5

Anak memanipulasi Orangtua? kenapa tidak..?

Seringkali kita merasa jengkel jika anak anak sudah mulai bicara bohong atau tidak sesuai kenyataan. Misalnya ; ketika anak itu diberi tahu dan dia marah. Kemudian dia mengatakan kepada orang lain bahwa orang yang menasehatinya itu sedang memarahinya. Atau berlaku galak. Yang akhirnya kita harus beradu argumen dengan orangtuanya atau dengan orang lain yang sudah mendengarkan anak itu dan menelan mentah mentah keterangannya.

Pernahkah mendapatinya hal sama seperti cerita diatas ..?  anak memanipulasi..? memang bisa..?

Anak belajar memanipulasi sejak ia berusia 6 bulan atau setelah ia mampu memahami orang lain dengan terbatas. Manipulasinya pun juga terbatas. Hanya menangis untuk menolak atau menerima sesuatu. Dan itu akan terus meningkat seiring usianya ketika kita tidak bijak dalam mengatasinya. Semakin melaju usianya, maka kemapuan memanipulasinya juga semakin canggih, semakin kreatif tergantung orangtuanya.

Apakah orangtua menyadari, jika terkadang anak anak suka berusaha memanipulasi kita orangtuanya agar akhirnya mau memenuhi keinginannya? Ada saja caranya yang membuat kita mengalah dalam upaya negosiasi mereka agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Atau membuat kita menjadi ilfeel dengan pasangan kita, atau orang orang lain disekitar kita..?

Taktik manipulasi seperti ini tentu saja bisa menghambat pendidikan karakter yang sedang diberikan oleh kita. Ya, anak memang bisa sepintar itu hingga bisa memanipulasi orangtua, tanpa dia sadar bahwa usahanya itu bisa merugikan dirinya sendiri di kelak kemudian hari.

Apa saja taktik manipulasi oleh anak yang perlu kita waspadai ini?

1. Merengek

Anak-anak memang kadang begitu cerdas untuk bisa mengerti, bahwa orangtuanya merasa tak nyaman, risih atau malu saat mereka merengek, apalagi di depan orang banyak atau di tempat umum. Dan, saat kita bujuk atau alihkan perhatiannya, bisa jadi berakhir dengan dua kemungkinan. Si anak akan teralihkan perhatiannya dengan sukses, atau malah makin menjadi rengekannya. Dan, akhirnya, tantrum.

2. Menjilat

Jika merengek berefek perasaan tak nyaman pada orangtua, menjilat akan membuat orangtua justru merasa senang, dan kemudian mengabulkan apa saja yang diminta   dan percaya saja perkataan si anak.

Coba perhatikan situasi berikut.

anak berkata pada anda, “pa, tadi mama marah sama aku deh, aku nggak boleh ini dan itu. padahal kan sama papa boleh ya..? papa memang yang terbaik. beda sama mama’ dan akhirnya, papa akan bertanya ‘ gitu ya..?’ dan besoknya si papa akan bertanya pada mama dan mama akan menjelaskan, namun karena sudah terbawa perkataan dari si anak diatas, maka papa jadi marah ketika mama menjelaskan duduk perkaranya.

Perilaku seperti ini bisa jadi merupakan perilaku yang dicontohnya dari apa yang kita lakukan. Barangkali selama ini, kita tidak satu kata dan berseberangan ketika membicarakan tentang anak. Para ahli menyatakan, taktik memanipulasi yang satu ini lebih sulit diatasi karena akan timbul rasa tidak nyaman pada orangtua.

3. Mencari belas kasihan

“ayah bukan ayahku. ayah kan cuma sayang sama Adik!”

Apakah pernah mendengar perkataan seperti itu dari anak-anak?

Itulah taktik manipulasi yang diharapkan bisa menimbulkan rasa kasihan dan rasa bersalah pada kita, orangtuanya. Taktik ini dilakukan anak agar orangtuanya jadi nggak tahan dan akhirnya mau menuruti keinginannya. Anak berperilaku seolah-olah dialah “korban” dari “kekejaman” orangtua, padahal sebenarnya dia tahu banget kalau orangtuanya sangat menyayangi dia sehingga, tentunya, nggak ingin dia terluka perasaannya.

