0

Tips Parenting : Jangan Menjadikan Tangisan Anak Sebagai Senjata

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena beberapa yang sepele. Dan ternyata,  hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri sebagai orang tua / pengasuh yang terlibat dalam penanganan anak selama ditinggalkan oleh orangtua bekerja. Sikap orang tua / pengasuh yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

*************

Boy, berusia hampir 2 tahun, suka menangis menjerit-jerit ketika ia ditinggalkan oleh orangtua / pengasuhnya di daycare hari ini. ia menangis, berteriak berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan balita ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Boy begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam, akhirnya untuk meredakannya suka di gendong” ujar mbak Parti pengasuhnya. Tapi sampai berapa lama kita mneggendong anak dan membiarkannya tidak mandiri ? Dan mengelola emosinya..?

Apa yang dialami mbak Parti tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua sebaiknya merespon tangisan anak secara positif dan belajar memahami mengapa anak menangis. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Secara alami, tangisan anak bisa sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “memberi tanda” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Beberapa psikolog anak, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Boy tadi.

Diperlukan Banyak Kesabaran

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia  antara 2 – 4 tahun. Di usia tersebut keinginan anak sudah makin bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun sebagai pengingat bagi orangtua agar bersiap dan punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Menangani tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Mengajak Anak Berbicara

Setelah berusia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut beberapa psikolog anak,  ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya.

  1. Pertama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas.
  2. Lalu setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Adik ingin apa..? bilang ke ibu ya. Tidak menangis,” misalnya. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Karena pada dasarnya anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Beberapa buku psikologi anak mengajarkan bahwa anak sudah bisa diajak berkomunikasi sejak dini. Bahkan beberapa terapis telah mengajarkan kepada orangtua baru untuk mengajak anaknya bicara sejak bayi. Anak sudah bisa menangkap bahasa kita hanya organ bicaranya saja yang belum matang.

Dan ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. Misalnya, maaf adik, hari ini mama sudah mulai bekerja, jadi adik sementara bersekolah di baby daycare ya. Sampai mama kembali. Jika sesampainya di daycare anak tetap menangis maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Kemudian ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, dan orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji maka penuhilah janji tersebut.

Untuk anak yang lebih besar, metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak jalan jalan misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut. Dan beberapa hal diingatkan juga kepada orangtua selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Mengenali Makna Tangisan Anak

Beberapa anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut beberapa pakar psikologi anak, itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua sebaiknya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. Membiarkan saja anak menangis sambil guling-gulingan, karena anak juga perlu melepaskan emosinya.  Lama kelamaan akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. Kuncinya adalah orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus.

Menegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Beberapa pakar psikologi anak mengatakan; bahwa salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, ketika orangtuanya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu pujilah anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. Terimakasih sudah itdak mengangis hari ini. Terimakasih sudah berusaha menahan tangismu.

Demikian semoga bermanfaat bagi beberapa orangtua.

0

Dampak kekerasan pada anak dan solusinya

Andi bukan nama sebenarnya usia 3 tahun, dikenalkan pada saya beberapa waktu lalu. Orangtuanya, ayah bekerja di sebuah BUMN dijakarta dan bundanya adalah seorang psikolog di sebuah perusahaan swasta yang bertempat di jakarta juga. Mereka berangkat bekerja dari subuh supaya tidak terkena macet ditol. Dan kembali ke rumah setelah pukul 7 malam. Andi adalah anak tunggal sementara ini. Ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya pada assisten rumah tangga. Sejak kecil ia ditemani assisten rumah tangga yang beberapa kali juga berganti. Pertama dikenalkan, yang terlihat adalah; Anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Selalu bermain dan fokus satu hal. Tidak pernah beranjak dari tempatnya duduk. Disapa pun ia hanya menatap sekilas lalu menunduk dengan gaya asyik bermain mainan ditangannya. Ketika diminta bergeser ia hanya beringsut sedikit dan tidak mengubah pola duduknya dari awal.

