0

Keterlambatan Bicara Speech Delay (1)

Masih diseputaran daycare. Sering ditemukan anak anak yang masih sulit untuk berbicara atau berkomunikasi. Dna umumnya usianya masih disekitaran 15 bulan hingga 4 tahun. Mereka mengalami keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara atau speech delay adalah keterlambatan kemampuan berbicara yang terjadi pada anak-anak. Gangguan ini sering ditemui pada zaman sekarang oleh para orang tua pada anak mereka. Ini terjadi kerena kesibukan orang tua yang padat sehingga mereka lupa untuk banyak melakukan stimulasi berbicara kepada anaknya.

Semakin hari, gangguan speech delay ini tampak semakin berkembang pesat. Bahkan menurut beberapa laporan dari catatan kesehatan masyarakat menunjukan bahwa tingkat terjadinya keterlambatan bicara melonjak sekitar 5-10%. Tidak ada salahnya jika Anda sebagai orang tua untuk memberikan perhatian yang berlebih terhadap perkembangan bicara anak.

Karena dengan semakin dini, Anda dapat mendeteksi speech delay, maka akan semakin memudahkan Anda dalam mengatasi keterlambatan bicara pada anak. Bahkan sangat disarankan kepada Anda untuk memeriksakannya kepada dokter anak jika tidak mampu mendeteksinya sendiri.

Beberapa tanda dan gejala speech delay pada anak

Untuk mendeteksi speech delay pada anak secara cepat, maka kita perlu mengetahui apa saja tanda dan gejala speech delay pada anak. Ciri bicara terlambat pada anak bisa kita lihat sesuai dengan perkembangan usianya. Simak saja tanda dan gejala speech delay atau keterlambatan bicara pada anak dibawah ini.

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 1 tahun

  • Menggunakan bahasa tubuh seperti melambaikan tangan ‘dadah’ atau menunjuk objek tertentu
  • Berlatih menggunakan beberapa konsonan yang berbeda
  • Vokalisasi atau melakukan komunikasi

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 1 – 2 tahun

  • Tidak memanggil “papa” dan “mama”
  • Tidak menjawab bila disapa dengan “hallo”, “hai”
  • Tidak memiliki satu atau 3 kata pada usia 12 bulan dan 15 kata pada usia 18 bulan
  • Tidak mampu mengidentifikasi bagian tubuh
  • Kesulitan mengulang suara dan gerakan
  • Lebih memilih menunjukkan gerakan daripada berbicara verbal

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 2 – 5 tahun

  • Belum mampu menyampaikan kata-kata atau frase secara spontan
  • Belum mampu mengikuti petunjuk dan perintah sederhana
  • Kurang bunyi konsonan di awal atau akhir kata, seperti “obin” (mobil), “mbin” (ambil)
  • Tidak dipahami bicaranya oleh keluarga terdekat
  • Tak mampu untuk membentuk 2 atau 3 kalimat sederhana

Demikian beberapa gejala speech delay pada anak. Namun, apabila masih merasa ragu terhadap diagnosis sendiri, tidak ada salahnya mencoba untuk memeriksakannya kepada dokter yang lebih ahli.

Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak (Speech Delay)

Selain penyebab utama speech delay yaitu kurangnya rangsangan berbicara, ada banyak faktor penyebab lainnya. Beberapa diantaranya bahkan perlu diwaspadai, karena tanpa sadar sering dilakukan oleh orang tua.Gangguan keterlambatan bicara adalah hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bicara pada anak-anak sering dihadapi pada ibu yang bekerja (Jacinta F.R. 2001). Penyebab dari keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :

  1. Hambatan pendengaran

Hambatan pada pendengaran berkaitan dengan hambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru, dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah adanya infeksi telinga.

  1. Kelainan organ bicara.

Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf ”t”, ”n” dan ”l”. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti ”f”, ”v”, ”s”, ”z” dan ”th”. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti ”s”, ”k”, dan ”g”.

  1. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral motor

Keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan adanya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan dalam menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

  1. Masalah keturunan

Sejumlah fakta menunjukan bahwa pada beberapa kasus dimana seorang anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Gangguan tersebut timbul karena kelainan genetik yang menurun dari orang tua. Biasanya juga terjadi pada salah satu atau ke dua orang tua saat kecil. Menurut Mery GL anak yang lahir dengan kromosom 47 XXX terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah. sedangkan Bruce Beender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY mengalami kelainan bicara ekspresif dan reseptif lebih berat dibandingkan dengan kelainan kromosom 47 XXX.