4. Marah

Marah dan ngambek sebenarnya adalah sangat wajar. Ini adalah perilaku yang paling banyak muncul pada anak jika orangtua tak mau menuruti keinginannya. Anak-anak balita akan mengalami temper tantrum, berguling-guling, menangis hebat, berteriak, bahkan mungkin menyakiti dirinya sendiri.

Tak jarang akhirnya orangtua menyerah, karena usahanya untuk menenangkan si anak tak membuahkan hasil. Apalagi kalau ini dilakukan si anak di tempat umum ya. Kebanyakan dari kita, biasanya akan merasa malu, dan anak tahu banget lho, kalau kita nggak suka.

5. Mengancam

“Aku nggak mau makan, kalau nggak beliin aku mainan!”

Pernah diancam seperti itu oleh anak-anak ? Jika pernah, lebih baik lihat kembali apakah ancaman tersebut merupakan manipulasi karena pengaruh orang lain? Atau mungkin karena dia sering melihatnya di televisi? Ataukah, dia benar-benar tak bahagia?

Jika dia baik-baik saja di sekolah, juga kondisi keluarga aman dan nyaman, berarti itu hanya taktik manipulasinya saja. Orangtua bisa mengabaikannya, atau membicarakan hal ini dengannya.

6. Taktik Fisik

Ada anak yang menyerang dan mengintimidasi orangtua secara fisik jika keinginannya tak terpenuhi. Cara ini bisa kita anggap wajar jika dilakukan oleh anak yang belum mempunyai keterampilan menyampaikan keinginan lewat komunikasi langsung. Namun, akan lain persoalan jika yang melakukannya adalah anak-anak yang sudah memiliki kemampuan berbahasa. Jika sekali saja dia mendapatkan apa yang dia mau dengan cara ini, maka pasti lain kali akan dicobanya lagi. Hati-hatilah! Jika hal ini menjadi parah di suatu hari, ada baiknya Orangtua minta bantuan juga pada orang yang ahli.

Semua taktik manipulasi di atas dilakukan oleh anak-anak agar orangtuanya luluh dan membiarkan anak berperilaku semau mereka.

Apalagi cara-cara yang dapat anak lakukan untuk berusaha memanipulasi orang tua? Tentu masih banyak lagi. Yang perlu Anda lakukan adalah menanggapinya dengan sebijaksana dan selembut mungkin. Pahami anak-anak Anda. Jelaskan dengan penuh kasih mengapa terkadang peraturan yang Anda berikan terkesan terlalu mengekang dan membatasi kebebasan mereka, tetapi semua itu hanya demi kebaikan mereka. Ingatlah bahwa Anda pernah muda dulu dan Anda pernah melakukan hal serupa kepada orang tua Anda sendiri. Ingatlah untuk selalu menjadi orang tua yang tegas namun penuh kasih, maka anak-anak Anda akan sangat bersyukur telah memiliki orang tua seperti Anda

Tapi tak perlu khawatir, karena ilmu parenting sekarang sudah berkembang dan sudah banyak ahli memberikan teknik-teknik jitu agar bisa membantu orangtua untuk mengatasi perilaku-perilaku buruk pada anak yang mungkin timbul. Orangtua bisa mengajaknya ngobrol, memberinya pengertian, atau, jika sudah kenal, orangtua bisa menggunakan teknik timeout untuk anak-anak yang berusia 5 tahun ke atas.

Yang pasti, memang harus sabar jika ingin mengubah kebiasaan atau perilaku buruk anak ini. Nggak bisa cuma dilakukan sekali, kemudian pada hari berikutnya mereka sudah hilang kebiasaan buruknya. Orangtua harus siap untuk menegurnya berulang kali, mengajaknya berbicara setiap saat.

