0

Keterlambatan Bicara Speech Delay (1)

Masih diseputaran daycare. Sering ditemukan anak anak yang masih sulit untuk berbicara atau berkomunikasi. Dna umumnya usianya masih disekitaran 15 bulan hingga 4 tahun. Mereka mengalami keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara atau speech delay adalah keterlambatan kemampuan berbicara yang terjadi pada anak-anak. Gangguan ini sering ditemui pada zaman sekarang oleh para orang tua pada anak mereka. Ini terjadi kerena kesibukan orang tua yang padat sehingga mereka lupa untuk banyak melakukan stimulasi berbicara kepada anaknya.

Semakin hari, gangguan speech delay ini tampak semakin berkembang pesat. Bahkan menurut beberapa laporan dari catatan kesehatan masyarakat menunjukan bahwa tingkat terjadinya keterlambatan bicara melonjak sekitar 5-10%. Tidak ada salahnya jika Anda sebagai orang tua untuk memberikan perhatian yang berlebih terhadap perkembangan bicara anak.

Karena dengan semakin dini, Anda dapat mendeteksi speech delay, maka akan semakin memudahkan Anda dalam mengatasi keterlambatan bicara pada anak. Bahkan sangat disarankan kepada Anda untuk memeriksakannya kepada dokter anak jika tidak mampu mendeteksinya sendiri.

Beberapa tanda dan gejala speech delay pada anak

Untuk mendeteksi speech delay pada anak secara cepat, maka kita perlu mengetahui apa saja tanda dan gejala speech delay pada anak. Ciri bicara terlambat pada anak bisa kita lihat sesuai dengan perkembangan usianya. Simak saja tanda dan gejala speech delay atau keterlambatan bicara pada anak dibawah ini.

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 1 tahun

  • Menggunakan bahasa tubuh seperti melambaikan tangan ‘dadah’ atau menunjuk objek tertentu
  • Berlatih menggunakan beberapa konsonan yang berbeda
  • Vokalisasi atau melakukan komunikasi

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 1 – 2 tahun

  • Tidak memanggil “papa” dan “mama”
  • Tidak menjawab bila disapa dengan “hallo”, “hai”
  • Tidak memiliki satu atau 3 kata pada usia 12 bulan dan 15 kata pada usia 18 bulan
  • Tidak mampu mengidentifikasi bagian tubuh
  • Kesulitan mengulang suara dan gerakan
  • Lebih memilih menunjukkan gerakan daripada berbicara verbal

Tanda dan gejala Speech Delay pada anak usia 2 – 5 tahun

  • Belum mampu menyampaikan kata-kata atau frase secara spontan
  • Belum mampu mengikuti petunjuk dan perintah sederhana
  • Kurang bunyi konsonan di awal atau akhir kata, seperti “obin” (mobil), “mbin” (ambil)
  • Tidak dipahami bicaranya oleh keluarga terdekat
  • Tak mampu untuk membentuk 2 atau 3 kalimat sederhana

Demikian beberapa gejala speech delay pada anak. Namun, apabila masih merasa ragu terhadap diagnosis sendiri, tidak ada salahnya mencoba untuk memeriksakannya kepada dokter yang lebih ahli.

Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak (Speech Delay)

Selain penyebab utama speech delay yaitu kurangnya rangsangan berbicara, ada banyak faktor penyebab lainnya. Beberapa diantaranya bahkan perlu diwaspadai, karena tanpa sadar sering dilakukan oleh orang tua.Gangguan keterlambatan bicara adalah hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bicara pada anak-anak sering dihadapi pada ibu yang bekerja (Jacinta F.R. 2001). Penyebab dari keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :

  1. Hambatan pendengaran

Hambatan pada pendengaran berkaitan dengan hambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru, dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah adanya infeksi telinga.

  1. Kelainan organ bicara.

Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf ”t”, ”n” dan ”l”. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti ”f”, ”v”, ”s”, ”z” dan ”th”. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti ”s”, ”k”, dan ”g”.

  1. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral motor

Keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan adanya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan dalam menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

  1. Masalah keturunan

Sejumlah fakta menunjukan bahwa pada beberapa kasus dimana seorang anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Gangguan tersebut timbul karena kelainan genetik yang menurun dari orang tua. Biasanya juga terjadi pada salah satu atau ke dua orang tua saat kecil. Menurut Mery GL anak yang lahir dengan kromosom 47 XXX terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah. sedangkan Bruce Beender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY mengalami kelainan bicara ekspresif dan reseptif lebih berat dibandingkan dengan kelainan kromosom 47 XXX.