  1. Autisme

Gangguan bicara dan bahasa yang berat dapat disebabkan oleh autisme. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

  1. Gangguan emosi dan perilaku

Gangguan bicara biasanya menyertai pada gangguan disfungsi otak minimal, gejala yang terjadi sangat minimal, sehingga tidak mudah untuk dikenali. Biasanya disertai kesulitan belajar, hiperaktif, tidak terampil dan gejala tersamar lainnya.

  1. Alergi makanan

Alergi makanan ternyata bisa juga mengganggu fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan, salah satunya adalah perkembangan bicara pada anak. Bila alergi makanan sebagai penyebab biasanya keterlambatan bicara terjadi pada usia di bawah 2 tahun, namun di atas usia 2 tahun anak akan tampak sangat pesat perkembangan bicaranya.

  1. Lingkungan yang tertutup

Dalam keadaan ini, anak tidak mendapat rangsangan yang cukup dari lingkungan. Bila anak yang kurang mendapat rangsangan tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan bicara yang berat dapat terjadi. Hal ini bukan karena deprivasi lingkungan semata, namun karena adanya kelainan saraf karena kurang gizi atau penelantaran anak.

  1. Pola pengasuhan dan komunikasi

Pola pengasuhan dan komunikasi serta interaksi dengan orang tua juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anaklah yang membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekalipun. Pada umumnya ibu yang bekerja mengajak anaknya bicara dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban yang sangat singkat. Selain ibu yang bekerja tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berkomunikasi, tanpa disadari kmunikasi dengan memberi umpan balik, merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan bahasa.

  1. Lingkungan yang sepi

Berbicara adalah bagian tingkah laku, jadi ketrampilan yang didapat melalui proses imitasi atau meniru. Bila stimulasi sejak awal kurang, maka obyek yang ditiru pun tidak ada sehingga dapat menghambat kemampuan bicara pada anak.

  1. Lingkungan yang tidak kondusif

Bicara biasanya digunakan orang-orang disekitar anak untuk mengekspresikan kemarahan, ketegangan, kekacauan, dan ketidak senangan, sehingga anak akan menghindar untuk berbicara lebih banyak untuk menjauhi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut.

  1. Bilingual (2 bahasa)

Pemakaian 2 bahasa biasanya juga menjadi penyebab keterlambatan bicara, namun keadaan ini tiak terlalu mengkhawatirkan. Umumnya anak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kelompok anak bilingual tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa, kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi.

  1. Audio Visual / Televisi

Sejauh ini, kebanyakan menonton televisi pada anak usia balita (usia toddler) merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat menonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi, suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual ataupun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan atau orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terlambat perkembangannya.

 

0

Pentingnya Tidur Siang Untuk Anak

Tidur siang, pernyataan ini pasti membuat anak anak enggan. Apalagi jika anak anak sedang asyik bermain atau sedang melakukan hal yang menyenangkan. Padahal tidur siang itu penting lho buat tumbuh kembang anak.

Menurut Kim West, MD., sleep coach dari Annapolis, Maryland, sekaligus penulis buku The Sleep Lady Good Night, Sleep Tight: Gentle Proven Solutions to Help Your Child Sleep Well and Wake Up Happy, tumbuh kembang anak akan lebih maksimal lagi bila ia terbiasa tidur siang dan tidur nyenyak sepanjang malam. Karena di saat tidur, tubuh anak akan memproduksi hormon pertumbuhan yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya (artinya: anak yang cukup istirahat akan lebih sehat). Kurangnya waktu tidur pada anak juga sering kali dihubungkan dengan masalah kesehatan. Sebuah studi yang dilansir oleh Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine menyebutkan bahwa anak di bawah usia 5 tahun yang tidak bisa tidur malam dengan nyenyak (sekitar 10 – 12 jam), memiliki risiko tinggi terkena obesitas, yang dapat membawanya ke masalah kesehatan lainnya seperti diabetes dan penyakit jantung.

Hasil serupa juga didapat dari penelitian yang dilakukan oleh Elsie Taveras, Ph.D., dari Harvard yang menyatakan bahwa bayi yang tidur kurang dari 12 jam sehari memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengalami kelebihan berat badan. Selain itu, Anda pasti juga menyadari kalau anak menjadi lebih sulit diatur dan lebih rewel ketika ia kurang tidur. Itu sebabnya, menurut Robert Beckerman, M.D., dokter spesialis gangguan tidur dari Children’s Mercy Hospitals and Clinics, Kansas City, Missouri, anak-anak, terutama yang memiliki gangguan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan hiperaktif, harus mendapatkan tidur siang yang berkualitas. Tidur yang berkualitas akan memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi, mengerti, bahkan melakukan hal yang mudah sekalipun.