#parenting #mendidik_anak #pola_asuh #anak_memanipulasi #anak_anak

 

Advertisements
0

Siapkah anak masuk daycare ? bagian (2)

Masih melanjutkan tulisan yang lalu

Anak anak umumnya senang berada di tempat baru. Bertemu teman baru dan bertemu hal baru. Namun untuk anak anak tertentu dan yang berkebutuhan khusus, perlakuan bisa jadi mau tidak mau harus berbeda.

Beberapa kasus di daycare, anak anak yang menangis dan tantrum di hari pertama biasanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman. Atau terbiasa untuk selalu bersama dan diperlakukan dengan ‘manja’ seperti orangtua pada umumnya. Orangtua lupa mengajarkan kemandirian pada anak dirumah.

Yang harus disadari orangtua, bahwa di daycare anak anak akan sepanjang hari disana. Bermain, belajar, beristirahat bahkan juga membersihkan diri disana. Dan ada kemungkinan anak akan terpapar hal hal dan pergaulan dengan anak anak didaycare. Terlepas itu hal baik dan buruk. Anak anak adalah penerima contoh dan peng adop contoh yang sangat baik dalam sebuah komunitas.

Sehingga jauh jauh hari sebelum anak dimasukkan ke daycare, orangtua diharuskan menimbang kembali keputusannya memasukkan anaknya ke daycare. Karena pada dasarnya daycare hanyalah mitra orangtua untuk memberikan pengasuhan sementara ketika anak anak tidak berada dalam pengawasan orangtua.

Jadi yang harus diingat oleh orangtua ketika anak anak akan dititipkan ke daycare adalah;

  1. kesiapan orangtua melepas anaknya
  2. kesiapan anak meninggalkan kenyamanan sementara
  3. kesiapan anak untuk tinggal lebih lama dengan nyaman di suatu tempat.

Mengapa begitu ? ketika orangtua tidak siap, artinya setengah hati melepaskan anak anaknya, maka anak anak akan merasa tidak nyaman dan merasa gelisah. Anak anak harus diberikan pemahaman sebelum ke daycare, bahwa ayah dan ibu tidak berada didekatnya untuk waktu waktu tertentu. Sehingga anak harus berada di daycare. Pemahaman itu harus disampaikan ke anak agar anak menyadari dan tidak merasa ditinggalkan atau dibohongi oleh orangtuanya ketika sang anak berada di daycare.

begitulah.. siap atau tidak siap, orangtua juga harus andil dalam kesiapan anaknya ketika harus masuk ke daycare.

0

Kemandirian anak usia 0 – 12 bulan

Di daycare, anak anak berlatih mandiri. Tidak menangis ketika ditinggalkan dan gembira bermain. Untuk usia 0 – 12 bulan, beberapa anak awalnya akan tantrum ketika ditinggalkan, menangis keras karena sudah terbiasa menangis sebagai senjata. dan itu akan berlangsung beberapa hari tergantung kesiapan si anak untuk beradaptasi. Pada bayi menjadi lebih mudah beradaptasi jika dalam keadaan perut kenyang, merasa aman dan ada teman bermain.

Melatihkan kemandirian tidak serta merta sehari dua hari selesai, namun membutuhkan banyak proses panjang. Salah satunya adalah mensugesti anak untuk merasa nyaman ditempat baru. Memainkan mimik baik baik saja ketika meninggalkan anak. sehingga anak merasa aman. Melatihkan kemandirian ke anak anak harus dengan sabar dan tidak emosional. Karena biasanya anak aakan menangis keras, kemudian akan muntah, pura pura batuk batuk atau bahkan mengompol jika tidak menggunakan diapers.

 

0

Keterlambatan Bicara / Speech Delay (2)

Pada pembahasan yang kemarin sudah dibahas penyebab penyebab speech delay. Kali ini dibahas solusi dan tips mengatasi speech delay yang mungkin ada dan terdapat di dekat kita.