Obrolan dengan kedua orangtuanya mengalir dengan lancar. Ayah bundanya adalah orang yang terbuka. Mereka memberikan keterangan bahwa anaknya tidak pernah lagi terbuka kepada mereka. Bercerita apa saja. Bahkan cenderung menjadi ketakutan ketika bertemu orang asing atau kerumunan orang. Padahal masih menurut cerita kedua orangtuanya, dulunya ia adalah anak yang ceria, selalu aktif dan berlarian kesana kemari. Membongkar mobilan, berbicara dan cerewet. Tiba tiba saja semua hilang hanya dalam waktu beberapa bulan saja sejak ada pengasuh baru dirumah mereka. Diakhir cerita, kedua orangtua tidak sengaja memergoki anaknya menjadi peminta minta bersama pengasuhnya dijalan dekat mall tidak jauh dari kompleks perumahannya. Hari itu juga sang pengasuh dipanggil dan dikeluarkan. Lalu bagaimana dengan sang anak..?

Sang anak diantar ke tempat saya dan bundanya bercerita panjang. Singkatnya, sang bunda setuju anaknya di daycare  sementara saya mengobservasinya. Hari pertama, anak hanya diam saja. Hanya duduk dan memainkan mobil mobilan kecil. Posisi duduknya simpoh saja. Bila ditanya diam, disentuhpun mengelak. Tidak mau menjawab apapun. ketika diajak bergeser, ia hanya bergeser beberapa jengkal saja dengan posisi duduk yang tidak berubah. Ketika dimandikan menangis ia diam saja. hari itu berlalu dengan beberapa pertanyaan dalam hati saya. setelah mandi saya memperhatikan kulitnya yang kusam, hitam tidak seperti dasar kulitnya anak anak.

Esoknya ia diantar pagi, ketika ayah yang mengantar pergi, ia meangis sebentar lalu tenang kembali. Siang ia tetap bermain seperti hari kemarin. memainkan mobilnya dan akhirnya berbicara sedikit. Ada beberapa hal yang kami ketahui, ia sering diajak ajalan jalan. Entah kemana. Siang itu tiba tiba ia mau buang air besar, dibawa ke toilet, ia puup dengan kotoran yang keras dan mungkin kesakitan. Ia menangis sekeras kerasnya. Saya gendong dan meenangkannya. setelah beberapa lama ia kelelahan karena menangis. Dan tertidur. Agak lama. Saya merasa ia pernah mengalami kekerasan yang tiada tara. Kekerasan baik verbal maupun non verbal sang anak menjadi trauma baik fisik maupun mental.

Kekerasan pada anak memang akan menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan. Inilah trauma jangka panjang pada anak anak korban kekerasan yang sedapat mungkin bisa dicegah.