Sebuah penelitian yang dilakukan University of Southern Missisipi yang mengamati laporan dari para orang tua, menemukan bahwa anak usia 4 – 5 tahun yang tidak pernah tidur siang ternyata memiliki tingkat hiperaktif yang lebih tinggi, mudah gelisah, dan depresi dibanding anak yang tidur siang setidaknya seminggu sekali.

Kebutuhan tidur anak-anak dan remaja, setidaknya sembilan jam tidur tiap harinya. Terganggunya jam tidur bagi anak-anak dapat mempengaruhi performa mereka di sekolah, hubungan sosial, dan kegiatan ekstrakurikuler mereka. Untuk meningkatkan waktu tidur anak, maka beberapa hal ini bisa dilakukan:

  • Berikan rutinitas waktu tidur yang menenangkan untuk anak, misalnya membacakan dongeng atau mandikan dengan air hangat sebelum tidur.
  • Tentukan waktu tidur yang pasti, baik pada hari sekolah maupun akhir pekan, dan jangan melakukan banyak perubahan.
  • Matikan semua peralatan elektronik, seperti TV, komputer, ponsel, dan radio, satu jam sebelum jam tidur.
  • Jangan beri makan porsi besar jika sudah mendekati jam tidur.
  • Makanan atau minuman yang mengandung kafein sebaiknya tidak diberikan kurang dari enam jam sebelum jam tidur.
  • Tidurkan bayi dan anak-anak saat mereka kelelahan, tapi masih terjaga. Hindari mereka tertidur di pangkuan orang tua atau di kamar lain.
  • Pastikan suhu kamar tidur terasa sejuk dan gelap.
  • Hindari kebisingan di sekitar rumah.
0

Penyebab Anak Kurang Konsentrasi

Di daycare, saya sering dapat mendapatkan keluhan atau curhat dari orangtua mengenai anak mereka yang sulit fokus atau konsentrasi terutama yang masih berusia batita dan balita atau bahkan yang sudah berusia diatas 5 tahun. Kurang konsentrasi tentu saja sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi belajar anak. Dan orangtua sebagai orang terdekat berusaha keras membantu anak mereka untuk bisa fokus atau konsentrasi biasanya telah melakukan banyak cara. Dengan membawa anak ke psikolog, psikiater, konseling, dan  bahkan ikut beberapa model terapi agar ada kemajuan untuk konsentrasinya. Namun ada yang berhasil, dan banyak yang tidak berubah. Sehingga akhirnya orangtua maupun anaknya sama-sama frustrasi karena usaha tersebut diatas.

Berikut ini adalah uraian tentang kondisi sulit konsentrasi yang saya pahami. Besar harapan saya, setelah baca artikel ini orangtua bisa mendapat solusi terbaik untuk putra-putrinya yang mengalami sulit konsentrasi.

Beberapa pemahaman yang salah tentang konsentrasi

ini pengalaman saya menangani anak – anak di daycare yang kesulitan konsentrasi, dan hal ini membuat saya mendapatkan pemahaman baru yang mengubah paradigma saya tentang kondisi sulit konsentrasi yang sering dialami anak. Seringkali label sulit konsentrasi ini diberikan pada anak, oleh orangtua atau guru, karena mereka tidak mengerti kemampuan anak untuk fokus secara optimal.

Begini ceritanya. Salah seorang ibu yang memiliki anak usia 4 tahun datang ke daycare dan mengkonsultasikan tentang kemampuan anaknya yang tidak bisa konsentrasi dan fokus pada satu hal.

Dan saya menjawab bahwa itu adalah hal yang wajar dan normal yang terjadi pada anak anak seusia itu. Dimana anak anak itu lebih suka pada kegiatan yang bergerak. Sang ibu menginginkan anaknya bisa duduk anteng dan konsentrasi dengan apa yang dikerjakan. seperti belajar, atau bermain puzzle.  Hal itu juga bisa terjadi pada anak anak yang berusia diatasnya ketika mendapati seuatu yang tidak menarik minat dan perhatiannya untuk dikerjakan.

Sebenarnya fokus atau konsentrasi adalah kemampuan memusatkan perhatian dan pikiran pada satu objek atau kegiatan untuk waktu tertentu. Lama waktu fokus bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari situasi lingkungan, kondisi fisik dan emosi, motivasi, ketertarikan, dan tujuan yang hendak dicapai.

Untuk mudahnya, dalam kondisi normal, lama waktu konsentrasi adalah sama dengan usia dijadikan menit. Bila anak usianya 5 tahun maka rentang waktu konsentrasi maksimal adalah 5 menit. Untuk orang dewasa maksimal 30 menit. Misal, usia orang dewasa 45 tahun, waktu fokus maksimal adalah 30 menit.

