0

Siapkah anak masuk daycare ? bagian (2)

Masih melanjutkan tulisan yang lalu

Anak anak umumnya senang berada di tempat baru. Bertemu teman baru dan bertemu hal baru. Namun untuk anak anak tertentu dan yang berkebutuhan khusus, perlakuan bisa jadi mau tidak mau harus berbeda.

Beberapa kasus di daycare, anak anak yang menangis dan tantrum di hari pertama biasanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman. Atau terbiasa untuk selalu bersama dan diperlakukan dengan ‘manja’ seperti orangtua pada umumnya. Orangtua lupa mengajarkan kemandirian pada anak dirumah.

Yang harus disadari orangtua, bahwa di daycare anak anak akan sepanjang hari disana. Bermain, belajar, beristirahat bahkan juga membersihkan diri disana. Dan ada kemungkinan anak akan terpapar hal hal dan pergaulan dengan anak anak didaycare. Terlepas itu hal baik dan buruk. Anak anak adalah penerima contoh dan peng adop contoh yang sangat baik dalam sebuah komunitas.

Sehingga jauh jauh hari sebelum anak dimasukkan ke daycare, orangtua diharuskan menimbang kembali keputusannya memasukkan anaknya ke daycare. Karena pada dasarnya daycare hanyalah mitra orangtua untuk memberikan pengasuhan sementara ketika anak anak tidak berada dalam pengawasan orangtua.

Jadi yang harus diingat oleh orangtua ketika anak anak akan dititipkan ke daycare adalah;

  1. kesiapan orangtua melepas anaknya
  2. kesiapan anak meninggalkan kenyamanan sementara
  3. kesiapan anak untuk tinggal lebih lama dengan nyaman di suatu tempat.

Mengapa begitu ? ketika orangtua tidak siap, artinya setengah hati melepaskan anak anaknya, maka anak anak akan merasa tidak nyaman dan merasa gelisah. Anak anak harus diberikan pemahaman sebelum ke daycare, bahwa ayah dan ibu tidak berada didekatnya untuk waktu waktu tertentu. Sehingga anak harus berada di daycare. Pemahaman itu harus disampaikan ke anak agar anak menyadari dan tidak merasa ditinggalkan atau dibohongi oleh orangtuanya ketika sang anak berada di daycare.

begitulah.. siap atau tidak siap, orangtua juga harus andil dalam kesiapan anaknya ketika harus masuk ke daycare.

Advertisements
0

Kemandirian anak usia 0 – 12 bulan

Di daycare, anak anak berlatih mandiri. Tidak menangis ketika ditinggalkan dan gembira bermain. Untuk usia 0 – 12 bulan, beberapa anak awalnya akan tantrum ketika ditinggalkan, menangis keras karena sudah terbiasa menangis sebagai senjata. dan itu akan berlangsung beberapa hari tergantung kesiapan si anak untuk beradaptasi. Pada bayi menjadi lebih mudah beradaptasi jika dalam keadaan perut kenyang, merasa aman dan ada teman bermain.

Melatihkan kemandirian tidak serta merta sehari dua hari selesai, namun membutuhkan banyak proses panjang. Salah satunya adalah mensugesti anak untuk merasa nyaman ditempat baru. Memainkan mimik baik baik saja ketika meninggalkan anak. sehingga anak merasa aman. Melatihkan kemandirian ke anak anak harus dengan sabar dan tidak emosional. Karena biasanya anak aakan menangis keras, kemudian akan muntah, pura pura batuk batuk atau bahkan mengompol jika tidak menggunakan diapers.

 

0

Keterlambatan Bicara / Speech Delay (2)

Pada pembahasan yang kemarin sudah dibahas penyebab penyebab speech delay. Kali ini dibahas solusi dan tips mengatasi speech delay yang mungkin ada dan terdapat di dekat kita.