  • Agresif. Sikap ini biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Umumnya ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat orang yang dianggap bisa melindunginya itu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Peringatan : Tidak semua sikap agresif anak muncul karena telah mengalami tindak kekerasan.
  • Murung atau depresi. Kekerasan mampu membuat anak berubah drastis, seperti menjadi anak yang memiliki gangguan tidur dan makan, bahkan bisa disertai dengan penurunan berat badan. Anak juga bisa  menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Ia menjadi anak pemurung, pendiam dan terlihat kurang ekspresif.
  • Mudah menangis. Sikap ini ditunjukkan karena anak merasa tidak aman dengan lingkungannya. Karena ia kehilangan figur yang bisa melindunginya. Kemungkinan besar, anak menjadi sulit percaya dengan orang lain.
  • Melakukan tindak kekerasan pada orang lain. Semua ini anak dapat karena ia melihat bagaimana orang dewasa memperlakukannya dulu. Ia belajar dari pengalamnnya kemudian bereaksi sesuai yang ia pelajari.
  • Secara kognitif anak bisa mengalami penurunan.  Akibat dari penekanan kekerasan psikologisnya atau bila anak mengalami kekerasan fisik yang mengenai bagian kepala, hal ini malah bisa mengganggu fungsi otaknya.
Dari kasus diatas, dapat dikatakan bahwa anak-anak lebih rentan mengalami trauma, karena secara psikologis anak-anak belum siap menghadapi suatu peristiwa seperti orang dewasa. Banyak faktor yang menyebabkan trauma pada anak. Mulai dari terus menerus diejek teman sebaya, pertengkaran orangtua, mengalami kekerasan, dan sebagainya.
Trauma adalah emosi ekstrem atau gangguan stres yang timbul karena adanya kejadian yang luar biasa dan membuat anak mengalami tekanan. Sebagai orang tua, Anda juga harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak Anda, karena dampaknya dapat berbeda-beda.
Menurut beberapa pakar, trauma yang terjadi pada anak dapat lebih cepat diredam jika anak Anda adalah seseorang yang ekstrovert, ceria, dan cerdas. Namun, Anda juga tidak perlu terlalu khawatir karena trauma pada anak umumnya dapat dihilangkan dengan melakukan beberapa cara, seperti berikut ini:
1. Memberikan rasa aman dan nyaman
Cara paling mudah untuk menghilangkan trauma pada anak adalah dengan memberi anak Anda rasa aman dan nyaman. Anda dapat memeluk, memberi kehangatan untuk anak, dan terus meyakinkan anak Anda bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik-baik saja. Teruslah memberikan rasa nyaman kepada si kecil, karena dengan begitu secara perlahan trauma yang dialami anak Anda akan menghilang.
2. Dukungan orangtua
Memberikan dukungan serta motivasi kepada anak sangatlah penting untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma. Anda pun sebaiknya terus dapat menemani anak Anda selama masa penyembuhan. Salah satu caranya yaitu dengan meluangkan waktu dan terus mengajak anak Anda berkomunikasi dari hati ke hati.
3. Jangan menyalahkan anak
Saat anak Anda sedang mengalami trauma, disarankan kepada Anda untuk tidak memberikan komentar yang menyudutkan atau menyalahkan anak. Karena hal tersebut justru akan membuat trauma anak Anda semakin bertambah parah.
4. Memberi hal yang disenangi anak
Beberapa ahli menunjukkan bahwa salah satu cara untuk menghilangkan rasa trauma pada anak adalah dengan memberikan hal yang ia senangi, seperti mainan atau buku kesukaannya. Hal ini dinilai mampu memancing rasa senang anak.
5. Melakukan hipnoterapi
Hipnoterapi memang selalu diidentikkan dengan hipnotis yang membuat seseorang tidak sadarkan diri. Sikap tidak sadarkan diri itu membuat seseorang tersugesti dan mau melakukan apapun yang diperintahkan, salah satunya yaitu untuk menghilangkan trauma. Anda dapat melakukan hipnoterapi pada saat anak dalam kondisi mengantuk dan sudah akan tertidur. Berikan kata-kata positif saat memberikan sugesti pada anak dan perlu diingat bahwa jangan pernah menggunakan kata “tidak” pada saat memberikan sugesti.

 

***dari berbagai sumber

0

TV dan Pengaruhnya Terhadap Anak anak

Sarah bukan nama sebenarnya usianya baru 4 tahun, sering tiba tiba berteriak teriak ‘tolong aku…aku diikat oleh orang itu, orang itu penjahatnya’ sambil memperagakan seperti orang yang diikat, dan orang yang ingin minta tolong. Kemudian ia berlari lari keliling ruangan, ‘awas ada pocong’ teriaknya. Dan banyak lagi lainnya. Darimanakah anak anak seusia sarah mendapatkan hal hal itu ?  ketika ia ditanya ia hanya menjawab, aku nonton di TV kayak gitu kemarin katanya.