Ini adalah kemampuan fokus dalam kondisi normal. Untuk fokus tentu butuh energi yang besar. Dan fokus dalam waktu lama akan sangat melelahkan. Namun bila objek fokus, dalam hal ini bahan ajar, memberi rasa senang atau bahagia, anak pasti bisa fokus dalam waktu yang lama.

Biasanya, saat main game anak bisa konsentrasi lebih lama. Yang terjadi adalah mereka, karena senang dan penasaran, memaksa diri mereka untuk terus main. Mata anak biasanya akan lelah sekali dan kepalanya bisa pusing.

Dalam kondisi normal, saat anak fokus belajar, setelah mencapai rentang waktu fokus maksimal, misal untuk anak usia 6 tahun adalah 6 menit, maka anak perlu istirahat sejenak, misal 5 menit.

Untuk orang dewasa, setelah fokus selama 30 menit perlu istirahat sekitar 10 menit. Ini perlu dilakukan rutin. Fokus, rileks, fokus, rileks.

Beberapa alasan mengapa anak sulit dan kurang berkonsentrasi :

  • Ketertarikan akan sesuatu

Salah satu alasan utama anak mau berkonsentrasi ria saat belajar atau ngulik sesuatu adalah karena ia tertarik dan suka dengan hal yang sedang dihadapinya. entah itu materi yang dipelajari ataupun pekerjaan yang sedang dilakukannya saat ngulik. Jangankan anak, orangtua juga ketika tertarik akan sesuatu pasti cepat sekali konsentrasi. Ini adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Dan sebaliknya walau dipaksa bagaimanapun, bila sudah tidak tertarik atau tidak suka, pasti akan sangat sulit untuk konsentrasi dengan sesuatu.

Mengapa anak tidak tertarik atau suka belajar? atau sesuatu yang sering kita embel embeli dengan kata belajar? Karena belajar itu pengertiannya bisa menjadi sesuatu yang sulit dimengerti prosesnya oleh orang awam. Jadi ketika anak diajak, yuk belajar.. mereka jadi emoh dan tidak tertarik. Banyak orang berpikir bahwa belajar itu adalah saat anak membaca buku, atau anak melihat guru mengajar dikelas dst. Padahal itu belum tentu bisa disebut dengan belajar.

Belajar itu adalah proses yang terjadi dari merasa tertarik, ingin tahu kemudian mengerti setelah membacanya atau mengetahui sesuatu yang diinginkannya.

Anak anak akan berkonsentrasi ketika apa yang mereka lihat itu menarik, kelihatan / real, relevan, disukai dan mereka mampu menyerapnya. Artinya mereka mampu memahaminya.

  • Gangguan

Salah satu faktor yang membuat anak sulit konsentrasi adalah gangguan dari lingkungan atau situasi yang tidak mendukung.Misalnya dari HP, Televisi, radio, ajakan teman bermain ketika sedang belajar, game dll.

  • Kelelahan 

Kegiatan fisik yang dilakukan sehari penuh, atau kurang tidur bisa mengakibatkan kelelahan pada anak. Dalam kondisi kelelahan seperti ini anak tentu sulit konsentrasi karena butuh istirahat.

  • Kecemasan dan ketakutan

Salah satu sebab anak sulit konsentrasi, dan ini jarang disadari orangtua, adalah karena anak merasa cemas atau takut. Anak sendiri tidak tahu bahwa ia cemas atau takut karena memang masih terlalu kecil untuk memahami hal ini. Saat anak cemas atau takut, maka pikirannya tidak bisa fokus.

Jadi ayah bunda, papa mama yang baik. Tidak perlu panik jika putra putri kurang konsentrasi. Berikanlah sesuatu yang menarik untuk membuatnya menyukai akan suatu hal dan fokus pada hal itu. Kurangi gangguan pada saat anak membutuhkan ketenangan belajar. Dan sebisa mungkin membuat anak lebih rileks dalam belajar atau bermain hingga anak benar benar konsentrasi pada apa yang dihadapinya.

0

Keterampilan berpakaian untuk balita, kenali tahapannya yyuukk…

Cakap menggunakan pakaian sendiri merupakan keterampilan anak yang sudah tentu tidak didapatkan begitu saja dengan mudah. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui lebih dulu.

Salah satu hal yang paling sering dicoba anak adalah dengan belajar berpakaian sendiri. Banyak tahapan serta proses yang perlu dikuasai anak hingga ia bisa memakai baju sendiri secara sempurna.