  1. Memberikan therapy okupasi intinya adalah melibatkan anak dalam aktivitas tertentu (bermain) yang sebenarnya memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, kemandirian, dan interaksinya dengan lingkungan (interaksi sosial) dengan cara merangsang anak agar berlatih untuk melihat/memperhatikan, mendengar dan meniru. Dengan memberikan perintahah sederhana dan intonansi suara yang jelas. Mengasah konsentrasi dnegan kegiatan kegiatan yang disukai anak, mewarnai, menggunting, menempel, menjahit memasukkan biji ke dalam botol dll. Memainkan mencari harta karun.
  2. Memberikan therapy bicara yaitu mengajarkan anak untuk berbicara dan berinteraksi dengan teman sebaya dan lingkungan terkecilnya. Therapy bicara bisa dilakukan sejak bayi baru lahir. Karena mendengar sesuatu adalah proses pertama kali bayi belajar bicara, merespon bubbling yang dilakukan bayi.Kemudian perbanyaklah bicara dengan anak tentang apa saja (bukan mengomel) bercerita dan bernyanyi. karena terbukti, bernyanyi merangsang anak untuk memahami dna menambah kosa katanya secara perlahan sambil mendengarkan. Melatih otot mulut dengan cara belajar meniup, bersiul dan menggumamkan lagu. Gunakan bahasa tubuh untuk menjelaskan sesuatu dengan sederhana kepada anak anak.Rancangla aktifitas bersama dengan anak, misalnya berjalan ke kebun dan melihat sekeliling, katakan tentang apa yang dilihat. Ketika ada kupu kupu katakan dadah kupu kupu. Sambil menggerakkan tangan dst.

Demikianlah sedikit tips dan solusi untuk speech delay/ keterlambatan bicara pada anak. semoga bermanfaat

“**ety prasetya**”

 

 

0

Toilet Training ala Luna

Luna anakku, tanggal 17 Juli 2016 lalu usianya tepat 3 tahun. Mengingat Luna, itu juga mengingatkan toilet training yang pernah dijalani. Karena Luna satu satunya anak perempuan di rumah dan pasti berbeda perlakuan juga dalam memberikan toilet training. Kedua kakaknya laki laki sepertinya mudah sekali memberikan toilet training kepada mereka. Yang pada dasarnya toilet training adalah hal yang bisa dan biasa dilakukan.

Kenapa membahas toilet training? iya, karena beberapa waktu lalu setiap anak yang dititipkan hampir pasti dititip pesan oleh orangtuanya agar anaknya  di toilet training sekalian. Karena kesibukan dan mereka juga nggak sempat mengajari toilet training dirumah.

Masa transisi dari popok ke toilet memang adalah lompatan besar buat balita. Tak terkecuali Luna anakku. Juga merupakan perubahan psikologis yang signifikan pada balita, menandai kemerdekaan baru dan pergeseran hubungan dengan aku ibunya. Toilet training membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran tidak seperti hal yang lainnya. Dan balitaku si  Luna nunanune panggilan sayang untuknya aku yakin pasti bisa melaluinya.