  1. Memberikan therapy okupasi intinya adalah melibatkan anak dalam aktivitas tertentu (bermain) yang sebenarnya memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, kemandirian, dan interaksinya dengan lingkungan (interaksi sosial) dengan cara merangsang anak agar berlatih untuk melihat/memperhatikan, mendengar dan meniru. Dengan memberikan perintahah sederhana dan intonansi suara yang jelas. Mengasah konsentrasi dnegan kegiatan kegiatan yang disukai anak, mewarnai, menggunting, menempel, menjahit memasukkan biji ke dalam botol dll. Memainkan mencari harta karun.
  2. Memberikan therapy bicara yaitu mengajarkan anak untuk berbicara dan berinteraksi dengan teman sebaya dan lingkungan terkecilnya. Therapy bicara bisa dilakukan sejak bayi baru lahir. Karena mendengar sesuatu adalah proses pertama kali bayi belajar bicara, merespon bubbling yang dilakukan bayi.Kemudian perbanyaklah bicara dengan anak tentang apa saja (bukan mengomel) bercerita dan bernyanyi. karena terbukti, bernyanyi merangsang anak untuk memahami dna menambah kosa katanya secara perlahan sambil mendengarkan. Melatih otot mulut dengan cara belajar meniup, bersiul dan menggumamkan lagu. Gunakan bahasa tubuh untuk menjelaskan sesuatu dengan sederhana kepada anak anak.Rancangla aktifitas bersama dengan anak, misalnya berjalan ke kebun dan melihat sekeliling, katakan tentang apa yang dilihat. Ketika ada kupu kupu katakan dadah kupu kupu. Sambil menggerakkan tangan dst.

Demikianlah sedikit tips dan solusi untuk speech delay/ keterlambatan bicara pada anak. semoga bermanfaat

“**ety prasetya**”

 

 

0

Tips Parenting : Jangan Menjadikan Tangisan Anak Sebagai Senjata

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena beberapa yang sepele. Dan ternyata,  hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri sebagai orang tua / pengasuh yang terlibat dalam penanganan anak selama ditinggalkan oleh orangtua bekerja. Sikap orang tua / pengasuh yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

*************

Boy, berusia hampir 2 tahun, suka menangis menjerit-jerit ketika ia ditinggalkan oleh orangtua / pengasuhnya di daycare hari ini. ia menangis, berteriak berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan balita ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Boy begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam, akhirnya untuk meredakannya suka di gendong” ujar mbak Parti pengasuhnya. Tapi sampai berapa lama kita mneggendong anak dan membiarkannya tidak mandiri ? Dan mengelola emosinya..?

Apa yang dialami mbak Parti tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua sebaiknya merespon tangisan anak secara positif dan belajar memahami mengapa anak menangis. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Secara alami, tangisan anak bisa sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “memberi tanda” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Beberapa psikolog anak, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Boy tadi.

Diperlukan Banyak Kesabaran

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia  antara 2 – 4 tahun. Di usia tersebut keinginan anak sudah makin bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun sebagai pengingat bagi orangtua agar bersiap dan punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Menangani tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Mengajak Anak Berbicara

Setelah berusia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut beberapa psikolog anak,  ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya.

  1. Pertama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas.
  2. Lalu setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Adik ingin apa..? bilang ke ibu ya. Tidak menangis,” misalnya. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Karena pada dasarnya anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Beberapa buku psikologi anak mengajarkan bahwa anak sudah bisa diajak berkomunikasi sejak dini. Bahkan beberapa terapis telah mengajarkan kepada orangtua baru untuk mengajak anaknya bicara sejak bayi. Anak sudah bisa menangkap bahasa kita hanya organ bicaranya saja yang belum matang.

Dan ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. Misalnya, maaf adik, hari ini mama sudah mulai bekerja, jadi adik sementara bersekolah di baby daycare ya. Sampai mama kembali. Jika sesampainya di daycare anak tetap menangis maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Kemudian ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, dan orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji maka penuhilah janji tersebut.

Untuk anak yang lebih besar, metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak jalan jalan misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut. Dan beberapa hal diingatkan juga kepada orangtua selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Mengenali Makna Tangisan Anak

Beberapa anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut beberapa pakar psikologi anak, itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua sebaiknya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. Membiarkan saja anak menangis sambil guling-gulingan, karena anak juga perlu melepaskan emosinya.  Lama kelamaan akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. Kuncinya adalah orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus.

Menegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Beberapa pakar psikologi anak mengatakan; bahwa salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, ketika orangtuanya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu pujilah anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. Terimakasih sudah itdak mengangis hari ini. Terimakasih sudah berusaha menahan tangismu.

Demikian semoga bermanfaat bagi beberapa orangtua.

0

Anak anak yang Lapar Perhatian

Ayah dan Ibu, pernahkah kita melihat anak anak yang selalu diam ketika ditanya. Selalu menggeleng ketika disapa, tidak mau apa apa. Atau yang lebih ekstrim, jahil kepada teman lain atau istilahnya nakal berat selalu usil dan bergerak semaunya ?  Pada saat itulah anak mengirimkan sinyal yang harus kita tangkap. Karena bisa jadi itu adalah sinyal bahwa anak sedang lapar perhatian. Kelaparan adalah kata yang umum menggambarkan kekurangan dan kebutuhan manusia akan sesuatu. Demikian juga anak anak, lapar perhatian adalah ketika anak anak dengan tingkah lakunya atau bahkan dengan kediamannya membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Beberapa anak anak tertentu memang mampu mengungkapkan keinginannya, dan ada juga yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Sehingga cara satu satunya adalah dengan menunjukkan lewat tingkah laku. Atau juga dengan kediaman dan kebisuan untuk menunjukkan bahwa ia membutuhkan perhatian lebih dari orangtuanya.

Bagaimanakah menghadapi anak anak yang lapar perhatian ini ?

Kebanyakan orangtua yang datang kepada saya, bingung dengan anaknya yang tadinya cerewet jadi tiba tiba emoh bicara. Atau anaknya yang selalu kreatif membuat banyak hal tiba tiba terdiam dan sering menyendiri duduk di pojok ruangan tanpa melakukan apapun. Bahkan ada anak anak yang tidak mau melakukan apa apa namun begitu bertemu orangtuanya menangis tidak mau ditinggal.

Pertama tama yang harus dilakukan orangtua adalah ;

  1. Introspeksi diri sendiri terlebih dahulu, apakah anak anak sudah disapa hari ini, diberikan pelukan atau bahkan hanya sekedar mencium pipinya ketika berangkat kerja sebagai bentuk perhatian.
  2. Apakah orang sekeliling ; seperti assiten rumah tangga, atau mungkin anak ditinggal dengan kakek neneknya sudah memperhatikan anak dengan seksama. hal itu bisa dilihat dari tingkah laku anak ketika bertemu dengan kita orangtuanya. Anak akan bercerita tanpa disuruh tentang apa yang dilaluinya hari ini. Bahkan dalam igauan malam sekalipun.
  3. Biasakanlah memeluk anak sebelum ditinggal bekerja dan katakan bahwa kita akan pergi untuk bekerja, lalu peluk kembali ketika kembali dari bekerja. Katakan bahwa kita sudah kembali dan ada disisinya.
  4. Tanyakanlah pada anak hal hal yang dia sukai hari ini, maka cerita yang lain akan mengalir tanpa diminta. Bahkan hal hal yang tidak menyenangkan pun akan mengalir.
  5. Sikapi cerita anak dengan memposisikan diri kita sebagai anak anak. Lalu pahami.
  6. Mencari solusi untuk menuntaskan kelaparan perhatian nya dengan memberikan perhatian pada hasil observasi ke anak diatas. Untuk usia balita ; Misalnya dengan memangku dan saling bercerita kegiatan hari ini, untuk anak yang lebih kecil biasanya dengan memberikan pelukan kepada anak sambil mengatakan bahwa kita berterimakasih atas kebaikannya bercerita hari ini. Dan meminta maaf karena kita tidak punya waktu untuk menemaninya sepanjang waktu karena bekerja.
  7. Yang terakhir, pastikan kita tetap memantau anak anak kita. Misalnya dengan sesekali menelpone ke rumah. Berbicara sekedar “say hello” ke anak untuk menunjukkan perhatian kita kepadanya.