Keterampilan berpakaian dapat memakan waktu beberapa tahun untuk mencapai kesempurnaan, dari sekitar usia 18 bulan hingga 5 tahun. Memakai dan melepas pakaian merupakan bagian dari keahlian ini.  Berikut tahapan anak dapat berpakaian sendiri, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.
Tahapan keterampilan berpakaian

  • Mulai usia 8 bulan, sebenarnya anak sudah mulai memperlihatkan keterampilan dasar dimana ia mulai menarik lepas kaus kakinya, bermain dengan tali, kancing, dan perekat velcro yang ada di pakaian.
  • Pada usia menjelang 1 tahun, anak memperlihatkan minat untuk melepaskan topi, hiasan rambut, melepas sepatu dan kaus kaki. Ia juga mulai bekerja sama saat dipakaikan pakaian seperti memasukkan lengannya ke lubang lengan, atau bahkan meluruskan kaki saat dipakaikan celana.
  • Mendekati usia 2 tahun, anak sudah mampu membuka sendiri sepatunya, kaus kaki, bahkan mencoba memakai pakaian sendiri (meskipun seringkali belum berhasil), mencoba untuk memasukkan kaki ke dalam satu lubang celana, memakai kaus secara terbalik. Ia juga membantu saat dipakaikan pakaian, memasukkan lengan ke lubang ataupun mengangkat kaki saat dipakaikan kaus kaki.
  • Pada usia 2 tahun, anak mulai bisa membuka kancing dan resleting yang berukuran besar. Biasanya ia juga sudah mampu melepas sendiri pakaiannya. Saat ia belajar membuka pakaian, ia juga akan mulai belajar memakai pakaian juga. Namun ia membutuhkan waktu lebih lama sebelum bisa memakai T-shirt sendiri yang membutuhkan keterampilan untuk menarik baju melalui kepalanya.
  • Pada usia 3 tahun, anak lebih terampil dalam memasang dan melepas kancing, kancing jepret berukuran besar, dan resleting. Kemampuan ini akan terus berlanjut dan disempurnakan hingga usia balita yang tentunya seiring dengan perkembangan motoriknya (motorik kasar dan motorik halus) maupun perkembangan kognitifnya. Sehingga orangtua tidak harus panik ketika anak belum bisa berpakaian secara sempurna pada usia batita, yang penting lebih mengenalkan dan melatih anak dasar-dasar keterampilan berpakaian.

Model baju vs tingkat kesulitan

Agar anak mudah belajar berpakaian sendiri, hal yang perlu dilakukan adalah mengajar anak dengan aktivitas yang setara dengan perkembangan motoriknya. Jenis serta model pakaian tertentu tentunya sangat berpengaruh pada tingkat kesulitan belajar.

Pakaian dengan kancing dan resleting yang besar akan memudahkan jari-jari kecilnya untuk memegang. Resleting dari bahan plastik dan mudah untuk dinaikkan serta diturunkan akan membuatnya lebih mudah berlatih tanpa rasa frustrasi. Ukuran pakaian yang agak longgar juga membuat anak tidak kesulitan membuka atau memakainya. Celana dengan karet di pinggang membuat lebih mudah ditarik oleh anak.

Mengajarkan gerakannya

Ajarkan secara bertahap gerakan-gerakan yang diperlukan. Misalnya saat membuka kancing, jari mana yang harus digunakan anak, ke arah mana anak harus menarik lepas.

Orangtua dapat mengajar anak memakai celana dengan bagian pinggang yang elastis berbahan karet dalam posisi duduk (anak sulit menjaga keseimbangan saat berdiri). Ajak anak untuk memasukkan satu per satu kakinya ke lubang yang tepat sebatas lutut, lalu minta anak berdiri dan ajari ia untuk menarik bagian pinggang ke atas. Mulailah dari meminta anak membuka resleting yang sudah dikaitkan terlebih dahulu oleh orangtua, perlahan anak akan mulai membuka dan menutup sendiri.

Untuk mengenakan kaus kaki, bantu anak membuka dengan kedua tangannya ataupun mendorong turun kaus kaki tersebut ke arah bagian ujung jari, baru memasukkan kakinya.

Kaus kaki dengan beberapa warna berbeda di bagian ujung jari dan tumit akan membuat anak lebih mengenal posisi.

Demikian juga ketika memakai celana, anak diminta duduk untuk memudahkannya memasukkan kaki ke lubang celananya. Misalnya, katakan, “Ayo masukan kaki kananmu ke lubang sebelah kanan dan kaki kirimu di lubang sebelah kiri”.

