar dan duduk. Tapi selalu sebentar sebentar kembali ke ayahnya, seperti orang yang takut ditinggalkan. Anak yang merasa tidak nyaman.

Akhirnya sang ayah bercerita tentang anaknya. Yang memang sangat dekat dengannya. Sehari hari bersama dia. Dan kali ini sang ayah mendapatkan pekerjaan yang pantas dan kebetulan harus setiap hari masuk. Maka si anak cantik itu yang kita sebut namanya ‘Cantik’ harus mau tidak mau dititipkan ke daycare. Karena menurut pertimbangan orangtua, sang anak sudah seharusnya ada disana.

Cantik baru saja mendapat adik beberapa bulan yang lalu. Karena kedua orangtuanya bekerja maka adiknya juga harus dititipkan di rumah nenek, sementara cantik di titipkan di daycare mengingat usianya dan keterbatasan neneknya mengasuh. Begitulah.

Akhirnya cantika dititipkan di daycare keesokan harinya. Hari pertama, ia meronta ronta dan menangis karena langsung ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya. Setelah dibujuk baru ia mau tenang kembali. Siang hari ia tidak mau makan bahkan tidak mau tidur siang. serba tidak mau. Tibalah saat mandi sore, cantik masih menangis meminta untuk dijemput ayahnya. Dan ia mau menunggu ketika diberi tahu alasannya.

Ayahnya datang ia tiba tiba menangis kembali. akhirnya kami mengobrol pendek. Sepertinya sang anak belum siap untuk di daycare. Tapi menurut penuturan sang ayah, cantik ini sudah pernah masuk sekolah usia dini sebelumnya. Namun memang sulit beradaptasi dengan teman – temannya.

Anak anak yang kurang nyaman berada di daycare itu biasanya dnegan banyak sebabĀ  misalnya :

  1. Kurang nyaman atau belum terbiasa di tempat baru
  2. Belum waktunya bersosialisasi dengan banyak teman
  3. Belum bisa meninggalkan zona nyaman dirumah
  4. Merasa ditinggalkan atau di abaikan

Kurang nyaman atau belum terbiasa itu karena merasa yang dilakukan itu sebuah keharusan. Jadi sebenarnya anak nggak mau untuk pergi, tapi terpaksa harus pergi meningglakan zona nyamannya dirumah. Atau karena orangtua harus bekerja jadi anak mau nggak mau harus mau ditinggalkan. Hal itu bisa jadi lupa dibicarakan dengan anak, atau dinegosiasikan dengan anak. Sehingga saat itu yang terjadi adalah anak anak memberontak. Dengan caranya seperti kanak kanak. Menangis.

yang ke dua karena belum waktunya bersosialiasi. Setiap anak emmeiliki rentang usia untuk bersosialisasi yang berbeda beda satu sama lain. Tergantung pada lingkungannya. Nah si Cantik ini mungkin baru sebatas berosialisasi baru dengan keluarga. Jarang bermain dengan teman sebaya. atau mungkin pernah bermain bersama, namun pas kesenth ngambek sehingga banyak teman kesulitan mendekati dia.

Yang ketiga belum bisa meninggalkan zona nyaman di rumah, yaitu zona kedekatan dengan orangtua dan kenyamanan semua ada dirumah.

Berikutnya merasa diabaikan, lebih ke arah kecemburuan kepada sang adik yang selalu ada disisi orangtua. Karena ketika si cantik ditinggalkan dalam keadaan ibu meaish membawa adik. Jadi si cantik merasa orangtua tidak menyayanginya. sehingga si cantik menangis sepanjang hari di daycare, tidak mau dibujuk atau bahkan diajak bicara. Karena memang dirumah tidak ada komunikasi tentang ini sebelumnya.

0

Kemandirian anak usia 0 – 12 bulan

Di daycare, anak anak berlatih mandiri. Tidak menangis ketika ditinggalkan dan gembira bermain. Untuk usia 0 – 12 bulan, beberapa anak awalnya akan tantrum ketika ditinggalkan, menangis keras karena sudah terbiasa menangis sebagai senjata. dan itu akan berlangsung beberapa hari tergantung kesiapan si anak untuk beradaptasi. Pada bayi menjadi lebih mudah beradaptasi jika dalam keadaan perut kenyang, merasa aman dan ada teman bermain.

Melatihkan kemandirian tidak serta merta sehari dua hari selesai, namun membutuhkan banyak proses panjang. Salah satunya adalah mensugesti anak untuk merasa nyaman ditempat baru. Memainkan mimik baik baik saja ketika meninggalkan anak. sehingga anak merasa aman. Melatihkan kemandirian ke anak anak harus dengan sabar dan tidak emosional. Karena biasanya anak aakan menangis keras, kemudian akan muntah, pura pura batuk batuk atau bahkan mengompol jika tidak menggunakan diapers.