Sudah sering dibahas, bahkan sering dijadikan seminar parenting bahwa TV sebenarnya ‘tidak baik’ untuk anak-anak. Bahkan kadang pembahasan tentang ketidak-baikan TV itu dilakukan di layar/studio TV, tapi sampai sejauh manakah ketidak baikan itu?
Ada beberapa hal yang menjadi ketidak baikan acara TV terhadap anak anak yaitu :
Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Banyak acara televisi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif. Apapun yang diiklankan di TV selalu diminta dan diminati anak anak. Seperti makanan ringan, susu, mainan, sepatu dll.

Berpengaruh terhadap sikap dan psikologi anak
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. Selain itu, tayangan tayangan lain berpengaruh terhadap psikologi anak seperti sinetron-sinetron yang tidak mendidik dan penuh dengan dialog celaan, adegan kekerasan yang sangat mempengaruhi perkembangan psikologi pada anak.

Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi yang simpel, mudah ditirukan, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. Dan selalu terpengaruh acara yang dibawakan.

Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.

Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak. Membuat anak tidak fokus pada suatu hal yang menuntut konsentrasi yang tinggi.
Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, kurang sosialisasi mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif dan pasif.

Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV maka kegiatan fisik yang biasa kita lakukan berolahraga misalnya tidak pernah kita lakukan atau smeakin jarang dilakukan. Menonton acara TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton acara TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung mempengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Sehingga anak terbiasa menjalani pola makan yang tidak sehat.

Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.

Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial, moral dan etika.

Beberapa penelitian menyarankan agar anak anak tidak terpapar TV sebelum usia 2 tahun. The American Academy of Pediatric merekomendasikan hanya anak usia 2 tahun ke atas yang boleh menonton TV, dan hanya boleh menonton maksimal 2 jam sehari Tidak ada salahnya rekomendasi dan fakta-fakta di atas menjadi perhatian kita semua, khususnya yang punya anak kecil. Menurut saya pribadi,  yang terpenting: Jangan biarkan anak nonton TV sebelum dia berumur 2 tahun, dan jangan biarkan mereka menonton TV lebih dari 2 jam sehari.. Kalau bukan kita orangtuanya,  yang melindungi anak-anak dari pengaruh buruk TV, siapa lagi?

0

Toleransi ala Orion

Setiap pagi, aku, anak anakku Orion dan Luna selalu berangkat dari rumah kami dibelakang kompleks untuk pergi ke tempat kerja saya, sebuah rumah taman penitipan anak. Pukul 6 pagi berangkat dari rumah dan sampai kira kira 15 menit lamanya.  Orion beberapa hari lagi berusia 5 tahun, saat ini ia masih duduk di TK A sekolah alam bogor. Orion sangat kritis, setelah dibacakan buku pasti akan ia praktekkan apapun yang dibacakan padanya. seperti misalnya ; tentang hemat energi. Ketika ada orang menyalakan lampu dan lupa mematikannya dia akan mengingatkan. Kita harus hemat energi bu. katanya.

Kemarin seperti biasa sepulang sekolah, Orion dibacakan buku cerita tentang bertoleransi ; artinya menurutnya adalah menjaga dan memberi kesempatan adik atau tidak memaksa adik untuk selalu ikut permainannya. Misalnya orion main mobilan, adik main boneka. adik nggak harus ikut main mobilan walaupun sudah diajak sama orion.

Begitulah, jadi Orion belajar untuk tidak memaksakan kehendak pada adiknya untuk apapun, ia akan bertanya ; adik mau ikut main denganku ? kita mau main talking english misalnya. begitu adik menggeleng dan bilang enggak Orion main sendiri dan adik main sendiri juga. Saling bertoleransi itulah yang selalu dijaga dari kecil oleh saya supaya kelak ketika sudah besar ia bisa bergaul dengan siapa saja tanpa batas karena bisa bertoleransi.

Toleransi memang harus diajarkan sejak dini, sejak anak anak. Mengajarkan toleransi tidak harus dengan cara yang berat. Cukup dengan kejadian sehari hari dan bacaan bacaan baik sesuai usia anak.