Anak juga dapat diajar untuk memakai sepatu dengan memasukkan kaki satu per satu, lalu merekatkan perekat velcro yang ada. Hindari sepatu yang menggunakan tali untuk diikat.
Harus sabar

Beberapa hal yang sering terjadi seperti salah memakai sepatu kanan di kaki kiri, membuka berulang kali kaus kaki, memasang kancing di lubang yang salah, membuka tutup resleting jaket atau tas orangtua, memakai pakaian terbalik, dan banyak ketidaksempurnaan lainnya adalah hal-hal yang pastinya terjadi dan menguji kesabaran orangtua. Ingatlah bahwa hal ini merupakan proses belajar yang normal dan wajar untuk dilalui anak. Namun, saat ia berhasil melakukannya, pasti anak akan merasa bangga dan terus menumbuhkan keinginan belajarnya.
Belajar melipat pakaian

Belajar melipat pakaian juga merupakan aktivitas untuk melatih perkembangan motorik anak. Selain itu, anak batita biasanya juga sangat senang saat ia bisa ‘membantu’ orangtuanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Walau begitu, melipat pakaian dan meletakkannya ke dalam lemari merupakan aktivitas yang membutuhkan koordinasi dan tahap perilaku motorik yang lebih kompleks, sehingga mungkin terlalu sulit untuk dilakukan anak batita.

Orang tua juga dapat melatih anak untuk aktivitas sederhana lainnya. Misalnya, meletakkan pakaian kotor di keranjang yang sudah disediakan, membantu mengambil cucian yang sudah kering dari jemuran ataupun mesin cuci (dengan pengawasan orangtua).

Bantulah dan ajari anak anak untuk memisahkan jenis dan warna pakaian yang sudah dicuci dan dikeringkan. Misalnya, kaus kaki, celana dan baju, berwarna dan tidak dst. Anak juga dapat diminta untuk melipat kain kecil terlebih dahulu, misalnya yang hanya membutuhkan satu kali lipatan. Baru kemudian meningkat dengan melipat saputangan atau lap yang bersih. Si kecil mungkin tidak dapat melipat dengan sempurna, tapi ia akan senang mencoba.

Meskipun seringkali justru memperlama penyelesaian pekerjaan, namun dengan sedikit kesabaran, aktivitas ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dan juga melatih anak untuk melakukan kebiasaan baik yang akan bermanfaat untuknya. Selalu ingat, saat anak masih kecil dan suka membantu, itu merupakan kesempatan yang baik untuk mengajarkan tanggung jawab kepada mereka.

 

0

Sunat tanda bahwa anak laki laki sudah besar

10 Juli 2016 yang lalu Orion anak lelaki gundul gantengku di sunat. Liburan setelah lebaran dan gabungan liburan sekolah memang menyenangkan. Itu adalah kesempatan baik yang langka dan nggak boleh dilewatkan. Apalagi sunat itu adalah permintaan Orion sendiri sejak masih di TK A, usia 4 tahun. Kali ini dia ngemel sekali ingin disunat. Dan akhirnya, disunatlah dia. Dengan tenang dan tanpa gempita tangisan yang berarti.

Karena peristiwa sunatan ini jarang terjadi di keluarga kecilku, maka rasanya ingin sekali  berbagi beberapa tips yang menurut saya bisa membantu memperlancar prosedur sebelum, ketika, dan sesudah sunat pada anak.

Sebelum proses sunat, saya mulai googling dan searching mencari artikel tentang sunat dan yang saya temukan kebanyakan malah iklan rumah sunat, sehingga bertekad berbagi pengalaman setelah sunat supaya orang tua yang kebingungan seperti saya memiliki gambaran tentang sunat dan perawatannya pada anak anak. Namun sekali lagi yang perlu diingat adalah bahwa setiap anak berbeda-beda, jadi silahkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga dan anak masing-masing.

Sebelum acara sunat yang dipersiapkan adalah diri kita sebagai orangtua. Karena pasti akan repot dengan tangisan anak ketika menahan sakitnya. Dan juga mempersiapkan anak yang akan disunat dengan pembekalan pembekalan ketika nanti proses penyembuhan pasca sunat. Pada kasus Orion anakku, aku bersyukur ia yang minta disunat. Dan bukan karena dipaksa untuk sunat.

Tahapan sunat  Orion dimulai dari ;

** janjian dengan dokter di klinik khusus untuk sunat anak. kebetulan lagi bertepatan dengan hari minggu setelah lebaran, dan libur sekolah.