  1. Memastikan balita dan orangtua siap menjalani program toilet training. Umumnya balita bisa diajak toilet training pada usia di atas 18 bulan. Hal itu ditandai dengan kesiapan emosi, fisik, psikologis dan bisa komunikasi di rentang usia rata rata antaranya sekitar 2-3 tahun walaupun setiap balita perkembangannya bisa berbeda beda. Tanda-tanda kesiapan anak untuk toilet training antara lain, dapat duduk tegak, bisa kering dalam 2-3 jam, dapat membuka-memakai celana, bisa memahami instruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya. Sementara orangtua juga harus siap untuk menyediakan waktu lebih untuk berbincang dan menyemangati balita bertoilet training.
  2. Membiasakan untuk pipis dan BAB di kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia pipis dan buang air besar (BAB) pada tempatnya ditoilet atau potty chair. Biarkan ia memilih agar ia suka menggunakannya.  Perlihatkan ketika Anda membuang dan mem-flush atau menyiram kotorannya dari popok di kloset. Ajaklah anak anda ketika anda menggunakan toilet supaya ia makin paham perlunya toilet. Ceritakan secara sederhana cara pipis dan bab serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng tentang pispot, dan belikan ia celana dalam seperti layaknya anak sudah besar.
  3. Mengatur jadwal. Mengatur jadwal ke kamar mandi, berhubungan dengan pengaturan asupan cairan dan makanan ke tubuh balita.perhatikanlah dan amati jadwal siklus pipis dan buang air besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 7 pagi dan pipis 2 atau 3 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat.
  4. Konsisten. Pastikan pula pengasuh anak mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang sudah  diterapkan sehingga tidak terjadi kebingungan. Berikan penjelasan dan informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis balita. Konsisten membimbing balita akan membuat para balita cepat mengerti dan memahami serta semakin terampil memakai toilet.
  5. Menggunakan cara yang seru. Kembangkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda bisa membuat papan untuk menempelkan sticker bintang jika balita anda berhasil memakai pispot/kloset dengan benar. Supaya ia lebih bersemangat dan gembira melakukan toilet training.
  6. Memberikan pujian. Berikan pujian bila ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar. Jadikan hal toilet training sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi sesuatu, misal mengompol. Hindarilah untuk menghukumnya, katakan saja Anda tidak suka. Karena jika menghukumnya dengan menampakkan wajah marah dan kecewa anda hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.
  7. Komitmen, telaten, dan sabar. Tips yang terakhir ini khusus untuk para ibu dan pengasuh yang terlibat di dalam kegiatan toilet training. Toilet training adalah belajar disiplin. Maka, kita yang mengajarkannya pun harus disiplin. Begitu kita mantap inilah saatnya mengajarkan anak toilet training, maka semenjak itu jangan pernah terputus, selalu telaten, dan rutin setiap waktu. Karena, toilet training ini kita mengajarkan anak disiplin dengan pembiasaan. Begitu terbiasa, dia akan bisa. pernah suatu waktu, Luna udah terbiasa pipis di toilet. Nah karena sedang berjalan jalan di mall. Keliling, jadi lupa menanyakan rutinitas itu. Maka jadilah ia pipis dicelana. Hadeuh rasanya malu banget dan kesal. Karena nggak bawa celana ganti. untunglah di mall jadi bisa langsung beli celana. Gara-gara kelupaan jadi harus dibiasakan lagi, tidak sesulit dari awal sih, tapi menjengkelkan juga karena sudah merusak kebiasaan yang sudah mulai di usahakan nya. Kalau tidak salah, waktu toilet training sedang berjalan 1 bulanan. Setelah itu ya normal. Sekarang, setiap mau pipis atau bab Luna selalu bilang bahkan sudah belajar sendiri untuk membuka celana dan membersihkan diri.
0

Tips Parenting : Jangan Menjadikan Tangisan Anak Sebagai Senjata

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena beberapa yang sepele. Dan ternyata,  hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri sebagai orang tua / pengasuh yang terlibat dalam penanganan anak selama ditinggalkan oleh orangtua bekerja. Sikap orang tua / pengasuh yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

*************

Boy, berusia hampir 2 tahun, suka menangis menjerit-jerit ketika ia ditinggalkan oleh orangtua / pengasuhnya di daycare hari ini. ia menangis, berteriak berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan balita ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Boy begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam, akhirnya untuk meredakannya suka di gendong” ujar mbak Parti pengasuhnya. Tapi sampai berapa lama kita mneggendong anak dan membiarkannya tidak mandiri ? Dan mengelola emosinya..?

Apa yang dialami mbak Parti tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua sebaiknya merespon tangisan anak secara positif dan belajar memahami mengapa anak menangis. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Secara alami, tangisan anak bisa sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “memberi tanda” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Beberapa psikolog anak, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Boy tadi.

Diperlukan Banyak Kesabaran

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia  antara 2 – 4 tahun. Di usia tersebut keinginan anak sudah makin bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun sebagai pengingat bagi orangtua agar bersiap dan punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Menangani tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Mengajak Anak Berbicara

Setelah berusia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut beberapa psikolog anak,  ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya.

  1. Pertama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas.
  2. Lalu setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Adik ingin apa..? bilang ke ibu ya. Tidak menangis,” misalnya. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Karena pada dasarnya anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Beberapa buku psikologi anak mengajarkan bahwa anak sudah bisa diajak berkomunikasi sejak dini. Bahkan beberapa terapis telah mengajarkan kepada orangtua baru untuk mengajak anaknya bicara sejak bayi. Anak sudah bisa menangkap bahasa kita hanya organ bicaranya saja yang belum matang.

Dan ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. Misalnya, maaf adik, hari ini mama sudah mulai bekerja, jadi adik sementara bersekolah di baby daycare ya. Sampai mama kembali. Jika sesampainya di daycare anak tetap menangis maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Kemudian ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, dan orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji maka penuhilah janji tersebut.