 

 

0

Anak anak yang Lapar Perhatian

Ayah dan Ibu, pernahkah kita melihat anak anak yang selalu diam ketika ditanya. Selalu menggeleng ketika disapa, tidak mau apa apa. Atau yang lebih ekstrim, jahil kepada teman lain atau istilahnya nakal berat selalu usil dan bergerak semaunya ?  Pada saat itulah anak mengirimkan sinyal yang harus kita tangkap. Karena bisa jadi itu adalah sinyal bahwa anak sedang lapar perhatian. Kelaparan adalah kata yang umum menggambarkan kekurangan dan kebutuhan manusia akan sesuatu. Demikian juga anak anak, lapar perhatian adalah ketika anak anak dengan tingkah lakunya atau bahkan dengan kediamannya membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Beberapa anak anak tertentu memang mampu mengungkapkan keinginannya, dan ada juga yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Sehingga cara satu satunya adalah dengan menunjukkan lewat tingkah laku. Atau juga dengan kediaman dan kebisuan untuk menunjukkan bahwa ia membutuhkan perhatian lebih dari orangtuanya.

Bagaimanakah menghadapi anak anak yang lapar perhatian ini ?

Kebanyakan orangtua yang datang kepada saya, bingung dengan anaknya yang tadinya cerewet jadi tiba tiba emoh bicara. Atau anaknya yang selalu kreatif membuat banyak hal tiba tiba terdiam dan sering menyendiri duduk di pojok ruangan tanpa melakukan apapun. Bahkan ada anak anak yang tidak mau melakukan apa apa namun begitu bertemu orangtuanya menangis tidak mau ditinggal.

Pertama tama yang harus dilakukan orangtua adalah ;

  1. Introspeksi diri sendiri terlebih dahulu, apakah anak anak sudah disapa hari ini, diberikan pelukan atau bahkan hanya sekedar mencium pipinya ketika berangkat kerja sebagai bentuk perhatian.
  2. Apakah orang sekeliling ; seperti assiten rumah tangga, atau mungkin anak ditinggal dengan kakek neneknya sudah memperhatikan anak dengan seksama. hal itu bisa dilihat dari tingkah laku anak ketika bertemu dengan kita orangtuanya. Anak akan bercerita tanpa disuruh tentang apa yang dilaluinya hari ini. Bahkan dalam igauan malam sekalipun.
  3. Biasakanlah memeluk anak sebelum ditinggal bekerja dan katakan bahwa kita akan pergi untuk bekerja, lalu peluk kembali ketika kembali dari bekerja. Katakan bahwa kita sudah kembali dan ada disisinya.
  4. Tanyakanlah pada anak hal hal yang dia sukai hari ini, maka cerita yang lain akan mengalir tanpa diminta. Bahkan hal hal yang tidak menyenangkan pun akan mengalir.
  5. Sikapi cerita anak dengan memposisikan diri kita sebagai anak anak. Lalu pahami.
  6. Mencari solusi untuk menuntaskan kelaparan perhatian nya dengan memberikan perhatian pada hasil observasi ke anak diatas. Untuk usia balita ; Misalnya dengan memangku dan saling bercerita kegiatan hari ini, untuk anak yang lebih kecil biasanya dengan memberikan pelukan kepada anak sambil mengatakan bahwa kita berterimakasih atas kebaikannya bercerita hari ini. Dan meminta maaf karena kita tidak punya waktu untuk menemaninya sepanjang waktu karena bekerja.
  7. Yang terakhir, pastikan kita tetap memantau anak anak kita. Misalnya dengan sesekali menelpone ke rumah. Berbicara sekedar “say hello” ke anak untuk menunjukkan perhatian kita kepadanya.

Ayah dan Ibu, perhatian, walau sedikit akan membantu anak dalam perkembangannya. Ia akan menjadi anak yang mandiri atau menjadi anak yang pemalu justru dengan perhatian dan dengan kasih sayang yang sudah kita berikan.