** sampai di klinik, dikenalkan dengan dokter yang akan melakukan sunat terhadapnya dan pengenalan lingkungan. dan ternyata, orion langsung tanggap. ketika dokter menanyakan apakah ingin sunat, orion langsung bilang iya.  ketika disuruh membuka celananya, orion langsung membuka dan naik ke kasur periksa. orion dengan tenang bahkan kepo dengan apa yang dilakukan dokter terhadap alat genitalnya. ketika dibius pun orion tidak menangis. ia terus melihat proses sunatnya sendiri. sampai selesai.

** setelah pulang, obat bius habis. mulailah drama menangis yang luar biasa karena lukanya njarem. saat itulah, obat pereda nyeri diberikan. dan disarankan untuk tetap berada di kamar. dan hanya dilap waktu mandi. untunglah orion patuh. mau tetap tinggal, dan tidak mandi hanya dilap. selama di kamar banyak kegiatan yang dilakukan, dari membaca buku, bercerita dan main game supaya tidak bosan.

**setelah 2 minggu semua benar benar kering dan sehat. orion sudah bisa beraktifitas seperti biasa dan bersiap ke sekolah.

selama proses itu, orion ternyata adar kalau dia sudah besar. dan sunat itu menandai bahwa ia sudah besar dan jadi anak lelaki. semoga makin baik dan cerdas dikemudian hari ya… 🙂

 

 

0

Toilet Training ala Luna

Luna anakku, tanggal 17 Juli 2016 lalu usianya tepat 3 tahun. Mengingat Luna, itu juga mengingatkan toilet training yang pernah dijalani. Karena Luna satu satunya anak perempuan di rumah dan pasti berbeda perlakuan juga dalam memberikan toilet training. Kedua kakaknya laki laki sepertinya mudah sekali memberikan toilet training kepada mereka. Yang pada dasarnya toilet training adalah hal yang bisa dan biasa dilakukan.

Kenapa membahas toilet training? iya, karena beberapa waktu lalu setiap anak yang dititipkan hampir pasti dititip pesan oleh orangtuanya agar anaknya  di toilet training sekalian. Karena kesibukan dan mereka juga nggak sempat mengajari toilet training dirumah.

Masa transisi dari popok ke toilet memang adalah lompatan besar buat balita. Tak terkecuali Luna anakku. Juga merupakan perubahan psikologis yang signifikan pada balita, menandai kemerdekaan baru dan pergeseran hubungan dengan aku ibunya. Toilet training membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran tidak seperti hal yang lainnya. Dan balitaku si  Luna nunanune panggilan sayang untuknya aku yakin pasti bisa melaluinya.

  1. Memastikan balita dan orangtua siap menjalani program toilet training. Umumnya balita bisa diajak toilet training pada usia di atas 18 bulan. Hal itu ditandai dengan kesiapan emosi, fisik, psikologis dan bisa komunikasi di rentang usia rata rata antaranya sekitar 2-3 tahun walaupun setiap balita perkembangannya bisa berbeda beda. Tanda-tanda kesiapan anak untuk toilet training antara lain, dapat duduk tegak, bisa kering dalam 2-3 jam, dapat membuka-memakai celana, bisa memahami instruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya. Sementara orangtua juga harus siap untuk menyediakan waktu lebih untuk berbincang dan menyemangati balita bertoilet training.
  2. Membiasakan untuk pipis dan BAB di kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia pipis dan buang air besar (BAB) pada tempatnya ditoilet atau potty chair. Biarkan ia memilih agar ia suka menggunakannya.  Perlihatkan ketika Anda membuang dan mem-flush atau menyiram kotorannya dari popok di kloset. Ajaklah anak anda ketika anda menggunakan toilet supaya ia makin paham perlunya toilet. Ceritakan secara sederhana cara pipis dan bab serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng tentang pispot, dan belikan ia celana dalam seperti layaknya anak sudah besar.
  3. Mengatur jadwal. Mengatur jadwal ke kamar mandi, berhubungan dengan pengaturan asupan cairan dan makanan ke tubuh balita.perhatikanlah dan amati jadwal siklus pipis dan buang air besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 7 pagi dan pipis 2 atau 3 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat.
  4. Konsisten. Pastikan pula pengasuh anak mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang sudah  diterapkan sehingga tidak terjadi kebingungan. Berikan penjelasan dan informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis balita. Konsisten membimbing balita akan membuat para balita cepat mengerti dan memahami serta semakin terampil memakai toilet.
  5. Menggunakan cara yang seru. Kembangkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda bisa membuat papan untuk menempelkan sticker bintang jika balita anda berhasil memakai pispot/kloset dengan benar. Supaya ia lebih bersemangat dan gembira melakukan toilet training.
  6. Memberikan pujian. Berikan pujian bila ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar. Jadikan hal toilet training sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi sesuatu, misal mengompol. Hindarilah untuk menghukumnya, katakan saja Anda tidak suka. Karena jika menghukumnya dengan menampakkan wajah marah dan kecewa anda hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.
  7. Komitmen, telaten, dan sabar. Tips yang terakhir ini khusus untuk para ibu dan pengasuh yang terlibat di dalam kegiatan toilet training. Toilet training adalah belajar disiplin. Maka, kita yang mengajarkannya pun harus disiplin. Begitu kita mantap inilah saatnya mengajarkan anak toilet training, maka semenjak itu jangan pernah terputus, selalu telaten, dan rutin setiap waktu. Karena, toilet training ini kita mengajarkan anak disiplin dengan pembiasaan. Begitu terbiasa, dia akan bisa. pernah suatu waktu, Luna udah terbiasa pipis di toilet. Nah karena sedang berjalan jalan di mall. Keliling, jadi lupa menanyakan rutinitas itu. Maka jadilah ia pipis dicelana. Hadeuh rasanya malu banget dan kesal. Karena nggak bawa celana ganti. untunglah di mall jadi bisa langsung beli celana. Gara-gara kelupaan jadi harus dibiasakan lagi, tidak sesulit dari awal sih, tapi menjengkelkan juga karena sudah merusak kebiasaan yang sudah mulai di usahakan nya. Kalau tidak salah, waktu toilet training sedang berjalan 1 bulanan. Setelah itu ya normal. Sekarang, setiap mau pipis atau bab Luna selalu bilang bahkan sudah belajar sendiri untuk membuka celana dan membersihkan diri.
0