Untuk anak yang lebih besar, metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak jalan jalan misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut. Dan beberapa hal diingatkan juga kepada orangtua selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Mengenali Makna Tangisan Anak

Beberapa anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut beberapa pakar psikologi anak, itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua sebaiknya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. Membiarkan saja anak menangis sambil guling-gulingan, karena anak juga perlu melepaskan emosinya.  Lama kelamaan akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. Kuncinya adalah orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus.

Menegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Beberapa pakar psikologi anak mengatakan; bahwa salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, ketika orangtuanya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu pujilah anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. Terimakasih sudah itdak mengangis hari ini. Terimakasih sudah berusaha menahan tangismu.

Demikian semoga bermanfaat bagi beberapa orangtua.

0

Dampak kekerasan pada anak dan solusinya

Andi bukan nama sebenarnya usia 3 tahun, dikenalkan pada saya beberapa waktu lalu. Orangtuanya, ayah bekerja di sebuah BUMN dijakarta dan bundanya adalah seorang psikolog di sebuah perusahaan swasta yang bertempat di jakarta juga. Mereka berangkat bekerja dari subuh supaya tidak terkena macet ditol. Dan kembali ke rumah setelah pukul 7 malam. Andi adalah anak tunggal sementara ini. Ditinggalkan bekerja oleh kedua orangtuanya pada assisten rumah tangga. Sejak kecil ia ditemani assisten rumah tangga yang beberapa kali juga berganti. Pertama dikenalkan, yang terlihat adalah; Anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Selalu bermain dan fokus satu hal. Tidak pernah beranjak dari tempatnya duduk. Disapa pun ia hanya menatap sekilas lalu menunduk dengan gaya asyik bermain mainan ditangannya. Ketika diminta bergeser ia hanya beringsut sedikit dan tidak mengubah pola duduknya dari awal.

Obrolan dengan kedua orangtuanya mengalir dengan lancar. Ayah bundanya adalah orang yang terbuka. Mereka memberikan keterangan bahwa anaknya tidak pernah lagi terbuka kepada mereka. Bercerita apa saja. Bahkan cenderung menjadi ketakutan ketika bertemu orang asing atau kerumunan orang. Padahal masih menurut cerita kedua orangtuanya, dulunya ia adalah anak yang ceria, selalu aktif dan berlarian kesana kemari. Membongkar mobilan, berbicara dan cerewet. Tiba tiba saja semua hilang hanya dalam waktu beberapa bulan saja sejak ada pengasuh baru dirumah mereka. Diakhir cerita, kedua orangtua tidak sengaja memergoki anaknya menjadi peminta minta bersama pengasuhnya dijalan dekat mall tidak jauh dari kompleks perumahannya. Hari itu juga sang pengasuh dipanggil dan dikeluarkan. Lalu bagaimana dengan sang anak..?

Sang anak diantar ke tempat saya dan bundanya bercerita panjang. Singkatnya, sang bunda setuju anaknya di daycare  sementara saya mengobservasinya. Hari pertama, anak hanya diam saja. Hanya duduk dan memainkan mobil mobilan kecil. Posisi duduknya simpoh saja. Bila ditanya diam, disentuhpun mengelak. Tidak mau menjawab apapun. ketika diajak bergeser, ia hanya bergeser beberapa jengkal saja dengan posisi duduk yang tidak berubah. Ketika dimandikan menangis ia diam saja. hari itu berlalu dengan beberapa pertanyaan dalam hati saya. setelah mandi saya memperhatikan kulitnya yang kusam, hitam tidak seperti dasar kulitnya anak anak.

Esoknya ia diantar pagi, ketika ayah yang mengantar pergi, ia meangis sebentar lalu tenang kembali. Siang ia tetap bermain seperti hari kemarin. memainkan mobilnya dan akhirnya berbicara sedikit. Ada beberapa hal yang kami ketahui, ia sering diajak ajalan jalan. Entah kemana. Siang itu tiba tiba ia mau buang air besar, dibawa ke toilet, ia puup dengan kotoran yang keras dan mungkin kesakitan. Ia menangis sekeras kerasnya. Saya gendong dan meenangkannya. setelah beberapa lama ia kelelahan karena menangis. Dan tertidur. Agak lama. Saya merasa ia pernah mengalami kekerasan yang tiada tara. Kekerasan baik verbal maupun non verbal sang anak menjadi trauma baik fisik maupun mental.