  1. Autisme

Gangguan bicara dan bahasa yang berat dapat disebabkan oleh autisme. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

  1. Gangguan emosi dan perilaku

Gangguan bicara biasanya menyertai pada gangguan disfungsi otak minimal, gejala yang terjadi sangat minimal, sehingga tidak mudah untuk dikenali. Biasanya disertai kesulitan belajar, hiperaktif, tidak terampil dan gejala tersamar lainnya.

  1. Alergi makanan

Alergi makanan ternyata bisa juga mengganggu fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan, salah satunya adalah perkembangan bicara pada anak. Bila alergi makanan sebagai penyebab biasanya keterlambatan bicara terjadi pada usia di bawah 2 tahun, namun di atas usia 2 tahun anak akan tampak sangat pesat perkembangan bicaranya.

  1. Lingkungan yang tertutup

Dalam keadaan ini, anak tidak mendapat rangsangan yang cukup dari lingkungan. Bila anak yang kurang mendapat rangsangan tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan bicara yang berat dapat terjadi. Hal ini bukan karena deprivasi lingkungan semata, namun karena adanya kelainan saraf karena kurang gizi atau penelantaran anak.

  1. Pola pengasuhan dan komunikasi

Pola pengasuhan dan komunikasi serta interaksi dengan orang tua juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anaklah yang membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekalipun. Pada umumnya ibu yang bekerja mengajak anaknya bicara dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban yang sangat singkat. Selain ibu yang bekerja tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berkomunikasi, tanpa disadari kmunikasi dengan memberi umpan balik, merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan bahasa.

  1. Lingkungan yang sepi

Berbicara adalah bagian tingkah laku, jadi ketrampilan yang didapat melalui proses imitasi atau meniru. Bila stimulasi sejak awal kurang, maka obyek yang ditiru pun tidak ada sehingga dapat menghambat kemampuan bicara pada anak.

  1. Lingkungan yang tidak kondusif

Bicara biasanya digunakan orang-orang disekitar anak untuk mengekspresikan kemarahan, ketegangan, kekacauan, dan ketidak senangan, sehingga anak akan menghindar untuk berbicara lebih banyak untuk menjauhi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut.

  1. Bilingual (2 bahasa)

Pemakaian 2 bahasa biasanya juga menjadi penyebab keterlambatan bicara, namun keadaan ini tiak terlalu mengkhawatirkan. Umumnya anak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kelompok anak bilingual tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa, kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi.

  1. Audio Visual / Televisi

Sejauh ini, kebanyakan menonton televisi pada anak usia balita (usia toddler) merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat menonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi, suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual ataupun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan atau orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terlambat perkembangannya.

 

0

POLA ASUH ANAK

Beberapa orangtua bekerja biasanya menyerahkan kepada asisten rumah tangga untuk menangani semua urusan rumah tangga ketika mereka pergi bekerja diluar rumah termasuk dalam hal mengasuh anak anak mereka. anak anak yang masih dalam lingkup usia emasnya menjadi anak “asisten” rumah tangga. dan pada umumnya asisten rumah tangga ; mereka menerapkan pola asuh yang bisa jadi tidak sesuai dengan usia anak. sehingga membuat prilaku anak menjadi berbeda dimata orangtuanya. pola asuh yang salah bisa menyebabkan anak menjadi takut terhadap lingkungan dan orangtuanya. membuat anak tidak percaya diri untuk mengungkapkan apapun yang dikehendaki dalam pemikirannya dan membuat anak menjadi pendiam. atau bahkan yang lebih ekstrim adalah, anak menjadi pemberontak, menjadi pemarah dan menjadi anak yang keras kepala karena pola asuh yang tidak pada tempatnya.

Umumnya anak anak, mereka akan meniru apa saja yang dikerjakan oleh orang orang disekitar mereka. mereka belajar dari lingkungannya. ketika lingkungan itu adalah lingkungan yang tidak aman, mereka jadi gampang menangis. gampang marah dan memukul teman yang lainnya ketika bersosialisasi.
.
Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte, tentang pola asuh anak :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

pola asuh yang diterapkan oleh setiap orang tua sudah pasti berbeda beda. dan pola asuh itu memiliki tujuan yang sama yaitu berharap anak menjadi cerdas, gembira dan sehat lahir bathin.
untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sudah pasti semua membutuhkan proses yang lama, dan hasil tidak bisa langsung terlihat. namun bisa diusahakan menjadi lebih baik.

Taman Penitipan Anak Little White Rabbits, bermisi membantu para orang tua bekerja untuk mengasuh, menjaga dan mendidik anak anak seperti orangtua mereka sendiri.

silahkan kunjungi kami :
Little White Rabbits Baby Daycare
buka Senin – Jumat pukul 07.30 s.d 17.00 wwib.
Keterangan lebih lanjut hubungi :
Ety Prasetya
telepone : 0251 – 8663121, 0813 8050 9948
wa/sms : 0856 1448 473, 0878 7058 6669