0

Penyebab Anak Kurang Konsentrasi

Di daycare, saya sering dapat mendapatkan keluhan atau curhat dari orangtua mengenai anak mereka yang sulit fokus atau konsentrasi terutama yang masih berusia batita dan balita atau bahkan yang sudah berusia diatas 5 tahun. Kurang konsentrasi tentu saja sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi belajar anak. Dan orangtua sebagai orang terdekat berusaha keras membantu anak mereka untuk bisa fokus atau konsentrasi biasanya telah melakukan banyak cara. Dengan membawa anak ke psikolog, psikiater, konseling, dan  bahkan ikut beberapa model terapi agar ada kemajuan untuk konsentrasinya. Namun ada yang berhasil, dan banyak yang tidak berubah. Sehingga akhirnya orangtua maupun anaknya sama-sama frustrasi karena usaha tersebut diatas.

Berikut ini adalah uraian tentang kondisi sulit konsentrasi yang saya pahami. Besar harapan saya, setelah baca artikel ini orangtua bisa mendapat solusi terbaik untuk putra-putrinya yang mengalami sulit konsentrasi.

Beberapa pemahaman yang salah tentang konsentrasi

ini pengalaman saya menangani anak – anak di daycare yang kesulitan konsentrasi, dan hal ini membuat saya mendapatkan pemahaman baru yang mengubah paradigma saya tentang kondisi sulit konsentrasi yang sering dialami anak. Seringkali label sulit konsentrasi ini diberikan pada anak, oleh orangtua atau guru, karena mereka tidak mengerti kemampuan anak untuk fokus secara optimal.

Begini ceritanya. Salah seorang ibu yang memiliki anak usia 4 tahun datang ke daycare dan mengkonsultasikan tentang kemampuan anaknya yang tidak bisa konsentrasi dan fokus pada satu hal.

Dan saya menjawab bahwa itu adalah hal yang wajar dan normal yang terjadi pada anak anak seusia itu. Dimana anak anak itu lebih suka pada kegiatan yang bergerak. Sang ibu menginginkan anaknya bisa duduk anteng dan konsentrasi dengan apa yang dikerjakan. seperti belajar, atau bermain puzzle.  Hal itu juga bisa terjadi pada anak anak yang berusia diatasnya ketika mendapati seuatu yang tidak menarik minat dan perhatiannya untuk dikerjakan.

Sebenarnya fokus atau konsentrasi adalah kemampuan memusatkan perhatian dan pikiran pada satu objek atau kegiatan untuk waktu tertentu. Lama waktu fokus bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari situasi lingkungan, kondisi fisik dan emosi, motivasi, ketertarikan, dan tujuan yang hendak dicapai.

Untuk mudahnya, dalam kondisi normal, lama waktu konsentrasi adalah sama dengan usia dijadikan menit. Bila anak usianya 5 tahun maka rentang waktu konsentrasi maksimal adalah 5 menit. Untuk orang dewasa maksimal 30 menit. Misal, usia orang dewasa 45 tahun, waktu fokus maksimal adalah 30 menit.

Ini adalah kemampuan fokus dalam kondisi normal. Untuk fokus tentu butuh energi yang besar. Dan fokus dalam waktu lama akan sangat melelahkan. Namun bila objek fokus, dalam hal ini bahan ajar, memberi rasa senang atau bahagia, anak pasti bisa fokus dalam waktu yang lama.

Biasanya, saat main game anak bisa konsentrasi lebih lama. Yang terjadi adalah mereka, karena senang dan penasaran, memaksa diri mereka untuk terus main. Mata anak biasanya akan lelah sekali dan kepalanya bisa pusing.

Dalam kondisi normal, saat anak fokus belajar, setelah mencapai rentang waktu fokus maksimal, misal untuk anak usia 6 tahun adalah 6 menit, maka anak perlu istirahat sejenak, misal 5 menit.

Untuk orang dewasa, setelah fokus selama 30 menit perlu istirahat sekitar 10 menit. Ini perlu dilakukan rutin. Fokus, rileks, fokus, rileks.

Beberapa alasan mengapa anak sulit dan kurang berkonsentrasi :

  • Ketertarikan akan sesuatu

Salah satu alasan utama anak mau berkonsentrasi ria saat belajar atau ngulik sesuatu adalah karena ia tertarik dan suka dengan hal yang sedang dihadapinya. entah itu materi yang dipelajari ataupun pekerjaan yang sedang dilakukannya saat ngulik. Jangankan anak, orangtua juga ketika tertarik akan sesuatu pasti cepat sekali konsentrasi. Ini adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Dan sebaliknya walau dipaksa bagaimanapun, bila sudah tidak tertarik atau tidak suka, pasti akan sangat sulit untuk konsentrasi dengan sesuatu.

Mengapa anak tidak tertarik atau suka belajar? atau sesuatu yang sering kita embel embeli dengan kata belajar? Karena belajar itu pengertiannya bisa menjadi sesuatu yang sulit dimengerti prosesnya oleh orang awam. Jadi ketika anak diajak, yuk belajar.. mereka jadi emoh dan tidak tertarik. Banyak orang berpikir bahwa belajar itu adalah saat anak membaca buku, atau anak melihat guru mengajar dikelas dst. Padahal itu belum tentu bisa disebut dengan belajar.

Belajar itu adalah proses yang terjadi dari merasa tertarik, ingin tahu kemudian mengerti setelah membacanya atau mengetahui sesuatu yang diinginkannya.

Anak anak akan berkonsentrasi ketika apa yang mereka lihat itu menarik, kelihatan / real, relevan, disukai dan mereka mampu menyerapnya. Artinya mereka mampu memahaminya.

  • Gangguan

Salah satu faktor yang membuat anak sulit konsentrasi adalah gangguan dari lingkungan atau situasi yang tidak mendukung.Misalnya dari HP, Televisi, radio, ajakan teman bermain ketika sedang belajar, game dll.

  • Kelelahan 

Kegiatan fisik yang dilakukan sehari penuh, atau kurang tidur bisa mengakibatkan kelelahan pada anak. Dalam kondisi kelelahan seperti ini anak tentu sulit konsentrasi karena butuh istirahat.

  • Kecemasan dan ketakutan

Salah satu sebab anak sulit konsentrasi, dan ini jarang disadari orangtua, adalah karena anak merasa cemas atau takut. Anak sendiri tidak tahu bahwa ia cemas atau takut karena memang masih terlalu kecil untuk memahami hal ini. Saat anak cemas atau takut, maka pikirannya tidak bisa fokus.

Jadi ayah bunda, papa mama yang baik. Tidak perlu panik jika putra putri kurang konsentrasi. Berikanlah sesuatu yang menarik untuk membuatnya menyukai akan suatu hal dan fokus pada hal itu. Kurangi gangguan pada saat anak membutuhkan ketenangan belajar. Dan sebisa mungkin membuat anak lebih rileks dalam belajar atau bermain hingga anak benar benar konsentrasi pada apa yang dihadapinya.