Kekerasan pada anak memang akan menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan. Inilah trauma jangka panjang pada anak anak korban kekerasan yang sedapat mungkin bisa dicegah.

  • Agresif. Sikap ini biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Umumnya ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat orang yang dianggap bisa melindunginya itu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Peringatan : Tidak semua sikap agresif anak muncul karena telah mengalami tindak kekerasan.
  • Murung atau depresi. Kekerasan mampu membuat anak berubah drastis, seperti menjadi anak yang memiliki gangguan tidur dan makan, bahkan bisa disertai dengan penurunan berat badan. Anak juga bisa  menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Ia menjadi anak pemurung, pendiam dan terlihat kurang ekspresif.
  • Mudah menangis. Sikap ini ditunjukkan karena anak merasa tidak aman dengan lingkungannya. Karena ia kehilangan figur yang bisa melindunginya. Kemungkinan besar, anak menjadi sulit percaya dengan orang lain.
  • Melakukan tindak kekerasan pada orang lain. Semua ini anak dapat karena ia melihat bagaimana orang dewasa memperlakukannya dulu. Ia belajar dari pengalamnnya kemudian bereaksi sesuai yang ia pelajari.
  • Secara kognitif anak bisa mengalami penurunan.  Akibat dari penekanan kekerasan psikologisnya atau bila anak mengalami kekerasan fisik yang mengenai bagian kepala, hal ini malah bisa mengganggu fungsi otaknya.
Dari kasus diatas, dapat dikatakan bahwa anak-anak lebih rentan mengalami trauma, karena secara psikologis anak-anak belum siap menghadapi suatu peristiwa seperti orang dewasa. Banyak faktor yang menyebabkan trauma pada anak. Mulai dari terus menerus diejek teman sebaya, pertengkaran orangtua, mengalami kekerasan, dan sebagainya.
Trauma adalah emosi ekstrem atau gangguan stres yang timbul karena adanya kejadian yang luar biasa dan membuat anak mengalami tekanan. Sebagai orang tua, Anda juga harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak Anda, karena dampaknya dapat berbeda-beda.
Menurut beberapa pakar, trauma yang terjadi pada anak dapat lebih cepat diredam jika anak Anda adalah seseorang yang ekstrovert, ceria, dan cerdas. Namun, Anda juga tidak perlu terlalu khawatir karena trauma pada anak umumnya dapat dihilangkan dengan melakukan beberapa cara, seperti berikut ini:
1. Memberikan rasa aman dan nyaman
Cara paling mudah untuk menghilangkan trauma pada anak adalah dengan memberi anak Anda rasa aman dan nyaman. Anda dapat memeluk, memberi kehangatan untuk anak, dan terus meyakinkan anak Anda bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik-baik saja. Teruslah memberikan rasa nyaman kepada si kecil, karena dengan begitu secara perlahan trauma yang dialami anak Anda akan menghilang.
2. Dukungan orangtua
Memberikan dukungan serta motivasi kepada anak sangatlah penting untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma. Anda pun sebaiknya terus dapat menemani anak Anda selama masa penyembuhan. Salah satu caranya yaitu dengan meluangkan waktu dan terus mengajak anak Anda berkomunikasi dari hati ke hati.
3. Jangan menyalahkan anak
Saat anak Anda sedang mengalami trauma, disarankan kepada Anda untuk tidak memberikan komentar yang menyudutkan atau menyalahkan anak. Karena hal tersebut justru akan membuat trauma anak Anda semakin bertambah parah.
4. Memberi hal yang disenangi anak
Beberapa ahli menunjukkan bahwa salah satu cara untuk menghilangkan rasa trauma pada anak adalah dengan memberikan hal yang ia senangi, seperti mainan atau buku kesukaannya. Hal ini dinilai mampu memancing rasa senang anak.
5. Melakukan hipnoterapi
Hipnoterapi memang selalu diidentikkan dengan hipnotis yang membuat seseorang tidak sadarkan diri. Sikap tidak sadarkan diri itu membuat seseorang tersugesti dan mau melakukan apapun yang diperintahkan, salah satunya yaitu untuk menghilangkan trauma. Anda dapat melakukan hipnoterapi pada saat anak dalam kondisi mengantuk dan sudah akan tertidur. Berikan kata-kata positif saat memberikan sugesti pada anak dan perlu diingat bahwa jangan pernah menggunakan kata “tidak” pada saat memberikan sugesti.