Tips Parenting : Jangan Menjadikan Tangisan Anak Sebagai Senjata

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena beberapa yang sepele. Dan ternyata,  hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri sebagai orang tua / pengasuh yang terlibat dalam penanganan anak selama ditinggalkan oleh orangtua bekerja. Sikap orang tua / pengasuh yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

*************

Boy, berusia hampir 2 tahun, suka menangis menjerit-jerit ketika ia ditinggalkan oleh orangtua / pengasuhnya di daycare hari ini. ia menangis, berteriak berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan balita ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Boy begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam, akhirnya untuk meredakannya suka di gendong” ujar mbak Parti pengasuhnya. Tapi sampai berapa lama kita mneggendong anak dan membiarkannya tidak mandiri ? Dan mengelola emosinya..?

Apa yang dialami mbak Parti tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua sebaiknya merespon tangisan anak secara positif dan belajar memahami mengapa anak menangis. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Secara alami, tangisan anak bisa sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “memberi tanda” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Beberapa psikolog anak, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Boy tadi.

Diperlukan Banyak Kesabaran

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia  antara 2 – 4 tahun. Di usia tersebut keinginan anak sudah makin bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun sebagai pengingat bagi orangtua agar bersiap dan punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Menangani tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Mengajak Anak Berbicara

Setelah berusia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut beberapa psikolog anak,  ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya.

  1. Pertama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas.
  2. Lalu setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Adik ingin apa..? bilang ke ibu ya. Tidak menangis,” misalnya. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Karena pada dasarnya anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Beberapa buku psikologi anak mengajarkan bahwa anak sudah bisa diajak berkomunikasi sejak dini. Bahkan beberapa terapis telah mengajarkan kepada orangtua baru untuk mengajak anaknya bicara sejak bayi. Anak sudah bisa menangkap bahasa kita hanya organ bicaranya saja yang belum matang.

Dan ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. Misalnya, maaf adik, hari ini mama sudah mulai bekerja, jadi adik sementara bersekolah di baby daycare ya. Sampai mama kembali. Jika sesampainya di daycare anak tetap menangis maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Kemudian ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, dan orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji maka penuhilah janji tersebut.

Untuk anak yang lebih besar, metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak jalan jalan misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut. Dan beberapa hal diingatkan juga kepada orangtua selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Mengenali Makna Tangisan Anak

Beberapa anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut beberapa pakar psikologi anak, itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua sebaiknya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. Membiarkan saja anak menangis sambil guling-gulingan, karena anak juga perlu melepaskan emosinya.  Lama kelamaan akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. Kuncinya adalah orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus.

Menegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Beberapa pakar psikologi anak mengatakan; bahwa salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, ketika orangtuanya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu pujilah anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. Terimakasih sudah itdak mengangis hari ini. Terimakasih sudah berusaha menahan tangismu.

Demikian semoga bermanfaat bagi beberapa orangtua.