 

1

Anak dan Harga Dirinya

Pernahkah kita memperhatikan anak anak kita, tingkahlakunya dan gaya bicara serta bahasa tubuhnya ketika berhadapan dengan kita..? semua yang kita lihat kasat mata itu adalah cara anak anak merasakan dan menyatakan dirinya yang berkaitan dengan konsep diri dan keyakinan yang dimiliki tentang dirinya sendiri. Kemampuan anak untuk merasakan dan menyatakan dirinya, mengungkapkannya dengan berbagai reaksi itulah yang disebut dengan harga diri.

Harga diri dan konsep diri sangatlah berbeda. walaupun keduanya sering tercampur aduk. Konsep diri adalah sebuah teori dimana ada rangkaian gagasan yang ada didalam diri seorang anak tentang dirinya sendiri. Konsep diri ini seringkali didefinisikan bahwa seorang anak dapat mengatakan keyakinan dirinya walaupun keyakinannya mungkin tidak berhubungan dengan perilakunya. Seorang anak memiliki keyakinan tentang dirinya mengenai perilaku yang dilakukannya dengan baik atau tidak. Selain itu, ia memiliki prioritas tentang sesuatu, yang disukai dan tidak disukainya, perannya yang berhubungan dengan orang lain, serta tolok ukur yang diikutinya. Ia mungkin percaya bahwa ia adalah anak yang ramah dan supel,  kendati sesungguhnya ia tidak mempunyai banyak teman. Ia mungkin merasa suka dengan musik namun menolak untuk bergabung dengan teman teman dalam grup musik yang memiliki kesukaan yang sama.

Konsep diri dan harga diri saling berhubungan. Artinya perasaan anak tentang kepuasan pribadi dirinya akan lebih diperbesar apabila ;

  1. Anak berhasil mengungkapkan konsep dirinya dalam hal prestasi, misalnya ketika seorang anak memandang dirinya sebagai seorang atlet yang handal dan berhasil mencetak skor buat teamnya
  2. Anak mengikuti tolok ukur pribadi yang berkaitan dengan konsep dirinya. Misalnya :  apabila anak menghargai keterampilan akademik menerima nilai tertinggi untuk test matematika.
  3. Anak memiliki konsep diri yang disetujui oleh orang lain misalnya anak percaya bahwa ia pandai berpidato, dan ia mendapat pujian karena hal itu.

Mari kita lihat perbedaan anak yang berharga diri tinggi dan berharga diri rendah.

Anak yang berharga diri tinggi akan :

  1. merasa bangga akan prestasinya ;
  2. bertindak mandiri ;
  3. mudah memikul tanggung jawab;
  4. mempunyai manajemen frustasi dan mentoleransinya dengan baik;
  5. menerima tantangan baru dengan baik;
  6. merasa mampu mempengaruhi orang lain;
  7. menunjukkan beragam emosi dan perasaan yang luas;

sementara  Anak yang berharga diri rendah akan

  1. menghindari situasi yang menurutnya tidak menguntungkan dan membuatnya cemas.
  2. melecehkan bakatnya sendiri;
  3. merasa orang lain tidak menghargainya
  4. menyalahkan orang lain untuk kelemahannya sendiri
  5. mudah dipengaruhi orang lain;
  6. menjadi defensif dan mudah frustrasi
  7. merasa tidak berdaya
  8. menunjukkan rangkaian emosi dan perasaan yang sempit

harga diri bersifat naik turun. Apabila anak mempunyai harga diri tinggi atau rendah, umumnya merka menunjukkan karakterristik tersebut, tetapi semua anak akan emnunjukkan karakteristik demikian pada suatu saat. Pola perilaku mereka perlu diamati daripada difokuskan pada setiap karakteristik yang ada..

Kita sebagai orang tua memang diharapkan mampu membuat anak kita menjadi anak yang percaya diri. Hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan waktu, mendengarkan apa yang ingin anak katakan, menghargai mereka atas apa yang dikatakannya. Dan tetap memberikan support pada anak. Karena bagaimanapun juga anak anak tetaplah anak anak. Dan mereka berpikir dengan cara mereka sebagai anak anak..