 

***dari berbagai sumber

0

Anak anak yang Lapar Perhatian

Ayah dan Ibu, pernahkah kita melihat anak anak yang selalu diam ketika ditanya. Selalu menggeleng ketika disapa, tidak mau apa apa. Atau yang lebih ekstrim, jahil kepada teman lain atau istilahnya nakal berat selalu usil dan bergerak semaunya ?  Pada saat itulah anak mengirimkan sinyal yang harus kita tangkap. Karena bisa jadi itu adalah sinyal bahwa anak sedang lapar perhatian. Kelaparan adalah kata yang umum menggambarkan kekurangan dan kebutuhan manusia akan sesuatu. Demikian juga anak anak, lapar perhatian adalah ketika anak anak dengan tingkah lakunya atau bahkan dengan kediamannya membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Beberapa anak anak tertentu memang mampu mengungkapkan keinginannya, dan ada juga yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Sehingga cara satu satunya adalah dengan menunjukkan lewat tingkah laku. Atau juga dengan kediaman dan kebisuan untuk menunjukkan bahwa ia membutuhkan perhatian lebih dari orangtuanya.

Bagaimanakah menghadapi anak anak yang lapar perhatian ini ?

Kebanyakan orangtua yang datang kepada saya, bingung dengan anaknya yang tadinya cerewet jadi tiba tiba emoh bicara. Atau anaknya yang selalu kreatif membuat banyak hal tiba tiba terdiam dan sering menyendiri duduk di pojok ruangan tanpa melakukan apapun. Bahkan ada anak anak yang tidak mau melakukan apa apa namun begitu bertemu orangtuanya menangis tidak mau ditinggal.

Pertama tama yang harus dilakukan orangtua adalah ;

  1. Introspeksi diri sendiri terlebih dahulu, apakah anak anak sudah disapa hari ini, diberikan pelukan atau bahkan hanya sekedar mencium pipinya ketika berangkat kerja sebagai bentuk perhatian.
  2. Apakah orang sekeliling ; seperti assiten rumah tangga, atau mungkin anak ditinggal dengan kakek neneknya sudah memperhatikan anak dengan seksama. hal itu bisa dilihat dari tingkah laku anak ketika bertemu dengan kita orangtuanya. Anak akan bercerita tanpa disuruh tentang apa yang dilaluinya hari ini. Bahkan dalam igauan malam sekalipun.
  3. Biasakanlah memeluk anak sebelum ditinggal bekerja dan katakan bahwa kita akan pergi untuk bekerja, lalu peluk kembali ketika kembali dari bekerja. Katakan bahwa kita sudah kembali dan ada disisinya.
  4. Tanyakanlah pada anak hal hal yang dia sukai hari ini, maka cerita yang lain akan mengalir tanpa diminta. Bahkan hal hal yang tidak menyenangkan pun akan mengalir.
  5. Sikapi cerita anak dengan memposisikan diri kita sebagai anak anak. Lalu pahami.
  6. Mencari solusi untuk menuntaskan kelaparan perhatian nya dengan memberikan perhatian pada hasil observasi ke anak diatas. Untuk usia balita ; Misalnya dengan memangku dan saling bercerita kegiatan hari ini, untuk anak yang lebih kecil biasanya dengan memberikan pelukan kepada anak sambil mengatakan bahwa kita berterimakasih atas kebaikannya bercerita hari ini. Dan meminta maaf karena kita tidak punya waktu untuk menemaninya sepanjang waktu karena bekerja.
  7. Yang terakhir, pastikan kita tetap memantau anak anak kita. Misalnya dengan sesekali menelpone ke rumah. Berbicara sekedar “say hello” ke anak untuk menunjukkan perhatian kita kepadanya.

Ayah dan Ibu, perhatian, walau sedikit akan membantu anak dalam perkembangannya. Ia akan menjadi anak yang mandiri atau menjadi anak yang pemalu justru dengan perhatian dan dengan kasih sayang yang sudah kita berikan.