Ayah dan Ibu, perhatian, walau sedikit akan membantu anak dalam perkembangannya. Ia akan menjadi anak yang mandiri atau menjadi anak yang pemalu justru dengan perhatian dan dengan kasih sayang yang sudah kita berikan.

 

0

Keajaiban Musik Untuk Perkembangan Keterampilan Berbahasa pada Anak

Bukan tingginya tingkat kecerdasan atau daya cipta atau keduanya yang menciptakan seorang jenius. Cinta, Cinta dan Cintalah yang melahirkan orang yang berjiwa jenius –Wolfgang Amadeus Mozart–

Musik disebut ajaib karena kemampuannya dalam hal menempa sambung rasa antara hati setiap manusia melalui irama, suara dan nada. Dan sama ajaibnya dengan kemampuan itu, yaitu setelah sambung rasa terjalin dengan mapan, maka kecenderungannya adalah mengantar bayi ke tingkat pengetahuan dan kemampuan berekspresi yang baru. Keterbiasaan dengan suara orangtua, irama, intonansi dan variasi variasi nadanya yang memikat menjadikan proses mendengarkan sesuatu yang menyenangkan. Dengan kata lain, cinta, kasih sayang menciptakan suatu arena untuk saling memberikan perhatian, yang pada gilirannya memungkinkan pembelajaran yang lebih bak dan dikuasainya sebuah keterampilan oleh anak.

Sebelum seorang bayi atau anak anak mampu memahami makna setiap patah kata, ia telah tertarik dan terkesan dengan irama dan melodi yang masuk ke telinganya, kualitas musik, dan suara suara bicara orang disekitarnya. Sesungguhnya pusat bahasa dan pusat musik didlam otak terpisah tetapi bersebelahan, dan perkembangan masing – masing terjadi hampir secara paralel. Bahkan para ilmuwan percaya bahwa mungkin saja inilah mengapa mendengarkan musik ikut merangsang keterampilan berbahasa, dan mengapa praktik berbahasa mendorong seseorang mendengar secara aktif yang pada gilirannya perlu untuk menciptakan dan memainkan musik. Dan dalam kasus manapun, kepekaan musikal yang dibawa oleh bayi sejak lahir membuatnya memusatkan perhatian terhadap pola – pola musikal dan pola pola bicara ketika orangtuanya bernyanyi.

Orangtua biasanya melihat betapa mendalamnya perhatian bayi atau anak anak mereka ketika seseorang memegang dan mengajak mereka bicara, atau ketika mendengarkan alat musik. Reaksi bayi ketika melihat seseorang bernyanyi bisa membantu kita untuk melihat hubungan langsung antara musik dan perkembangan keterampilan berbahasa pada bayi dan anak anak. Dr. Beth Bolton dari Esther Boyer College of Music, Temple University di Philadelphia, bercerita tentang reaksi reaksi bayi di kelas musik ketika guru bernyanyi langsung kepada tiap bayi, begitu guru mendekat, maka sebagian bayi terus menatap langsung ke arah si penyanyi (hampir selalu dengan mulut ternganga) dan berusaha menjalin kontak mata yang sangat mendalam dan sangat bermakna bagi mereka. Sebagian lagi berpaling ke arah orangtua mereka (menunjukkan reaksi emosional) yang lain bereaksi dengan perubahan ekspresi wajah. dan yang lain bereaksi dengan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah atau mulut si penyanyi. Semua ini adalah khas pada anak anak yang menyrap bahasa dan berinteraksi dengan orang dewasa dalam hidup mereka. Dengan kata lain, lewat bernyanyi kepada bayi kita, sebenarnya secara tidak langsung kita mengajari bayi dan anak anak kita mendengarkan dan berbicara.

Jadi ayah dan ibu, biasakanlah memperdengarkan musik kepada bayi dan anak anak. berikan musik yang sesuai dengan perkembangannya. Atau jika sempt menyanyilah untuk bayi dan anak anak  kita. Agar keterampilan berbahasanya meningkat dan bayi atau anak terbiasa mendengarkan.