0

Keajaiban Musik Untuk Perkembangan Keterampilan Berbahasa pada Anak

Bukan tingginya tingkat kecerdasan atau daya cipta atau keduanya yang menciptakan seorang jenius. Cinta, Cinta dan Cintalah yang melahirkan orang yang berjiwa jenius –Wolfgang Amadeus Mozart–

Musik disebut ajaib karena kemampuannya dalam hal menempa sambung rasa antara hati setiap manusia melalui irama, suara dan nada. Dan sama ajaibnya dengan kemampuan itu, yaitu setelah sambung rasa terjalin dengan mapan, maka kecenderungannya adalah mengantar bayi ke tingkat pengetahuan dan kemampuan berekspresi yang baru. Keterbiasaan dengan suara orangtua, irama, intonansi dan variasi variasi nadanya yang memikat menjadikan proses mendengarkan sesuatu yang menyenangkan. Dengan kata lain, cinta, kasih sayang menciptakan suatu arena untuk saling memberikan perhatian, yang pada gilirannya memungkinkan pembelajaran yang lebih bak dan dikuasainya sebuah keterampilan oleh anak.

Sebelum seorang bayi atau anak anak mampu memahami makna setiap patah kata, ia telah tertarik dan terkesan dengan irama dan melodi yang masuk ke telinganya, kualitas musik, dan suara suara bicara orang disekitarnya. Sesungguhnya pusat bahasa dan pusat musik didlam otak terpisah tetapi bersebelahan, dan perkembangan masing – masing terjadi hampir secara paralel. Bahkan para ilmuwan percaya bahwa mungkin saja inilah mengapa mendengarkan musik ikut merangsang keterampilan berbahasa, dan mengapa praktik berbahasa mendorong seseorang mendengar secara aktif yang pada gilirannya perlu untuk menciptakan dan memainkan musik. Dan dalam kasus manapun, kepekaan musikal yang dibawa oleh bayi sejak lahir membuatnya memusatkan perhatian terhadap pola – pola musikal dan pola pola bicara ketika orangtuanya bernyanyi.

Orangtua biasanya melihat betapa mendalamnya perhatian bayi atau anak anak mereka ketika seseorang memegang dan mengajak mereka bicara, atau ketika mendengarkan alat musik. Reaksi bayi ketika melihat seseorang bernyanyi bisa membantu kita untuk melihat hubungan langsung antara musik dan perkembangan keterampilan berbahasa pada bayi dan anak anak. Dr. Beth Bolton dari Esther Boyer College of Music, Temple University di Philadelphia, bercerita tentang reaksi reaksi bayi di kelas musik ketika guru bernyanyi langsung kepada tiap bayi, begitu guru mendekat, maka sebagian bayi terus menatap langsung ke arah si penyanyi (hampir selalu dengan mulut ternganga) dan berusaha menjalin kontak mata yang sangat mendalam dan sangat bermakna bagi mereka. Sebagian lagi berpaling ke arah orangtua mereka (menunjukkan reaksi emosional) yang lain bereaksi dengan perubahan ekspresi wajah. dan yang lain bereaksi dengan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah atau mulut si penyanyi. Semua ini adalah khas pada anak anak yang menyrap bahasa dan berinteraksi dengan orang dewasa dalam hidup mereka. Dengan kata lain, lewat bernyanyi kepada bayi kita, sebenarnya secara tidak langsung kita mengajari bayi dan anak anak kita mendengarkan dan berbicara.

Jadi ayah dan ibu, biasakanlah memperdengarkan musik kepada bayi dan anak anak. berikan musik yang sesuai dengan perkembangannya. Atau jika sempt menyanyilah untuk bayi dan anak anak  kita. Agar keterampilan berbahasanya meningkat dan bayi atau anak terbiasa mendengarkan.